Potlot Adventure |
- Desa Wisata Religius Bubohu Gorontalo – Sulawesi
- Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan
- Masjid Raya Pulau Penyengat Tanjung Pinang – Kepulauan Riau
| Desa Wisata Religius Bubohu Gorontalo – Sulawesi Posted: 07 Sep 2011 02:37 AM PDT
Berawal dari sebuah tradisi perayaan salah satu hari besar Islam. Setiap tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah masyarakat Muslim di Indonesia mengenal perayaan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dengan istilah Maulid. Di Gorontalo Setiap kali acara Maulid Nabi, selalu dirayakan dengan membuat Walima (Kreasi Seni Kue Tradisional) di setiap masjid seluruh Gorontalo, dan diramaikan oleh umat Islam berzikir yang dimulai setelah Isya sampai jam 11 pagi, atau sekitar 15-16 jam. Ada hal unik pada salah satu desa, sehingga menarik perhatian wisatawan yang datang ke Gorontalo. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan dengan membuat dan mengarak Walima secara kolosal ke masjid. Terciptalah Desa Wisata Religius Bubohu, atau lebih dikenal dengan Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sulawesi. Ditetapkan sejak 1997. Diawali dengan penulisan sejarah penyelamatan lingkungan hidup dan penggalian potensi budaya. Sepuluh tahun kemudian, pada 2007, mulailah dilakukan pembangunan fisik penunjang sarana wisata, pendirian PKBM Yotama sebagai pengelola, melaksanakan festival budaya serta mempromosikannya sebagai salah satu tujuan wisata religi yang bernilai tinggi. Desa yang terletak di Teluk Tomini ini dulunya merupakan wilayah Kerajaan Bubohu, sebuah kerajaan kecil yang berada dibawah pemerintahan raja Gorontalo. Jadi daerah ini merupakan wilayah sejarah, dan kehidupan rakyatnya pun tidak jauh dari cara-cara hidup yang islami. Sehingga alasannya begitu kuat, pemerintah setempat menjadikan kawasan wisata religi di Gorontalo. Sebagai Desa Wisata Religi, Bubohu telah dilengkapi dengan sarana dan prasana penunjang seperti; Masjid Walima Emas yang terang dan bersinar ketika malam tiba, lengkap dengan sebuah Kalender Islami atau Kalender Hijriah terbesar di dunia. Masjid yang berada di puncak bukit ini berpadu dengan Kolam Miem, sebuah kolam dengan air pegunungan yang alami. Terdapat pula kolam renang santri gratis dengan air mancur tanpa mesin. Belum cukup dengan itu, alam desa menawarkan pesona Gunung Tidur dan Pantai Dulang yang cocok untuk kegiatan outbound. Cenderamata pun telah dikemas secara profesional, yaitu kue kolombengi khas walima dan sarung putih walima. Dan satu lagi keunikan yang tidak boleh dilewatkan, yaitu Pasar Subuh; Pasar Desa Bubohu yang sistem jual belinya masih mengunakan cara barter. Sumber: Majalah Travel Club |
| Dari Masjid ke Masjid dan Makam Banjarmasin – Kalimantan Selatan Posted: 06 Sep 2011 09:00 PM PDT
Maka Kalsel memiliki beberapa obyek wisata religi yang masih sangat mungkin dikembangkan. Diantaranya Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid dan Makam Sultan Suriansyah, Masjid Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan banyak makam lainnya yang tak pernah sepi dari puluhan ribu peziarah atau pengunjung setiap tahunnya. Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark kota Banjarmasin yang berada di jantung kota. Menempati areal seluas 10.36 hektar menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya. Bangunan berarsitektur modern dikelilingi oleh lima menara menjulang tinggi serta taman luas nan indah, berlantai dua dapat menampung sekitar 15.000 jamaah. Sementara Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Dan jika sempat ziarah ke Martapura, sebaiknya juga menyinggahi Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. Masjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warna dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi berarsitektur unik. Meski sudah tiga kali rehab, namun tetap meninggalkan beberapa komponen bangunan asli dari pembangunan pertama. Empat tiang Ulin yang masih tegak di tengah menjadi penanda bangunan sebagai nilai sejarah. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah. Ke empat tiang bersejarah ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid. Selanjutnya, jangan lewatkan pula Makam Ulama Agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, merupakan destinasi wisata religius yang juga banyak dikunjungi orang. Makam beliau berlokasi di desa Kalampayan Ulu, Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekita 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura – Ibukota Kabupaten Banjar- hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab/buku karangan beliau yang terkenal adalah Sabilal Muhtadin – sebuah kitab ilmu agama Islam – yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid terbesar di Kalimantan Selatan. Sumber: Majalah Travel Club |
| Masjid Raya Pulau Penyengat Tanjung Pinang – Kepulauan Riau Posted: 06 Sep 2011 08:41 PM PDT
Pulau kecil ini kurang lebih berjarak 6 km dari kota Tanjung Pinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, dan dari Pulau Batam berjarak sekitar 35 kilometer. Luas Pulau Penyengat hanya sekitar 240 hektar. Akses ke Pulau bisa dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu boat atau dalam penyebutan masyarakat setempat lebih dikenal dengan bot pompong, bentuknya seperti sebuah rumah adat Melayu dengan kapasitas standar 13 orang. Waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya sekitar 15 menit saja, dengan biaya Rp 10.000 per orang sekali jalan. Namun biaya untuk kembali ke Pelabuhan Bintan Pura berbeda dan lebih mahal, bisa Rp 20.000 – Rp 25.000, bahkan jika sudah malam harganya melonjak bisa sampai Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Jadi, jika memang sudah kemalaman sebaiknya tinggal saja di beberapa penginapan yang tersedia. Selain menghemat, wisata religi akan lebih kidmat di malam hari. Masjid berwarna kuning, terlihat mencolok diantara bangunan yang ada di Pulau. Bentuk arsitektur masjid ini sangat unik, perpaduan antara Arab, India, dan Melayu. Dua kali pameran masjid pada Festival Istiglal, Jakarta 1991 dan 1995, Masjid Raya Sultan Riau ditetapkan sebagai masjid yang menggunakan kubah pertama di Indonesia. Memiliki 13 kubah, dan empat menara berujung runcing setinggi 18.9 meter yang dulu digunakan muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat. Peninggalan sejarah berupa mushaf Al Quran tulisan tangan Abdurrahman Stambul pada 1867 Masehi. Sengaja diletakkan dekat pintu utama dalam peti kaca agar pengunjung bisa melihatnya. Sebenarnya ada mushaf yang lebih tua buatan 1752 lengkap dengan tafsir. Tidak diketahui siapa yang menulisnya, tapi tersirat bahwa orang Melayu tidak hanya menulis ulang Mushaf tapi menerjemahkannya. Sayang, Mushaf ini tidak bisa diperlihatkan karena kondidisnya telah rusak. Hanya tersimpan dalam lemari yang ada di bagian kanan masjid bersama 300-an lebih kitab lainnya. Benda lainnya yang menarik perhatian adalah mimbar dari kayu jati yang dipesan dari Jepara. Sepiring pasir yang konon di bawa dari Tanah Mekah Al-Mukarromah oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, Bangsawan Rai pertama yang menunaikan ibadah haji 1820 Masehi. Dan pasir biasa digunakan masyarakat setempat untuk upacara jejak tanah, tradisi menginjak tanah pertama kali bagi anak-anak. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment