Potlot Adventure |
| Masjid Baiturrahman dan Makam Bertuliskan Ayat Al Quran Posted: 08 Sep 2011 02:50 AM PDT
Sebagaimana dalam sejarah, kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang posisinya terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kini dalam sekitaran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Pada awalnya kerajaan Samudera Pasai terdiri atas dua daerah, yaitu Samudera dan Pasai. Kedua daerah itu telah lama menjadi tempat persinggahan dan tempat pemukiman saudagar Arab, hal ini diperkuat dengan bukti keterangan perjalanan Marcopolo. Dari sinilah Islam masuk pada sekitar abad ke 13. Sejak itu Aceh menjadi pusat perkembangan pemikiran dan dakwah Islam terbesar di Asia Tenggara, sehingga Aceh dikenal sebagai sebuah kerajaan Islam yang penting pada Abad ke 16 dan 17 silam. Seperti destinasi lainnya, wisata ziarah spiritual di NAD berupa ratusan masjid, pesantren kuno, makam raja dan kesultanan, dan tentu saja makam ulama besar. Salah satu yang kini sangat terkenal dan menjadi favorit wisatawan adalah Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki persyaratan penuh sebagai objek wisata spiritual. Disamping bangunan yang megah di tengah kota, masjid ini juga merupakan bangunan budaya dengan arsitektur yang sangat tinggi. Kemudian penetapan syariat Islam berlaku untuk semua wisatawan yang memasuki area masjid menjadi nilai tersendiri yang harus ditaati, seperti harus berpakaian sesuai Islam, bagi pengunjung perempuan mutlak harus memakai kerudung/jilbab. Kembali menengok sejarah Islam di Aceh. Cirebon sebagai destinasi yang telah dibahas pada halaman muka, ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Aceh. Bukti ini bisa kita telusuri dengan berziarah ke makam Said Syarif, seorang menteri dari Kerajaan Samudera Pasai. Beliau merupakan ayah kandung Fatahillah atau Falatehan, seorang ulama terkenal bergelar Sunan Gunung Jati, pendiri Kota Jayakarta (Jakarta), lahir di Pasai 1490 Masehi. Makamnya terletak di Gampong Mancang Kecamatan Samudera. Makam ini dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 16 km sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya terbuat dari batu marmer bertuliskan kaligrafi indah terdiri dari ayat Kursi, surat Ali Imran ayat 18-19 dan surat At Taubah ayat 21-22. Di dekat Makam Said Syarif, tedapat Makam Teungku Di Iboih atau Makam Maulana Abdurrahman Al-Fasi yang nisannya bertuliskan surat Al Quran yang sama dengan makam Said. Dan masih banyak makam peninggalan lain yang nisannya bertuliskan ayat-ayat Al Quran yang merupakan situs peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada situs Batee Balee ini adalah Tuan Perbu yang mangkat tahun 1444 Masehi. Lokasinya di Desa Meucat Kecamatan Samudera sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari Surat Yasin, Surat Ali Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr. Sumber: Majalah Travel Club |
| Surau Tua Minangkabau Tanah Datar – Sumatera Barat Posted: 07 Sep 2011 07:50 PM PDT
Kebanyakan surau menjadi pusat pembelajaran Islam termasuk dalam melahirkan kebudayaan seperti halnya reproduksi naskah kuno dan ilmu beladiri silat. Surau di Ranah Minang bahkan menjadi center of excellence atau pusat kegiatan intelektual masyarakat. Fungsi surau sebagai pusat penulisan dan penyalinan teks Al Quran, tafsir, tauhid, figih, mantik, ma’ani, kitab-kitab pelajaran Bahasa Arab, juga sebagai pusat pendidikan agama, serta sebagai tempat pendidikan yang berkenaan dengan tradisi dan adat istiadat Minangkabau sejak ratusan tahun silam. Jejak Islam ini dapat ditelusuri dengan ditemukannya surau-surau yang memiliki koleksi manuskrip (naskah) yang berusia lebih dari tiga abad. Dan sampai saat ini setidaknya masih ada puluhan surau kuno yang masih terjaga menurut kriteria di atas. Surau-surau ini tentu sebuah potensi wisata religi yang tersebar di berbagai daerah di Sumbar. Terutama daerah Darek dengan tiga Luhak utama yaitu; Tanah Datar, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Agam, rata-rata memiliki tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata religi. Belum lagi di daerah Rantau, dikenal sebagai daerah pesisir Minangkabau, juga banyak tempat peninggalan Islam. Sebaran tujuan wisata di Darek dan Rantau, mengindikasikan masuknya Islam ke Minangkabau melalui dua jalur dengan dua periode. Pertama Islam masuk dari Selat Melaka dan membentuk koloni di Luhak Lima Puluh Kota. Kedua, Islam masuk melalui pesisir Minangkabau yang merupakan kelanjutan dari rute Aceh. Dalam perkembangannya, daerah pesisir lebih terkenal sebagai pusat sebaran Islam di Minangkabau, seperti ungkapan adat: Syarak Mandaki, Adat Manurun. Artinya agama datang dari pesisir, sedangkan adat warisan daerah Darek. Namun demikian keduanya meninggalkan jejak sejarah Islam yang bernilai tinggi. Kita tengok satu wilayah saja peninggalan di Luhak Tanah Datar, selain memiliki situs-situs budaya religius seperti Makam Tuan Kadhi – salah seorang dari Basa Ampek Balai yang sangat penting dalam konteks ideal masyarakat tradisi Minangkabau-di Padang Ganting, Surau dan Makam Syeh Abdurrachman di Kumango, Masjid Tua di Limau Kaum, Masjid Rao-Rao, dan situs Tuanku di Simabur, serta komplek surau di Pariangan yang merupakan gambaran ideal mengenai harmonisasi pengembangan beberapa mazhab Islam di Minangkabau. Usianya yang tua, arsitekturnya yang unik, koleksi manuskrip yang ada, dan aktivitas ritual yang khas, serta sumber air panas yang alami, menjadi modal utama dalam mengundang wisatawan untuk datang. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment