Potlot Adventure |
| Posted: 22 Aug 2011 09:19 PM PDT
Tidak ada kemegahan dari Masjid Bayan Beleq yang telah menjadi situs purbakala ini. Seperti halnya rumah-rumah penduduk di sana, keberadaanya tidak terlalu mencolok. Dari tepi jalan hanya terlihat pagar tembok diapit dua rumah kecil, kantor tempat pendaftaran pengunjung, dan rumah penjaga situs. Meski tidak banyak masyarakat yang menggunakan sebagai tempat ibadah karena kapasitasnya tidak mencukupi lagi, tapi masyarakat tetap menjaga keutuhan bangunan sebagai salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Masjid berukuran 10 x 10 meter ini merupakan kebanggaan warga Bayan, dari sinilah salah satu pusat kegiatan menyebarkan Islam ke seluruh Lombok. Dindingnya begitu rendah hanya dari anyaman bambu. Atapnya berbentuk tumpang disusun dari bilah-bilah bambu. Fondasi lantai yang tinggi dibuat dari susunan batu-batu kali. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil. Tidak lain, itu adalah makam tokoh-tokoh agama di masa awal masjid ini. Pengunjung biasanya selalu menyempatkan diri ziarah dan berdoa di situ. Bagian dalam lantai tanah liat ditutupi tikar buluh. Empat tiang utama penopang masjid dari kayu nangka berbentuk silinder. Di tiang atap masjid tergantung beduk kayu. Hanya para ulama dan pemangku adat yang biasa terlihat shalat dan tarawih di sini. Menurut catatan Museum Negeri NTB, Islam masuk ke Lombok abad ke-17 dari beberapa tempat sekaligus, diantaranya dari Jawa, Gowa (Sulawesi), dan Bima. Maka perluasan siarnya bukan hanya dari Bayan. Ada dua Masjid kuno lagi di Gunung Pujut dan Desa Rembitan, keduanya di Lombok Tengah. Dan Islam di Bayan dengan Masjid Bayan Beleqnya diyakini masuk dari Tanah Jawa. Memang tidak ada peninggalan-peninggalan tertulis yang menyebutkan dari Jawa. Tetapi karena banyaknya penggunaan istilah Jawa di Bayan seperti penggunaan kata raden, gusti pangeran, maka diyakini masuk dari Jawa. Dan terpeliharanya situs Masjid Bayan Beleq karena kuatnya tradisi pada masyarakat setempat. Sejak itu agama dan budaya Islam masuk ke Lombok secara bergelombang melalui perdagangan dan interaksi sosial. Ada keyakinan dari ulama setempat, syiar Islam di Bayan oleh Sunan Prapen, cucu Sunan Giri, salah satu Wali Songo, penyebar Islam di Pulau Jawa. Sumber: Majalah Travel Club |
| Posted: 22 Aug 2011 06:53 PM PDT
Islam telah masuk ke Pulau Bali sejak zaman Kerajaan Gel-Gel Klungkung, sekitar abad ke-16 Masehi. Peranan ulama dan saudagar muslim yang datang ke Bali waktu itu sangat besar terhadap kerajaan yang berkuasa di Bali saat dilanda peperangan. Bahkan menempati posisi penting sebagai penerjemah, patih, dan kerabat istana. Sehingga banyak peninggalan bersejarah Islam yang terekam pada situs-situs, dan sampai kini masih tersimpan dan terjaga dengan baik di sekitaran Pulau Bali. Ziarah Islami di Bali seperti perjalanan napak tilas mencari jejak-jejak penyebar Islam di masa lampau. Kita tidak hanya sekedar mengunjungi makam para ulama (Di Bali terkenal dengan nama ziarah wali pitu atau tujuh), lalu berdoa. Melainkan menikmati indahnya suasana damai dan kekerabatan antara Islam dan Hindu di beberapa kampung Islam, mengetahui sejarah Islam lewat benteng-benteng Islam di Bali Timur dan masjid-masjid tua di Kota Singaraja. Indahnya Islam di Pulau Dewata juga menyatu dengan keindahan sebuah destinasi. Cobalah ziarahi Makam Sunan Mumbul yang terletak di sebelah Istana Taman Air Ujung tepat dibibir pantai. Ini seperti bukan sebuah ziarah, tapi sebuah perjalanan wisata yang mengilhami jiwa untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta. Keindahan sempurna tempat peristirahatan abadi. Makam Sunan Mumbul pun tak terlepas dari cerita sejarah kerajaan yang ada di Bali. Sunan Mumbul merupakan nama yang diambil dari seorang putra mahkota Kerajaan Pejanggik, Mataram-Lombok sekitar abad ke-17 Masehi. Sementara, nama sebenarnya adalah Raden Datu Mas Pakel. Alkisah Kerajaan Pejanggik akhirnya runtuh akibat serangan Kerajaan Karangasem Bali, dan Mas Pakel turut diboyong ke Bali. Raja Karang Asem mempercayakan Mas Pakel menjadi orang dalam istana dan memperkuat Kerajaan Karangasem. Istana Taman Ujung dibangun Raja Karangasem dengan bantuan Mas Pakel sebagai tempat istirahat dan bersantai Keluarga Raja, sekaligus menjadi basis pengintaian terhadap masuknya kapal-kapal musuh dari Bali Timur. Di komplek istana yang berada di Karangasem ini terdapat sumur buatan Sunan Mumbul yang dipercaya warga memiliki khasiat. Benar atau tidaknya kabar khasiat itu, hanya Anda yang bisa menjawab dengan berwisata secara Islami di Pulau Bali. Di samping Sunan Mumbul, tentunya masih banyak jejak-jejak Islam yang bisa Anda telusuri. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment