Potlot Adventure |
| Posted: 21 Mar 2010 07:13 PM PDT
Pernah berkunjung ke Ciamis? Satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat ini ternyata memiliki banyak obyek wisata alam yang bisa menjadi rekomendasi tepat bagi Anda yang senang berwisata alam. Terlebih lagi, jika Anda penikmat suasana pantai, nama Pantai Pangandaran tentunya masuk dalam daftar tujuan perjalanan wisata. Pantai Pangandaran merupakan salah satu daerah wisata yang diunggulkan pemerintah daerah setempat. Terletak di pesisir selatan Laut Jawa atau sekitar 92 km arah selatan Kota Ciamis, Pantai Pangandaran menjadi sebuah pantai yang nyaman untuk disinggahi. Deburan ombak yang tidak terlalu besar meluluhkan hamparan pasir putih hingga menyatu dengan air laut yang biru. Semilir angin laut pun menambah hangat suasana. Masih di sekitar kawasan Pantai Pangandaran, terdapat sebuah bukit seluas lebih dari 500 hektare yang membagi kawasan pantai menjadi dua, yaitu Pantai Barat dan Pantai Timur. Bukit tersebut kemudian dijadikan Taman Wisata Alam Pangandaran oleh Pemda, yang di dalamnya terdapat berbagai jenis flora dan fauna. Ada pula cagar alam laut seluas 470 hektare. Memasuki wilayah ini seperti berkunjung ke kebun binatang di tengah hutan, meskipun tidak banyak hewan yang hidup di hutan tersebut, sebut saja rusa, berbagai jenis kera, kelelawar, burung Kangkangreng Perut Putih dan di puncak bukit terdapat ladang yang masih ditempati hewan liar berjenis banteng. Selain itu, ada pula gua-gua alam dan gua buatan seperti Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, Gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya yang indah. Sinar matahari pagi masih terasa hangat menyentuh kulit tatkala rombongan Familirization Trip (famtrip) Pangandaran dari Depbudpar, menyusuri Desa Pananjung dengan menggunakan alat transportasi tradisional becak. Pantai Pangandaran terletak tidak jauh dari Desa Pananjung, Ciamis. Jarak yang dapat ditempuh dari desa menuju pantai berkisar tujuh kilometer. Kami pun diajak mengelilingi desa untuk melihat kehidupan masyarakat sekitar. Dari 12 ribu penduduk, empat ribu diantaranya hidup sebagai nelayan. Senyum ramah penduduk serta sapaan khas bocah-bocah Pangandaran selalu menemani kami yang sedang dalam perjalanan. Akrab, seperti itulah yang kami rasakan saat membaur bersama mereka. Persinggahan pertama, local guide membawa kami ke rumah penduduk yang memproduksi tempe. Makanan khas Indonesia ini dijual lumayan murah, seribu lima ratus rupiah untuk tempe berukuran besar dan lima ratus rupiah untuk ukuran kecil. Selesai melihat produksi tempe, perjalanan kami lanjutkan ke tempat pembuatan gula aren, yang juga dijadikan oleh-oleh khas Pangandaran. Gula yang berasal dari bunga kelapa atau orang setempat biasa menyebutnya manggar, dijual tujuh ribu rupiah sekilonya. Cukup murah, bukan? Beranjak dari tempat pembuatan gula, kami diajak melihat proses pembuatan kerupuk udang dengan bahan baku ikan layur. Rombongan becak pun beranjak pergi menyusuri Pantai Pangandaran. Di sini lah bencana tsunami itu terjadi. Ratusan nyawa penduduk hilang dan tidak ada yang tersisa satupun dari bangunan yang berdiri di sekitar pantai. Pandangan kami hanya tertuju pada hamparan hijau pohon kelapa dan rumput-rumput liar. Sangat menyedihkan tatkala keindahan Pantai Pangandaran dan sekitarnya hilang dalam sekejap mata karena dihantam tsunami pada 2006 silam. Kini, perlahan tapi pasti, geliat pariwisata di bumi pasundan itu mulai terlihat kemajuannya. Banyak pihak, mulai dari Pemda, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, hingga organisasi luar negeri, dan masyarakat saling bekerjasama demi mengembalikan citra Pantai Pangandaran sebagai daerah wisata. Bahkan, rencananya Pangandaran akan berdiri sendiri menjadi sebuah Kabupaten yang berpusat di Parigi. Berharap, Pangandaran segera pulih dari ’sakitnya’. Sumber: Majalah Travel Club |
| Dari Beksan Kridaning Kusumo sampai Jathilan Gaul Posted: 21 Mar 2010 07:03 PM PDT
Gempa berkekuatan 7,3 skala richter telah meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Bukan hanya memakan korban jiwa dan harta benda warganya, bencana alam ini pun ternyata telah berdampak terhadap sektor pariwisata propinsi yang dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono X ini. Pasca gempa, pemerintah propinsi segera melakukan pemulihan dan pembangunan kembali, termasuk bergiat membangkitkan sektor pariwisata yang menjadi andalannya. Berbagai upaya promosi pun kembali digelar. Tahun ini, Kota Yogyakarta memperingati harijadinya yang ke-262 tahun. Seiring itu kantor perwakilan Provinsi Yogyakarta di Jakarta kembali menggelar acara Gelar Seni Budaya Yogyakarta. Kegiatan ini telah di selenggarakan sejak tahun 2000. Lentik jemari dan gerak tubuh para penari yang amat lentur seakan menyihir para penonton yang terpukau menyaksikan pementasan tari Beksan Kridaning Kusumo, di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah. Alunan harmonisasi gamelan yang mengiringi, makin membius setiap penonton. Riuh decak kagum memuji keindahan gerak sarat makna itu. Itulah sekelumit gambaran suasana dalam acara pergelaran kesenian di acara Gelar Seni Budaya (GSB) Yogyakarta di TMII, 30 Oktober hingga 1 November 2009 lalu. Terik matahari yang menyengat seakan tak menghalangi para pengunjung untuk menikmati pergelaran hingga usai. GSB tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-9 kalinya. Pergelaran kesenian di mulai dengan kirab budaya yang menampilkan iring-iringan Manggoloyudo, Prajurit Keraton Yogyakarta, Prajurit Puro Pakualaman, Jathilan Gaul, dan rombongan kesenian empat kabupaten serta satu kota di propinsi Yogyakarta. Setelah pawai keliling TMII, acara dilanjutkan dengan berbagai pementasan tari. Setiap peserta berkesempatan menujukkan kerativitasnya dalam berkesenian. Pementasan dibuka dengan suguhan memukau Jathilan Gaul dari Kota Yogyakarta dengan busana yang menarik dan aksi yang atraktif. Setelah itu dilanjutkan Sendratari Dewi Sri Angreksa Bumi dari Kabupaten Bantul, Tari Incling Rengis dari Kabupaten Kulon Progo, Tari Topeng Poleng dari Kabupaten Sleman, Tari Jelantur dari Kabupaten Gunung Kidul, Batik Rengganing Busana dari Kota Yogyakarta, dan terakhir ditutup dengan Mbesem Songsong Mataram dari Dinas Kebudayaan Propinsi DI Yogyakarta. Salah satu daya tarik utama pariwisata Yogyakarta selama ini adalah seni dan budaya tradisionalnya yang adiluhung. “Kami harus mampu meningkatkan kualitas pertunjukan yang kami suguhkan. Juga harus terns berpromosi, karena tanpa promosi keluhuran dan keunikan seni dan budaya ini tak akan banyak di ketahui masyarakat,” kata Djoko Dwiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY. “Untuk kunjungan wisatawan, kami upqyakan untuk meningkatkan kualitas, ukuran keberhasilan dengan berpatok pada jumlah, itu paradigma lama. Perlu ditingkatkan kualitas pelayanan dan pengemasan paket wisata, termasuk pementasan seni dan budaya, sehingga mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama,” kata Djoko, memaparkan. Sikap positif pun di tunjukkan para pengunjung yang datang. Gelar Seni dan Budaya ini menjadi acara yang potensial untuk menjadi daya tarik bagi dunia pariwisata dan mengenalkan kepada masyarakat tentang seni dan budaya tradisional di Propinsi DIY. “Bagus sekali acara seperti ini, selain menjadi daya tarik wisata juga sebagai pengenalan kepada generasi muda tentang kesenian tradisonal khususnya dari Propinsi Yogyakarta,” kata Mia Nurfitriani, pengunjung asal Ciledug yang datang bersama keluarga. Hal senada juga diungkapkan Irwan Riyadi, pengunjung asal Kranggan. “Kegiatan bagus sekali, ditengah minimnya pertunjukan kesenian tradisional di Jakarta, dan terpenting adalah promosi agar masyarakat luas bisa lebih tahu pergelaran ni,” kata pria yang rutin menonton berbagai pertunjukan tradisional ini. Anda tertarik untuk menyaksikan, nantikan kehadiran GSBYogyakarta tahun depan. Sekali rengkuh, pelestarian seni dan budaya dapat makin ditingkatkan. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment