Aku Ingin Hijau |
- Khasiat di Balik Tanaman Hias
- Memaksimalkan Penggunaan Baterai Rechargeable
- Pakai baterai rechargeable? kenapa tidak
| Posted: 07 Dec 2010 09:31 AM PST Disadur dari: kebonkembang.com INDONESIA merupakan negara yang dikenal memiliki keanekargaman hayati. Dari sekian juta tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia, banyak di antaranya yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Tanaman hias memiliki keindahan, baik pada bunga, daun maupun pada keseluruhan bagian tanaman. Tanaman hias ini umumnya digunakan orang untuk meningkatkan kenyamanan hidup serta menciptakan lingkungan yang bersih dan segar. Beberapa jenis tanaman hias memiliki fungsi ganda, yaitu selain sebagai tanaman hias juga sebagai obat untuk beberapa penyakit yang lazim ditemukan di kalangan masyarakat. Manfaat masing-masing tanaman hias tersebut tidak sama karena kandungan di dalamnya juga berbeda. Dengan kandungan yang berbeda tersebut, dapat dibuat ramuan obat yang berasal dari satu tanaman atau dari beberapa tanaman. Ramuan obat ini dibuat dengan cara yang sederhana. Jika digunakan sesuai aturan, ramuan ini tidak akan menimbulkan efek samping. Di bawah ini dipaparkan beberapa tanaman hias yang dapat digunakan untuk ramuan obat. 1. Bakung putih (crinum asiaticum linn) 2. Cocor bebek (kalanchoe pinnata) Ramuan untuk sakit kepala, batuk, sakit dada, dan borok, daun cocor bebek secukupnya digiling hingga halus dan tempelkan pada bagian yang sakit. Sedangkan untuk obat demam, rebus lima lembar daun cocor bebek dengan 2-3 gelar air. Daun direbus selama 30 menit dengan api kecil, minum air rebusan dua kali sehari. Bisa juga daun dipotong-potong tanpa direbus kemudian tempelkan pada perut. Untuk obat haid yang tidak teratur, giling halus 10 lembar daun cocor bebek, 5 jari labu air, 5 buah majakan, 1 buah mentimun, 10 lembar daun dadap srep, 10 lembar daun sambaing colok, tambahkan air garam secukupnya. Kemudian diusapkan ke perut, lalu balut dan lakukan dua kali sehari. Untuk obat luka, cuci 10 lembar daun cocor bebek, giling sampai halus, tambahkan 1 sendok makan air kapur sirih. Usapkan pada luka dan bebat dengan kain bersih. Lakukan dua kali sehari. Sedangkan untuk obat bisul, cuci enam lembar daun cocor bebek dan giling sampai halus. Tambahkan air garam secukupnya. Usapkan pada bisul dan sekelilingnya, kemudian balut. Lakukan 1-2 kali sehari sampai sembuh. 3. "Jawer kotok" (coleus atropurrieus) Ramuan untuk keputihan, cuci 2/3 genggam daun jawer kotok, rebus dengan tiga gelas air bersih hingga hanya tersisa 3/4 gelas. Saring air rebusan setelah dingin. Minum air rebusan bersama madu tiga kali sehari. Sedangkan ramuan obat wasir, rebus 12 lembar daun jawer kotok dengan dua gelas air hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Minum sekali sehari. 4. Kembang sepatu (hibiscus rosa-sinensis linn) Ramuan untuk bronchitis, cuci dua kuntum bunga kembang sepatu, lalu tumbuk sampai halus. Beri 3/4 gelar air masak dan sedikit garam. Aduk ramuan tersebut hingga merata, lalu peras dan saring. Minum dua kali sehari. Atau bisa juga dengan ramuan, rebus 2-3 kuntum bunga kembang sepatu dengan 2 gelar air sekira 15 menit, kemudian saring. Air rebusan yang telah disaring diminum dua kali sehari. Ramuan untuk kencing nanah, cuci enam kuntum bunga kembang sepatu, rebus dengan tiga gelas air hingga airnya tersisa 3/4 gelas. Setelah itu, saring dan didiamkan (diembunkan) selama satu malam. Minum dengan madu tiga kali sehari sebanyak 1/2 gelas. Ramuan untuk haid tidak teratur, cuci tiga kuntum bunga kembang sepatu, lalu giling hingga halus. Tambahkan satu gelas air masak dan sedikit cuka. Selanjutnya peras dan saring. Minum 2-3 kali sehari sebanyak 1/2 gelas. Ramuan untuk sakit panas, tumbuk akar kembang sepatu secukupnya hingga halus, rebus dengan tiga gelas air mendidih sekira 30 menit, lalu saring. Air rebusan diminum tiga kali sehari sebanyak satu gelas. Ramuan untuk demam pada anak-anak, lumatkan daun kembang sepatu segar secukupnya dengan sedikit air. Lumurkan di seluruh badan 2-3 kali sehari. Ramuan untuk sariawan dan batuk, rebus daun kembang sepatu secukupnya dalam tiga gelas air mendidih selama 15 menit, lalu saring. Air rebusan diminum tiga kali sehari. Ramuan untuk gondok, siapkan akar kembang sepatu secukupnya dan air secukupnya. Akar diserbukkan dan direbus dalam air mendidih selama 1/2 jam. Kompreskan pada bagian yang sakit 2-3 kali sehari. Ramuan untuk sakit kepala, serbuk daun kembang sepatu direbus selama 1/2 jam dan dikompreskan pada dahi. 5. Kenanga (canangium odoratun baill atau cananga odorata) 6. Mawar (rosa damascena mill). Ramuan untuk gigitan serangga berbisa, siapkan 1 kuntum bunga mawar, 10 kuntum bunga melati, 2 kuntum bunga kenanga, dan 1 sendok teh minyak kelapa. Bunga dicuci bersih, lalu digiling sampai halus. Remaslah campuran ketiga bunga tersebut dengan minyak kelapa. Ramuan dioleskan pada luka bekas gigitan atau sengatan serangga, lalu dibalut. Ramuan untuk gabag, cuci 15 kuntum bunga mawar, kemudian rebus dengan tiga gelas air hingga tersisa 3/4 gelas. Setelah itu disaring. Air mawar ini diminum tiga kali sehari. Ramuan untuk jerawat, rebus bunga mawar secukupnya dengan sedikit air. Setelah itu, air mawar yang telah disaring sebanyak dua sendok dicampur dengan satu sendok teh serbuk belerang. Oleskan pada malam hari sebelum tidur pada kulit yang terkena jerawat. 7. Melati (jasminum sambac) Ramuan untuk mata merah atau bengkak, tumbuk satu genggam daun melati hingga halus. Tempelkan pada dahi. Bila sudah kering, ganti dengan bahan ramuan yang baru. Ramuan untuk bengkak akibat sengatan lebah, remas-remas satu genggam bunga melati sampai halus. Tempelkan pada bagian yang terkena sengatan lebah. Ramuan untuk demam dan sakit kepala, satu genggam daun melati dan 10 bunga melati diremas-remas dengan tangan, lalu rendam dalam air secukupnya. Air rendaman digunakan untuk mengompres dahi. Ramuan untuk sesak napas, rebus 10 lembar daun melati dalam tiga gelas air sampai mendidih dan tersisa dua gelas. Setelah dingin, air rebusan disaring. Tambahkan sedikit garam. Minum dua kali sehari, pagi dan sore sebanyak 1/2 gelas. Ramuan untuk jerawat, tumbuk 20 kuncup melati, 2 potong asam jawa yang lama dengan panjang 80 cm, belerang sebesar telur cecak hingga halus, lalu diremas dengan 2 sendok makan air jeruk nipis. Gosokkan pada muka dua kali sehari. 8. Wijayakusumah (epiphylum sp.) 9. Bunga matahari (helianthus annus) 10. Kecubung (datura metel) Ramuan untuk rematik, tumbuk daun dan bunga kecubung secukupnya, bawang merah secukupnya, dan jahe secukupnya. Hasil tumbukan tempelkan pada bagian yang sakit. Ramuan untuk sembelit, dua lembar daun kecubung diolesi minyak kelapa lalu dipanggang di atas api hingga layu. Daun yang telah dipanggang tempelkan di bagian bawah perut. Lakukan 2-3 kali sehari. Ramuan untuk asma, iris halus beberapa lembar daun kecubung, jemur hingga kering. Daun dibuat lintingan, lalu diisap seperti mengisap rokok. Ramuan untuk sakit pinggang, tumbuk 5-10 lembar daun kecubung yang berbatang ungu dan kapur sirih secukupnya hingga halus. Tempelkan pada pinggang yang sakit. Lakukan 2-3 kali sehari. Ramuan untuk bengkak, basahi daun kecubung dengan minyak kelapa kemudian dipanggang dan diremas. Tempelkan pada bagian yang bengkak 2-3 kali sehari. Ramuan untuk encok, cuci delapan lembar daun kecubung hitam dan giling sampai halus, kemudian diremas-remas bersama air kapur. Gosokkan pada bagian yang sakit dua kali sehari. Ramuan untuk eksim, tumbuk 25 g daun kecubung, lalu beri minyak kelapa secukupnya. Lalu, panaskan. Ramuan untuk radang anak telinga, cuci 10 lembar daun kecubung lalu giling sampai halus. Remas gilingan daun tersebut dengan dua sendok makan minyak kelapa yang telah dihangatkan terlebih dahulu. Lalu, peras dan saring. Minyak perasan diteteskan pada anak telinga yang sakit, lakukan dua kali sehari sebanyak lima tetes. 11. Jengger ayam (celosia cristata) Filed under: Bercocok Tanam, Lingkungan Rumah, Sehat Hijau, Tanaman, Tanaman Bermanfaat Tagged: bakung putih, bunga matahari, cocor bebek, jawer kotok, kembang sepatu, kenanga, khasiat tanaman hias, mawar, melati, ramuan obat bunga, tanaman hias, wijayakusumah |
| Memaksimalkan Penggunaan Baterai Rechargeable Posted: 07 Dec 2010 07:15 AM PST Oleh: Bayu Kuncoro Mukti Baterai Rechargeable pada saat ini banyak sekali digunakan pada perangkat elektronika, mulai dari permainan anak-anak hingga kendaraan hybrid. Baterai rechargeable ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan baterai jenis lainnya, baterai ini memiliki kapasitas yang besar dan tentu-nya dapat diisi ulang. Menurut bahan pembuat-nya, baterai ini terdiri dari berbagai macam jenis yaitu; Nickel Cadmium (NiCd), Nickel Metal Hydride (NiMH), Lithium-Ion (Li-Ion), dan Lithium-Pol (Li-Pol). Baterai NiCd dan NiMH pada umumnya digunakan sebagai sumber listrik DC untuk permainan anak-anak, kamera digital, handy talky, hingga mobil hybrid. Baterai Li-Ion dan Li-Pol memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi, umum digunakan sebagai sumber listrik pada telepon seluler dan notebook/laptop. Baterai NiCd dan NiMH masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Baterai NiCd memiliki siklus pengisian dan pengosongan yang lebih banyak ketimbang baterai NiMH (lebih dari 500X), tetapi baterai NiMH memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dari pada baterai NiCd. Kelemahan dari kedua baterai ini adalah memiliki efek memori, yaitu jika kapasitas baterai tersebut belum berkurang hingga batas minimum-nya (yaitu 1.0V – 1,1V / sel) dan kemudian baterai tersebut diisi ulang. Maka hal tersebut akan menimbulkan endapan yang dapat mengurangi kapasitas baterai. Berbeda dengan baterai NiCd dan NiMH, baterai Li-Ion dan Li-Pol kedua jenis baterai ini tidak memiliki efek memori sehingga pengisian dapat dilakukan kapan saja. Walaupun demikian baterai Li-Ion dan Li-Pol juga memiliki siklus pengisian dan pengosongan maksimum (biasanya 500X pengisian), dimana jika melewati batas tersebut, kualitas dan kapasitas baterai akan menurun. Hal ini ditandai dengan cepat berkurang-nya kapasitas baterai walaupun sudah diisi dengan penuh. Semua baterai rechargeable memiliki sifat pengosongan sendiri (self discharge) walaupun tidak digunakan, besarnya antara 10% hingga 30% per bulan. Sehingga baterai yang terisi penuh akan kosong dengan sendirinya dalam beberapa bulan tanpa dipergunakan. Lalu bagaimana cara kita memaksimalkan penggunaan baterai rechargeable agar mencapai siklus maksimum atau bahkan melebihi siklus maksimum? berikut adalah langkah-langkah yang dapat memaksimalkan penggunaan baterai rechargeable.
PENTING! Umur baterai rechargeable diukur berdasarkan banyaknya baterai tersebut mengalami siklus pengisian dan pengosongan, dimana siklus tersebut memiliki nilai maksimum yaitu 500X, jika melebihi batas tersebut maka kemampuan baterai akan mulai menurun secara significan dan akhir-nya tidak dapat digunakan kembali. Maka dari itu tips ini diberikan agar para pengguna baterai ini dapat mencapai siklus maksimum yang ditentukan oleh pabrikan baterai. Demikian tips Memaksimalkan Penggunaan Baterai Rechargeable, semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Referensi:
Filed under: Daur Ulang, Energi Alternatif, Lingkungan Kerja, Lingkungan Rumah, TeknoHijau Tagged: baterai, baterai maksimal, baterai rechargeable, rechargeable battery |
| Pakai baterai rechargeable? kenapa tidak Posted: 07 Dec 2010 07:10 AM PST Disadur dari: blog lentrasystems Kembali lagi dengan artikel ramah lingkungan alias go green. kali ini saya akan membahas tentang penggunaan baterai rechargeable. saya yakin anda pasti punya perangkat elektronik yang menggunakan baterai bukan? minimal remote tv anda pasti menggunakan baterai… nah sekarang yang menjadi pertanyaannya apakah anda masih menggunakan baterai sekali pakai? jika ya jawabannya, mudah-mudahan pembahasan ini bisa membuat anda berubah pikiran, mari kita bahas satu persatu… kelebihan dan kekurangan apa sih yang jadi keunggulan baterai rechargeable? wah banyak sekali, mulai dari kapasitas maksimal yang lebih besar (lebih tahan lama dibanding non alkaline), tidak perlu membeli ulang, dan yang terpenting anda bisa mempraktekkan peduli lingkungan… , namun selain banyak kelebihan, baterai rechargable juga punya "beberapa" kelemahan, misal tegangannya lebih rendah dari baterai alkaline biasa (berpengaruh pada perangkat tertentu terlihat lebih cepat habis) dan lagi-lagi harga awalnya lebih mahal Hitung-hitungan lalu kenapa saya menyarankan menggunakan baterai rechargeable? nah mari kita bahas sedikit mengenai biaya penggunaan baterai rechargeable. modal awal baterai rechargable biasanya satu paket: baterai-nya plus charger(disarankan quick charge). Harganya bervariasi anggap saja satu paket Rp 220.000 (dengan 2 buah baterai AA 2700mAh), sedangkan baterai alkaline sekali pakai patok harganya Rp 10.000 (2 buah AA) alias Rp 5.000 per unit, dengan kapasitas kurang lebih 2700mAh. Biasanya baterai rechargeable bisa diisi ulang sampai 500 kali, untuk amannya kita patok 75% nya aja alias 375 kali. Kemudian biaya isi ulangnya bisa dihitung sederhana seperti ini: biaya = biaya listrik x kapasitas baterai / efisiensi charger = Rp 700/kWh X (2,7Ah X 1,2V / 1.000) / 85% = Rp 2,7(wow murah kan!!!) mari kita menggunakan grafik sekali lagi Sekali lagi terlihat, ternyata baterai rechargeable mahal di investasi awalnya saja, biaya operasionalnya hampirflat. Untuk 375 x isi ulang hanya menelan biaya Rp 1.013 (tarif subsidi –uhuk2), sedangkan baterai konvensional memakan biaya hingga Rp 1.800.000. Kalau dihitung lebih lanjut kurang lebih setelah 44 x isi ulang, modal nya sudah impas . nah sekarang terserah anda, tetap menggunakan baterai konvensional? *kalau remote tv sih, tidak apa-apa pakai baterai konvensional Filed under: Daur Ulang, Energi Alternatif, Lingkungan Kerja, Lingkungan Rumah, TeknoHijau Tagged: baterai, baterai maksimal, baterai rechargeable, rechargeable battery |
| You are subscribed to email updates from Aku Ingin Hijau To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment