Tuesday, September 13, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Berapa Jumlah Pulau di Indonesia?

Posted: 12 Sep 2011 03:44 PM PDT

Berapa jumlah pulau di Indonesia?. Sebuah pertanyaan yang sempat membuat teman guru saya kebingungan saat salah satu muridnya menanyakan kepastian jumlah pulau yang dimiliki Indonesia. Kebingungan akan jumlah pulau di Indonesia ini pernah saya posting di bulan September 2009 silam. … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Sunday, September 11, 2011

Aku Ingin Hijau

Aku Ingin Hijau


Dunia tanpa nyamuk? Apa ada yang kehilangan?

Posted: 09 Sep 2011 07:51 PM PDT

Beberapa minggu ini nyamuk terasa semakin banyak. Hal ini dirasakan orang dengan mengirim tweet hingga dibahas di radio dimana semakin banyak orang merasakan nyamuk yang semakin banyak di rumah atau kantor.

Yang ditakutkan adalah bila nyamuk tersebut menjadi sumber dari berbagai penyakit termasuk demam berdarah dan malaria yang walaupun ada obatnya, bisa menjadi pembunuh dan kalau masuk rumah sakit pun perlu biaya kesehatan yang tidak sedikit. Malaria menginfeksi 247 juta orang per tahun dan membunuh 1 juta orang per tahun, selain juga menyebarkan penyakit lainnya.

Dalam tulisannya di majalah Nature, Janet Fang menjelaskan bahwa dunia tanpa nyamuk tidak akan merugikan. Memang dijelaskan juga bahwa nyamuk adalah makanan untuk banyak spesies lainnya dan juga penting sebagai pembantu pengembangbiak bunga pohon (polinator seperti lalat dan lebah). Tetapi kerugian biaya kesehatan bagi manusia juga sangat tinggi dan mengganggu. Bayangkan bila sedang seru nonton bola di TV, tetapi harus kejar-kejaran dengan nyamuk pakai raket nyamuk, sudah tidak kena, ada gol tidak lihat.

Oleh karena itu, menurut saya pembasmian nyamuk sangat diperlukan dan perlu upaya serius dari semua orang. Jangan pakai alasan “nyamuk juga mau hidup, kasian lah…” karena 1 nyamuk itu bisa berkembangbiak menjadi banyak dan menyebarkan banyak penyakit, parasit dan virus.

Beberapa tindakan pencegahan adalah menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah, dan perbaikan desain rumah. (dari wikipedia indonesia). Maksudnya perbaikan desain rumah itu bisa mulai dari memasang kawat nyamuk dirumah, pintu dari teras ke dalam rumah sehingga dalam rumah bisa tertutup rapat semua, dll. Selain itu juga perawatan talang atap rumah yang sering kali penuh dengan daun kering sehingga bisa ada genangan juga perlu dilakukan berkala. Dan juga tempat berisi air bersih lainnya yang kerap tidak disadari seperti penampungan tetesan air pada dispenser air minum. Kadang tetesan air tersebut tanpa disadari sudah cukup banyak dan bisa terdapat jentik juga.

Bubuk abate yang kita bisa dapatkan dibanyak tempat termasuk Ace Hardware atau supermarket lainnya juga diperlukan untuk ke penampungan air di lingkungan kita.

Fogging yang dilakukan di lingkungan perlu diperhatikan dan dilaporkan ke RT/RW setempat bila sudah lama tidak dilakukan. Kalau perlu para warga pun bersedia bersama-sama membiayai fogging di lingkungannya agar bisa lebih sering daripada program RT/RW yang karena keterbatasan dana bisa jarang-jarang ada.

Ruangan dalam rumah juga perlu di semprot obat nyamuk setiap hari setidaknya pagi dan sore sehingga dapat menekan populasi nyamuk dalam rumah.

Selain itu, gunakan juga perangkap nyamuk, bisa yang dengan lampu dan penyengat listrik, atau yang semacam Black Hole dimana bebauan, lampu UV dan kipas tersebut akan memancing nyamuk untuk masuk ke dalam perangkap hingga mati sendiri. Perangkap ini dibutuhkan untuk diluar rumah. Perangkap jenis ini banyak sekali dijual di Carefour, Mitra10, Ace Hardware, dll.

Untuk pertahanan terakhir, kita tetap perlu raket penangkap nyamuk, dan untuk anak-anak dan bayi bisa berupa lotion anti-nyamuk dan stiker tempelan anti nyamuk yang bisa didapatkan di apotik-apotik tertentu seperti Watsons di Kelapa Gading.

Inilah waktunya untuk menyerang nyamuk bersama-sama tanpa ampun.

Referensi:


Filed under: Lingkungan Kerja, Lingkungan Rumah, Manifesto Hijau Tagged: Nyamuk

Aku Ingin Hijau Selanjutnya...

Friday, September 9, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Daftar Flora Endemik Indonesia

Posted: 09 Sep 2011 11:04 PM PDT

Daftar flora endemik Indonesia ini merupakan lanjutan dari artikel daftar tumbuhan endemik Indonesia yang telah saya tulis beberapa waktu yang lalu. Dalam daftar flora endemik Indonesia kali ini berisi aneka aneka tumbuhan merupakan tumbuhan asli Indonesia yang hanya bisa ditemukan … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Thursday, September 8, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Perbedaan Rusa dan Kijang

Posted: 08 Sep 2011 06:52 AM PDT

Perbedaan rusa dengan kijang apa, ya?. Apakah antara rusa dan kijang ada bedanya?. Ataukah tidak berbeda karena baik kijang maupun rusa merupakan hewan yang sama hanya beda nama dan penyebutannya saja. Perbedaan antara rusa dengan kijang ini pernah ditanyakan oleh … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Masjid Baiturrahman dan Makam Bertuliskan Ayat Al Quran

Posted: 08 Sep 2011 02:50 AM PDT

Destinasi wisata religi dalam Jelajah Utama kali ini berakhir di Aceh. Sebagai pusat dari segala pusatnya penyebaran Islam di Nusantara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mempunyai nilai historis budaya dan religius yang sangat kuat dan harus menjadi perhatian semua pihak.

Sebagaimana dalam sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang posisinya terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kini dalam sekitaran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara.

Pada awalnya kerajaan Samudera Pasai terdiri atas dua daerah, yaitu Samudera dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat pemukiman saudagar Arab, hal ini diperkuat dengan bukti keterangan perjalanan Marcopolo. Dari sinilah Islam masuk pada sekitar abad ke 13.

Sejak itu Aceh menjadi pusat perkembangan pemikiran dan dakwah Islam terbesar di Asia Tenggara, sehingga Aceh dikenal sebagai sebuah kerajaan Islam yang penting pada Abad ke 16 dan 17 silam.

Seperti destinasi lainnya, wisata ziarah spiritual di NAD berupa ratusan masjid, pesantren kuno, makam raja dan kesultanan, dan tentu saja makam ulama besar. Salah satu yang kini sangat terkenal dan menjadi favorit wisatawan adalah Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki persyaratan penuh sebagai objek wisata spiritual.

Disamping bangunan yang megah di tengah kota, masjid ini juga merupakan bangunan budaya dengan arsitektur yang sangat tinggi. Kemudian penetapan syariat Islam berlaku untuk semua wisatawan yang memasuki area masjid menjadi nilai tersendiri yang harus ditaati, seperti harus berpakaian sesuai Islam, bagi pengunjung perempuan mutlak harus memakai kerudung/jilbab.

Kembali menengok sejarah Islam di Aceh. Cirebon sebagai destinasi yang telah dibahas pada halaman muka, ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Aceh. Bukti ini bisa kita telusuri dengan berziarah ke makam Said Syarif, seorang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Beliau merupakan ayah kandung Fatahillah atau Falatehan, seorang ulama terkenal bergelar Sunan Gunung Jati, pendiri Kota Jayakarta (Jakarta), lahir di Pasai 1490 Masehi.

Makamnya terletak di Gampong Mancang Kecamatan Samudera. Makam ini dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 16 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya terbuat dari batu marmer bertuliskan kaligrafi indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18-19 dan surat At Taubah ayat 21-22.

Di dekat Makam Said Syarif, tedapat Makam Teungku Di Iboih atau Makam Maulana Abdurrahman Al-Fasi yang nisannya bertuliskan surat Al Quran yang sama dengan makam Said. Dan masih banyak makam peninggalan lain yang nisannya bertuliskan ayat-ayat Al Quran yang merupakan situs peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada situs Batee Balee ini adalah Tuan Perbu yang mangkat tahun 1444 Masehi.

Lokasinya di Desa Meucat Kecamatan Samudera sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari Surat Yasin, Surat Ali Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr.

Sumber: Majalah Travel Club

Surau Tua Minangkabau Tanah Datar – Sumatera Barat

Posted: 07 Sep 2011 07:50 PM PDT

Sumatera Barat merupakan daerah tertua di Nusantara yang menjadi salah satu pusat sebaran ajaran Islam. Menengok sejarah Islam di Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar) tidak telepas dari kehidupan surau. Keberadaan peninggalan sejarah Islam berupa surau-surau tua beserta bukti sejarah didalamnya mengindikasikan bahwa masyarakat Sumbar memiliki kebudayaan maju.

Kebanyakan surau menjadi pusat pembelajaran Islam termasuk dalam melahirkan kebudayaan seperti halnya reproduksi naskah kuno dan ilmu beladiri silat. Surau di Ranah Minang bahkan menjadi center of excellence atau pusat kegiatan intelektual masyarakat.

Fungsi surau sebagai pusat penulisan dan penyalinan teks Al Quran, tafsir, tauhid, figih, mantik, ma’ani, kitab-kitab pelajaran Bahasa Arab, juga sebagai pusat pendidikan agama, serta sebagai tempat pendidikan yang berkenaan dengan tradisi dan adat istiadat Minangkabau sejak ratusan tahun silam.

Jejak Islam ini dapat ditelusuri dengan ditemukannya surau-surau yang memiliki koleksi manuskrip (naskah) yang berusia lebih dari tiga abad. Dan sampai saat ini setidaknya masih ada puluhan surau kuno yang masih terjaga menurut kriteria di atas. Surau-surau ini tentu sebuah potensi wisata religi yang tersebar di berbagai daerah di Sumbar.

Terutama daerah Darek dengan tiga Luhak utama yaitu; Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam, rata-rata memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata religi. Belum lagi di daerah Rantau, dikenal sebagai daerah pesisir Minangkabau, juga banyak tempat peninggalan Islam.

Sebaran tujuan wisata di Darek dan Rantau, mengindikasikan masuknya Islam ke Minangkabau melalui dua jalur dengan dua periode. Pertama Islam masuk dari Selat Melaka dan membentuk koloni di Luhak Lima Puluh Kota. Kedua, Islam masuk melalui pesisir Minangkabau yang merupakan kelanjutan dari rute Aceh.

Dalam perkembangannya, daerah pesisir lebih terkenal sebagai pusat sebaran Islam di Minangkabau, seperti ungkapan adat: Syarak Mandaki, Adat Manurun. Artinya agama datang dari pesisir, sedangkan adat warisan daerah Darek. Namun demikian keduanya meninggalkan jejak sejarah Islam yang bernilai tinggi.

Kita tengok satu wilayah saja peninggalan di Luhak Tanah Datar, selain memiliki situs-situs budaya religius seperti Makam Tuan Kadhi – salah seorang dari Basa Ampek Balai yang sangat penting dalam konteks ideal masyarakat tradisi Minangkabau-di Padang Ganting, Surau dan Makam Syeh Abdurrachman di Kumango, Masjid Tua di Limau Kaum, Masjid Rao-Rao, dan situs Tuanku di Simabur, serta komplek surau di Pariangan yang merupakan gambaran ideal mengenai harmonisasi pengembangan beberapa mazhab Islam di Minangkabau.

Usianya yang tua, arsitekturnya yang unik, koleksi manuskrip yang ada, dan aktivitas ritual yang khas, serta sumber air panas yang alami, menjadi modal utama dalam mengundang wisatawan untuk datang.

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...

Wednesday, September 7, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Tips Hemat Menggunakan AC (Air Conditioner)

Posted: 07 Sep 2011 03:36 AM PDT

Tips hemat menggunakan AC (Air Conditioner) ini sebenarnya belum pernah saya buktikan. Lha, bagaimana hendak menggunakan (mempraktekkan) tips hemat ini jika AC (air conditioner) saja tidak pernah memiliki. Sebenarnya yang paling tepat bukan bagaimana cara paling hemat dalam menggunakan AC … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Desa Wisata Religius Bubohu Gorontalo – Sulawesi

Posted: 07 Sep 2011 02:37 AM PDT

Sejarah Islam di Gorontalo tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, menjadi pusat penyebaran dan pengembangan agama Islam sejak masa lampau. Lagi-lagi agama yang berakulturasi dengan budaya menjadi sebuah daya tarik kunjungan wisata.

Berawal dari sebuah tradisi perayaan salah satu hari besar Islam. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah masyarakat Muslim di Indonesia mengenal perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dengan istilah Maulid.

Di Gorontalo Setiap kali acara Maulid Nabi, selalu dirayakan dengan membuat Walima (Kreasi Seni Kue Tradisional) di setiap masjid seluruh Gorontalo, dan diramaikan oleh umat Islam berzikir yang dimulai setelah Isya sampai jam 11 pagi, atau sekitar 15-16 jam.

Ada hal unik pada salah satu desa, sehingga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Gorontalo. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan membuat dan mengarak Walima secara kolosal ke masjid. Terciptalah Desa Wisata Religius Bubohu, atau lebih dikenal dengan Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sulawesi.

Ditetapkan sejak 1997. Diawali dengan penulisan sejarah penyelamatan lingkungan hidup dan penggalian potensi budaya. Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, mulailah dilakukan pembangunan fisik penunjang sarana wisata, pendirian PKBM Yotama sebagai pengelola, melaksanakan festival budaya serta mempromosikannya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang bernilai tinggi.

Desa yang terletak di Teluk Tomini ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Bubohu, sebuah kerajaan kecil yang berada dibawah pemerintahan raja Gorontalo. Jadi daerah ini merupakan wilayah sejarah, dan kehidupan rakyatnya pun tidak jauh dari cara-cara hidup yang islami. Sehingga alasannya begitu kuat, pemerintah setempat menjadikan kawasan wisata religi di Gorontalo.

Sebagai Desa Wisata Religi, Bubohu telah dilengkapi dengan sarana dan prasana penunjang seperti; Masjid Walima Emas yang terang dan bersinar ketika malam tiba, lengkap dengan sebuah Kalender Islami atau Kalender Hijriah terbesar di dunia. Masjid yang berada di puncak bukit ini berpadu dengan Kolam Miem, sebuah kolam dengan air pegunungan yang alami. Terdapat pula kolam renang santri gratis dengan air mancur tanpa mesin.

Belum cukup dengan itu, alam desa menawarkan pesona Gunung Tidur dan Pantai Dulang yang cocok untuk kegiatan outbound. Cenderamata pun telah dikemas secara profesional, yaitu kue kolombengi khas walima dan sarung putih walima. Dan satu lagi keunikan yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Pasar Subuh; Pasar Desa Bubohu yang sistem jual belinya masih mengunakan cara barter.

Sumber: Majalah Travel Club

Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Posted: 06 Sep 2011 09:00 PM PDT

Dari latar belakang sejarah, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi ikon pusat penyebaran Islam untuk Pulau Kalimantan. Sehingga sangat lazim, banyak ditemui tempat-tempat (destinasi), bangunan dan tempat ibadah (masjid) tua dan bernilai sejarah tinggi.

Maka Kalsel memiliki beberapa obyek wisata religi yang masih sangat mungkin dikembangkan. Diantaranya Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Masjid Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan banyak makam lainnya yang tak pernah sepi dari puluhan ribu peziarah atau pengunjung setiap tahunnya.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin yang berada di jantung kota. Menempati areal seluas 10.36 hektar menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya. Bangunan berarsitektur modern dikelilingi oleh lima menara menjulang tinggi serta taman luas nan indah, berlantai dua dapat menampung sekitar 15.000 jamaah.

Sementara Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Dan jika sempat ziarah ke Martapura, sebaiknya juga menyinggahi Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi berarsitektur unik.

Meski sudah tiga kali rehab, namun tetap meninggalkan beberapa komponen bangunan asli dari pembangunan pertama. Empat tiang Ulin yang masih tegak di tengah menjadi penanda bangunan sebagai nilai sejarah. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Ke empat tiang bersejarah ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Selanjutnya, jangan lewatkan pula Makam Ulama Agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, merupakan destinasi wisata religius yang juga banyak dikunjungi orang.

Makam beliau berlokasi di desa Kalampayan Ulu, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekita 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura – Ibukota Kabupaten Banjar- hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab/buku karangan beliau yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin – sebuah kitab ilmu agama Islam – yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Sumber: Majalah Travel Club

Masjid Raya Pulau Penyengat Tanjung Pinang – Kepulauan Riau

Posted: 06 Sep 2011 08:41 PM PDT

Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah Islam dan sejak lama sudah sangat terkenal sebagai destinasi wisata religi. Daya tarik lain karena letaknya di sebuah pulau kecil, bernama Pulau Penyengat. Masjid mulai dibangun ketika Pulau menjadi tempat tinggal Engku Puteri Raja Hamidah, istri Sultan Mahmudah (1761 – 1812 M).

Pulau kecil ini kurang lebih berjarak 6 km dari kota Tanjung Pinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, dan dari Pulau Batam berjarak sekitar 35 kilometer. Luas Pulau Penyengat hanya sekitar 240 hektar. Akses ke Pulau bisa dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu boat atau dalam penyebutan masyarakat setempat lebih dikenal dengan bot pompong, bentuknya seperti sebuah rumah adat Melayu dengan kapasitas standar 13 orang.

Waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya sekitar 15 menit saja, dengan biaya Rp 10.000 per orang sekali jalan. Namun biaya untuk kembali ke Pelabuhan Bintan Pura berbeda dan lebih mahal, bisa Rp 20.000 – Rp 25.000, bahkan jika sudah malam harganya melonjak bisa sampai Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Jadi, jika memang sudah kemalaman sebaiknya tinggal saja di beberapa penginapan yang tersedia. Selain menghemat, wisata religi akan lebih kidmat di malam hari.

Masjid berwarna kuning, terlihat mencolok diantara bangunan yang ada di Pulau. Bentuk arsitektur masjid ini sangat unik, perpaduan antara Arab, India, dan Melayu. Dua kali pameran masjid pada Festival Istiglal, Jakarta 1991 dan 1995, Masjid Raya Sultan Riau ditetapkan sebagai masjid yang menggunakan kubah pertama di Indonesia. Memiliki 13 kubah, dan empat menara berujung runcing setinggi 18.9 meter yang dulu digunakan muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat.

Peninggalan sejarah berupa mushaf Al Quran tulisan tangan Abdurrahman Stambul pada 1867 Masehi. Sengaja diletakkan dekat pintu utama dalam peti kaca agar pengunjung bisa melihatnya. Sebenarnya ada mushaf yang lebih tua buatan 1752 lengkap dengan tafsir. Tidak diketahui siapa yang menulisnya, tapi tersirat bahwa orang Melayu tidak hanya menulis ulang Mushaf tapi menerjemahkannya. Sayang, Mushaf ini tidak bisa diperlihatkan karena kondidisnya telah rusak. Hanya tersimpan dalam lemari yang ada di bagian kanan masjid bersama 300-an lebih kitab lainnya.

Benda lainnya yang menarik perhatian adalah mimbar dari kayu jati yang dipesan dari Jepara. Sepiring pasir yang konon di bawa dari Tanah Mekah Al-Mukarromah oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, Bangsawan Rai pertama yang menunaikan ibadah haji 1820 Masehi. Dan pasir biasa digunakan masyarakat setempat untuk upacara jejak tanah, tradisi menginjak tanah pertama kali bagi anak-anak.

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...