Wednesday, March 17, 2010

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Blitar Pesona Bung Karno

Posted: 16 Mar 2010 06:31 PM PDT

Pesona Bung Karno seolah tak habis-habisnya. Bukan hanya ketika masih hidup dan berkuasa, makamnya hingga kini pun masih terus ramai oleh warga masyarakat dari berbagai daerah yang berziarah. Bahkan, rumah keluarga yang kini dijadikan museum, pun tak pernah sepi pengunjung.

“Mak, ini kamarnya Mbah Karno, ya? Boleh masuk, Mak?” tanya seorang bocah berusia 7 tahunan kepada ibunya. “Iya, Le, kita boleh lihat tempat tidurnya Bung Karno. Dia presiden kita, Le, yang bikin Indonesia merdeka,” jawab sang ibu, warga desa dari pinggiran Blitar.

Minggu siang itu rumah kakak perempuan Bung Karno di Jalan Sultan Agung, Blitar, dikunjungi warga masyarakat silih berganti. Rumah itu dua tahun belakangan difungsikan sebagai museum, dan disebut Istana Gebang oleh Mbah Kancil alias Mbah Warno alias Ki Dalang Notocarito, sepupu Bung Karno yang pernah menjadi ajudan Bapak Bangsa itu. Orang lebih mengenalnya sebagai rumah Bu Wardoyo.

Setiap hari ada saja warga yang berkunjung ke rumah tua yang tak terlalu besar itu, yang bersebelahan dengan bangunan yang diarsiteki oleh Bung Karno sendiri. Walaupun sudah lebih dari 30 tahun Bung Karno wafat, masyarakat tetap ingin melihat kamar yang pernah dipakainya tidur, meja dan kursi yang digunakannya membaca dan menulis, bahkan untuk sekadar berfoto di depan lukisannya di ruang tamu.

Di halaman depan, beberapa penjual t-shirt bergambar Bung Karno menggelar dagangannya.

Dilengkapi museum

Kecintaan rakyat kepada Bung Karno makin terasa kalau kita berkunjung ke makam tokoh jenius yang flamboyan itu. Kaca pembatas ruang makam sudah lama dibongkar, sehingga terasa lebih enak duduk di samping makam. Pendopo makam itu juga dapat lebih banyak menampung peziarah secara lebih nyaman.

Setiap hari, sejak pagi hingga sore hari, makam yang sebetulnya berada di pemakaman umum itu ramai oleh peziarah. Kalau makam Jumat, atau bertepatan dengan hari lahir (weton) Bung Karno, makam itu selalu lebih ramai oleh peziarah. Apalagi bertepatan dengan hari-hari besar, ribuan orang memadati kompleks pemakaman itu.

Mereka datang dari beragam usia dan status. Permadi, SH, yang dikenal sebagai “penyambung lidah Bung Karno” hanyalah salah satu warga masyarakat yang rajin berkunjung ke sana. “Biasanya Pak Permadi datang ke makam pada malam hari,” ujar salah seorang penjaga makam.

Sebagai tempat ziarah, komplek makam Bung Karno telah dilengkapi dengan perpustakaan dan museum. Bahkan, halaman dan taman di sekitar makam telah ditata sedemikian rapi, bersih, dan indah.

Relief yang khas Bung Karno menghiasi satu sisi halaman, termasuk gambaran Bung Karno berdiri melambaikan tangan kepada rakyat dari dalam mobil terbuka. Sebuah patung besar Bung Karno duduk sambil membaca buku menjadi daya tarik ruang luar museum.

Di dalam museum kita bisa menyaksikan koleksi foto-foto Bung Karno dalam berbagai kesempatan dan bersama para tokoh dunia. Beberapa lukisan dan barang-barang pribadi peninggalan Bung Karno juga kita temukan di sana.

Gendar pecel & serba telo

Dalam perjalanan dari Surabaya, kita memerlukan waktu sekitar lima jam menggunakan mobil. Kalau dari Malang sekitar 2,5 jam. Seandainya tidak terbayang mau menginap di mana di kota Blitar, di sana ada hotel berbangunan tua bernama Sri Lestari, yang kini dikelola oleh jaringan Hotel Tugu yang dikenal jago menyajikan nuansa kuno. Sarapan gendar pecel di hotel itu luar biasa sedapnya.

Di tengah perjalanan antara Surabaya-Blitar, kita akan menjumpai toko oleh-oleh sangat besar (Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu) yang menjual makanan serba telo (ubi jalar) organik. Bukan hanya keripik, tetapi juga bakpia, bakpao, mi, bahkan es krim yang semuanya dari telo beragam jenis. Tepatnya ada di Jl. Raya Purwodadi No. 1 Kabupaten Pasuruan.

Tentu saja, di pinggir jalan di seberang kompleks makam Bung Karno, kita juga bisa menemukan berderet kios yang menyediakan aneka suvenir dan t-shirt bergambar Bung Karno. Sangat menarik untuk kenang-kenangan.

Ziarah, yuk?

Sumber: Senior

Siswa Belajar Batik Tulis Klasik Kontemporer

Posted: 16 Mar 2010 06:24 PM PDT

Diakuinya batik sebagai warisan kekayaan dunia asal Indonesia oleh Badan Dunia untuk Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan atau Unesco, menumbuhkan minat para siswa diberbagai daerah untuk melestarikan batik.

Di Bondowoso, Jawa Timur, para siswa sekolah menengah kini serius menekuni batik tulis klasik dan kontemporer. Mereka juga diajar untuk meningkatkan kepekaan terhadap permintaan pasar.

Diantara perajin batik di Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Bondowoso ini terdapat puluhan siswa yang berlajar membatik. Sebagian siswa yang berasal dari sekolah kejuruan ini belajar membatik karena faktor tugas dari sekolah.

Namun tidak banyak dari mereka yang belajar membatik ini, memang menjadi pilihan hidupnya. Karena itu dalam proses belajar ini, terlihat mereka amat tekun dan cermat memperhatikan goresan demi goresan, drafting dan pola gambar yang ditorehkan di kain batik.

Mereka mengaku menyukai membatik karena ingin melanjutkan tradisi membatik, agar tidak punah. Selain teknik membatik mengambar, colet dan lorot, siswa juga memperoleh tambahan pengalaman mengasah kemampuan membuat motif batik tulis klasik kontemporer dari pembatiknya Yuke Yuliantarius.

Menurut Yuli, batik motif jenis ini memiliki pangsa pasar tersendiri. Yuke berharap kegiatan seperti ini mampu menjadi jembatan teori dan praktek membatik bagi siswa. Dengan demikian, saat siswa nanti terjun ke masyarakat, telah memiliki modal untuk berkarya.

Sumber: Indosiar.com

Ritual Penyucian Gamelan Sekati

Posted: 16 Mar 2010 06:14 PM PDT

Menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, berbagai rangkaian prosesi ritual di gelar di Keraton Kanoman Cirebon. Salah satunya adalah, ritual penyucian gamelan sekati yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati.

Prosesi ini digelar di langgar Keraton Kanoman Cirebon. Perangkat gamelan beserta gong sekati, yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati, dibawa satu persatu untuk dicuci.

Proses pencucian dilakukan dengan hati-hati, mengingat perangkat gamelan ini sudah berusia ratusan tahun.

Gong sekati sendiri bahkan dalam kondisi tidak utuh lagi, dan diikat dengan tali ijuk.
Usai dicuci dengan air kembang, gamelan kembali dibersihkan dengan menggunakan sabut kelapa hingga mengkilat.

Para pencuci sendiri merupakan nayagagong sekati, dan telah berpuasa seminggu sebelumnya.

Konon, gamelan ini dipakai Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam, di wilayah Cirebon. Gamelan dipakai sebagai penarik minat masyarakat, yang saat itu kebanyakan masih menganut agama Hindu dan animisme.

Hingga kini pun, masih banyak warga yang menganggap gamelan ini sebagai pusaka bertuah. Ratusan warga bahkan berebut air bekas cucian yang dianggap mengandung berkah, dan bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Menurut Pemangku Rumah Tangga Keraton Kanoman, Pangeran Rochim, prosesi pencucian ini, merupakan salah satu rangkaian menjelang puncak Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pencucian gamelan juga merupakan simbol penyucian diri, untuk menghilangkan segala kotoran dosa.

Usai dicuci, gamelan akan ditabuh sehari kemudian. Penabuhan gamelan dilakukan hingga tanggal 12 Rabiul Awal, yang merupakan puncak perayaan Maulid, yang juga hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Sumber: Indosiar.com

0 comments: