Saturday, October 9, 2010

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Sejuk di Kebun Raya Cibodas

Posted: 09 Oct 2010 07:46 AM PDT

Kebun Raya Cibodas terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Pada tanggal 11 april tahun 1852 Kebun Raya Cibodas didirikan oleh seorang kurator Kebun Raya Bogor yaitu oleh Johannes Ellias Teijsmann. Ketika itu Kebun Raya Cibodas bernama Bergtuin te Tjibodas atau Kebun Pegunungan Cibodas. Oleh Teijsmann tempat itu dimaksudkan sebagai lokasi aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya, tempat ini kemudian berkembang menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor dengan nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas. Mulai tahun 2003 status Kebun Raya Cibodas menjadi lebih mandiri sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Cibodas mempunyai ketinggian 1275 m dpl, kondisi alamnya berbukit-bukit, lereng gunung yang bergelombang, curah hujan 2380 mm per-tahun dan suhu udaranya antara 17 C – 27 C dengan suhu rata-rata 18C.

Tumbuhan Koleksi Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas mempunyai koleksi berbagai jenis pohon besar seperti tusam, tumbuhan paku pegunungan, tumbuhan runjung, hutan kaliandra, hutan alam. Koleksi yang paling khas dari Kebun Raya Cibodas adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis lumut dan lumut hati dari berbagai daerah Indonesia dan dunia. Taman Lumut ini luasnya 2.500 meter persegi. Kebun Raya Cibodas mempunyai koleksi tanaman sebanyak 10.792 jenis, 700 jenis koleksi biji, dan 4.852 koleksi herbarium. Koleksi tanaman terbagi dalam 2 (dua) koleksi yaitu koleksi di kebun dan koleksi di rumah kaca.

Koleksi tanaman di kebun berjumlah 1.014 jenis di antaranya terdapat tanaman khas seperti Kina (Cinchona pubescens) yang merupakan tanaman obat, pohon Bunya-bunya (Araucaria bidwill) yang merupakan tanaman tua dan batang pohonnya besar, Bunga Bangkai (Amorphophallus titanium) yang mempunyai bunga berukuran raksasa dan menarik serangga. Koleksi tanaman di rumah kaca terdiri dari Anggrek sebanyak 320 jenis seperti Anggrek Kasut Hijau (Paphiopedilum javanicum) adalah anggrek asli dari Jawa dan Anggrek Kiaksara (Macodes petola), Kaktus sebanyak 289 jenis seperti Kaktus Kursi Mertua (Achinocactus grussoni), sukulen sebanyak 169 jenis.

Di Kebun Raya Cibodas terdapat tanaman yang dapat dimakan, seperti biji daritanaman Saninten (Castanopsis argentea), daun Rasamala (Altingia excelsa) untuk lalapan, daun Keresmen atau Mint (Mentha arvensis) yang terasa pedas serta segar.

Terdapat tanaman herbal untuk bahan baku jamu seperti jenis Pegagan atau Antanan (Centella asiatica) sangat baik untuk perempuan yang baru melahirkan, Tempuyung (Sonchus arvenis) dapat digunakan untuk mengobati batu ginjal. Sedangkan Ki Urat (Plantago major) dapat digunakan untuk mengobati penyakit diabetes mellitus. Jika ingin melihat bunga sakura (Prunus cerocoides), pengunjung tidak perlu lagi harus ke negara Jepang, karena di Kebun Raya Cibodas terdapat TamanSakura yang isinya adalah pohon bunga sakura yang bunganya berwarna merah muda. Taman Sakura dibangun pada tahun 2006, dan luas tamannya sekitar 3.200 meter persegi.

Daya Tarik Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas yang terletak dikaki Gunung Gede Pangrango dengan luasnya 125 hektar adalah salah-satu obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Kebun Raya Cibodas dengan udara yang sejuk dan bersih, angin sepoi-sepoi,suara kicauan burung, panoramanya yang indah dengan pepohonan serta tumbuhan nan hijau terhampar membuat hati terasa sejuk dan damai, tak berlebihan jikalau seorang ahli fisiologi tumbuhan asal Jerman yang lama bermukim di Indonesia, yang bernama Dr. F.W. Went mengatakan : If paradise still exist on earth, Cibodas must have been part of it (Seandainya masih ada sorga di muka bumi ini, maka Cibodas pastilah bagian daripadanya).

Terdapat pula air terjun, dari pintu masuk menuju ke lokasi air terjun berjarak 750 meter. Kebun Raya Cibodas bukan cuma berfungsi sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai tempat pendidikan dan penelitian.

Sumber: DNA Berita

Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani Mengenang September Kelam

Posted: 09 Oct 2010 07:35 AM PDT

Pukul 04.35, menjelang subuh, Sang Jenderal tertembak mati di rumahnya sendiri. Kini, rumah itu menjadi saksi bisu kekejaman Gerakan 30 September 1965/PKI.

Kediaman Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani terletak di Jalan Lembang No. D-58, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah yang resmi menjadi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, pada 1 Oktober 1966 atau tepat setahun setelah terjadinya peristiwa G30 S/PKI, menyimpan kisah tak terlupakan bangsa Indonesia.

Walaupun tampak seperti rumah tua, bangunan dengan arsitektur indische ini sangat terawat, nyaman dan asri berkat pohon-pohon yang tumbuh di bagian depan dan belakang rumah. Di sisi kiri bagian luar, terlihat mobil Chevrolet tua berwarna biru milik Jenderal Ahmad Yani. Petugas museum, Sersan Mayor H. Sartono, mengajak pengunjung masuk dari arah belakang rumah.

Cerita pun bermula di ruang tamu bagian belakang. Tempat ini menjadi ruang dokumentasi berupa foto-foto lama. Diantaranya, beberapa foto rekonstruksi saat pembunuhan, data riwayat hidup. Terdapat juga, gambar penggalian dan pengangkatan tujuh jenazah Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, pelepasan jenazah dari Mabes AD, foto situasi upacara pemakaman di TMP Kalibata.

Setelah itu, pengunjung bisa melihat kamar mandi anak-anak dan dapur. Lalu, melangkah menyusuri lorong yang menghubungkan dapur dengan bagian dalam rumah, dibatasi oleh sebuah pintu kaca. Pengunjung bisa menyaksikan bukti penembakan berupa bekas peluru, menyisakan retakan dan lima lubang pada kaca.

Di depan pintu dapur inilah, Jenderal Ahmad Yani tersungkur bersimbah darah dan menghembuskan nafas terakhirnya. Lantai tempat beliau meregang nyawa pun diberi tanda peringatan.

Memasuki ruang makan dan minibar. Penataan meja, kursi, lemari, souvenir yang beliau beli saat berkunjung ke luar negeri dan piagam-piagam penghargaan, serta ucapan belasungkawa, tidak berubah, masih sama seperti dulu, saat belum menjadi museum. Foto-foto Pahlawan Revolusi di atas dinding ruang makan menjadi tambahannya.

Beranjak ke ruang khusus. Selama menjabat sebagai Menpangad, beliau menjalankan tugasnya, mengadakan briefing dengan asisten-asistennya di tempat ini. Sebuah lukisan dengan ukuran besar terpampang, menggambarkan penculikan, dinamakan Subuh yang Berdarah. Dilukis oleh Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadi Kusumah pada 1967.

Kemudian, pengunjung dibawa menuju ruang santai. Ruangan ini menjadi tempat beliau bersantai, sambil membaca dan mengawasi putra-putrinya bermain ayunan di taman kecil, halaman belakang rumah. Di tempat tersebut juga disimpan perlengkapan golf, salah satu olahraga kegemaran almarhum, aquarium, foto-foto dan benda lainnya.

Selanjutnya, ada ruang tunggu tamu. Sebelum resmi diterima oleh pria kelahiran Jenar, Purworejo, 19 Juni 1922 ini, para tamu biasa menunggu di ruang tersebut. Selain itu, beliau turut menggunakan ruang itu untuk menerima tamu-tamu yang belum pernah datang.

Ada beberapa koleksi cenderamata dari dalam dan luar negeri. Di sebelah ruang tamu, tertata ruang ajudan. Tepat di belakang kursi ajudan, terdapat lemari dengan buku-buku bacaan tersusun rapih dan foto-foto semasa dinas.

Melangkah ke ruang tidur Jenderal Ahmad Yani. Ruang itu tidak terlalu besar, dengan kamar mandi didalamnya. Isi ruangan ini antara lain, sebuah tempat tidur, meja rias, dan dua buah lemari pakaian. Pada sudut kanan atas dinding terlihat bekas sambaran petir.

Etalase kecil memperlihatkan senjata yang dipakai untuk menembak ayah dari delapan anak ini, lengkap dengan sisa peluru. Lalu, replika baju tidur, uang gaji terakhir beliau, cincin, kacamata, keris, tongkat komando, pulpen, dan lain-lain.

Ruang terakhir adalah kamar tidur anak-anak, terdiri dari dua ruang. Lagi-lagi, kita menemukan dokumentasi foto, pakaian dinas, serta boneka-boneka pemberian beliau.

Singgah di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani seperti membuka tabir kelam sejarah bangsa ini. Tidak menutup mata, peristiwa itu sudah menjadi bagian dari sejarah yang patut diketahui generasi muda.

Sumber: Majalah Travel Club

Gunung Rinjani Destinasi Liburan Petualang Sejati

Posted: 09 Oct 2010 07:27 AM PDT

Wisata petualangan atau minat khusus menjadi pilihan utama akhir-akhir ini. Tetapi ketika tiba waktunya liburan, kadang bingung untuk menentukan pilihan. Kegiatan biasanya jatuh pada hiking atau mendaki gunung.

Salah satu gunung berapi di Indonesia yang menjadi langganan wisatawan mancanegara untuk berpetualang adalah Gunung Rinjani. Setiap tahun, tercatat ribuan para pendaki lokal maupun internasional menikmati alam menuju puncak Rinjani yang berketinggian 3.726 m dpl (di atas permukaan laut).

Taman nasional yang terletak di sebelah utara Lombok, Nusa Tenggara Barat ini merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Dua di atasnya adalah Pegunungan Jayawijaya di Papua dan Gunung Kerinci di Sumatera.

Gunung inilah satu-satunya yang memiliki paket wisata petualang terbanyak. Dari mulai dua hari satu malam hingga seminggu, mengeksplorasi keindahan setiap sudut Rinjani ditawarkan oleh beberapa operator wisata di sana.

Berbagai fasilitas yang memudahkan wisatawan untuk mendaki telah disediakan, seperti perlengkapan pendakian berupa tenda, sleeping bag, maupun makanan selama pendakian plus juru masak yang sekaligus menjadi guide (pemandu) dan beberapa porter (tenaga angkut).

Jika Anda memilih salah satu paket wisata yang ditawarkan. Maka, sesampainya di Bandara Selaparang Lombok, yang harus Anda lakukan hanya duduk manis menunggu jemputan. Atau langsung menuju hotel dan akan dijemput di tempat Anda menginap. Selanjutnya operator wisata Anda akan mengantar hingga ke puncak Rinjani atau sesuai dengan paket wisata yang Anda pesan.

Namun jika Anda petualang sejati, pilihlah Jalur Sembalun -disarankan untuk para pendaki pemula-, jalur yang ramai dilalui. Untuk mencapai pos awal pendakian di jalur ini relatif murah dan mudah dijangkau dengan transportasi umum.

Dari gerbang pelabuhan laut Lembar, perjalanan dilanjutkan menuju terminal bus di Kota Mataram. Di terminal tersedia kendaraan minibus jurusan Mataram-Aikmel dengan waktu sekitar satu jam perjalanan. Di Aikmel, para petualang juga telah ditunggu kendaraan yang langsung menuju pos pendakian Sembalun Lawang.

Selama menempuh perjalanan ke Sembalun Lawang, kita disambut dengan hutan tropis ditambah atraksi monyet liar di pinggiran jalan. Hamparan perkebunan kol, cabai dan bawang terbentang luas. Tersaji pula pemandangan ngarai hijau mempesona yang dihuni suku Sasak tradisional, suku asli Pulau Lombok.

Belum melakukan pendakian sudah disuguhkan dengan panaroma alam yang melegakan kepala. Sepintas terbayang bagaimana keindahan jalur yang akan kami lalui dan Puncak Rinjani yang sebelumnya kami lihat dari foto-foto melalui Internet.

Setiba di pos pendakian Sembalun Lawang, para pendaki wajib mendaftarkan diri. Sebelum keberangkatan, petugas jagawana memberikan pesan agar menjaga kebersihan dan menghormati adat istiadat penduduk setempat. Tak lupa diterangkan pula lokasi mata air yang tersembunyi.

Bagi yang membutuhkan, disinilah tersedia jasa guide atau porter, yang dilengkapi penyewaan peralatan serta perbekalan standar pendakian gunung. Pengelolaan jasa wisata yang melibatkan suku Sasak ini, menerapkan tarif berbeda bagi wisatawan asing dan wisatawan lokal.

Rute yang dilalui adalah gerbang Sembalun Lawang – Pelawangan Sembalun – Puncak Rinjani, memakan waktu 9 sampai 10 jam. Tantangan pertama jalur ini begitu dramatis dan mengesankan, trail wisata pendakian merupakan Padang Savana dan punggung gunung berliku dengan jurang di kanan dan kiri.

Padang Savana yang luas dan berbukit-bukit merupakan karakteristik alam yang memberikan pengalaman baru bagi para petualang yang biasa mendaki pegunungan di tanah Jawa. Biasanya pegunungan di Jawa lebih banyak menyuguhkan hutan homogen dan heterogen.

Tanah tandus berdebu diselimuti cuaca yang menyengat membuat stamina cepat terkuras. Sejauh mata memandang, hanya beberapa tempat terhampar rumput ilalang lebat sebagai habitat bagi lembu-lembu gembala. Di tempat tertentu terdapat pos khusus yang bisa digunakan berkemah dengan mata air dan toilet darurat.

Sehabis Padang Sabana, trek selanjutnya terasa semakin berat. Tanjakan terjal dengan jurang menganga mulai menghiasi pendakian di antara rimbunan hutan heterogen. Taman Nasional Gunung Rinjani relatif aman dari ancaman binatang buas. Hanya ada burung, monyet yang bergelantungan, dan ayam hutan yang acapkali kita jumpai di hutan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam, sampailah di pelawangan (punggungan gunung) Sembalun Lawang. Lokasi yang ditumbuhi cemara gunung (Casuarina junghuniana) ini merupakan pos pendakian terakhir sebelum menuju puncak.

Pelawangan Sembalun Lawang terletak tepat di lereng penyangga Danau Segara Anakan. Sambil istirahat dan mengeluarkan segala perbekalan yang ada (menyiapkan makanan dan membuka tenda), kita bisa sepuasnya menyaksikan keeksotisan danau raksasa yang terbentuk secara vulkanik akibat letusan Gunung Rinjani yang terjadi secara berkala sejak 1847, dan terakhir meletus pada 2004.

Harus waspada terhadap cuaca, di ketinggian ini sangat mudah berubah. Serbuan halimun yang dingin bisa tiba-tiba menggantikan cuaca panas menyengat. Tak jarang angin badai mampu merobek bahkan melayangkan tenda ke udara. Namun, pesona sunrise dan sunset menjadi momen yang tak terlupakan seumur hidup di titik ini.

Setelah cuaca menjadi tenang dan istirahat dirasa cukup, kemudian ada dua pilihan; melanjutkan petualangan menuju puncak atau langsung turun ke Danau Segara Anakan. Pertimbangannya, trek perjalanan menuju puncak amat berat dan cukup berbahaya. Medan berpasir, kawah, dan jurang yang terlihat tanpa dasar, akan memaksa adrenalin dalam diri meningkat selama 3-5 jam perjalanan.

Sementara medan perjalanan menuju Danau Segara Anakan tak kalah menegangkan. Para pendaki harus lincah menuruni lereng cadas dengan kemiringan berkisar 40-80 derajat. Harus waspada terhadap ancaman reruntuhan batuan yang dapat membahayakan jiwa pendaki.

Namun demikian, kedua tantangan tersebut tentunya akan memberikan imbalan yang setimpal. Sebagai petualang sejati tentunya tidak akan melewatkan kesempatan menaklukkan puncak Rinjani yang dengan istilah tinggal sejengkal itu.

Kebanyakan, pendaki naik ke puncak terlebih dahulu pada dini hari untuk menyaksikan sunrise dari tempat tertingi di Pulau Lombok. Setelahnya barulah menuruni secara perlahan menuju Danau Segara Anakan. Kedua pilihan itu kami ambil berikut dengan risikonya yang harus kami tanggung sendiri.

Akhirnya dengan kemurahan Sang Pencipta, kami selamat sampai di tempat terindah, Danau Segara Anakan. Untuk melemaskan otot yang tegang, para pendaki biasanya berendam air panas seharian di beberapa kolam belerang alami, dan menjadi tontonan bagi puluhan monyet liar bertaring tajam.

Kemenangan liburan ini kami rayakan dengan membakar ikan di pinggir danau. Ikan mas, mujair, dan harper yang berukuran besar berkembang biak dengan pesat di danau ini. Bila kurang ahli memancing atau sedang apes, bisa membeli ikan dari pemancing lokal yang sering muncul di musim liburan.

Di seberang danau terlihat pemandangan gundukan bukit pasir dengan asap putihnya yang berkejaran ke angkasa. Terjadi akibat vulkanik yang terus menerus, sehingga ditengah-tengah kaldera muncul kerucut baru gunung api yang dinamakan Gunung Baru Jari (± 2.376m dpl). Menyaksikan langsung fenomena alam ini sungguh anugerah yang tak terkira.

Etika Pendakian di Gunung Rinjani

1. Pendaki/Pengunjung harus melapor/minta ijin pada Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani di Jalan Arya Bajar Getas Lingkar Selatan Kota Mataram atau pada Pos Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani terdekat dengan membawa/ menunjukkan kartu identitas/KTP serta Surat Keterangan Sehat dari Dokter.

2. Bagi Pendaki/Pengunjung dengan tujuan penelitian, pendidikan dan rombongan harus membawa surat jalan dari organisasi/sekolah/instansi yang bersangkutan.

3. Pendaki disarankan membawa penunjuk jalan yang sudah berpengalaman.

4. Pendaki/Pengunjung hendaknya membawa perlengkapan/perbekalan secukupnya serta membawa kembali sampah dan organik keluar kawasan Taman Nasional.

5. Pendaki/Pengunjung diperbolehkan mendaki pada bulan April s/d November dan disarankan tidak melakukan pendakian pada bulan Desember s/d Maret terkecuali ada izin khusus dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

6. Selama berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani diperhatikan beberapa hal antara lain:
• Dilarang mengambil tumbuhan/binatang/bahan/barang-barang lain dari dalam kawasan.
• Dilarang mencoret-coret/perusakan terhadap pohon/bangunan/batuan yang berada dalam kawasan.
• Mendirikan tenda pada tempat-tempat yang telah ditentukan
• Penggunaan api dibatasi pada tempat-tempat tertentu untuk mencegah terjadinya kebakaran.
• Sebelum meninggalkan Kawasan diwajibkan mengumpulkan sampah dan membawa pulang keluar kawasan TNGR.

7. Setelah Selesai melakukan pendakian agar melapor kembali ke Pos pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani terdekat atau Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

Sumber: Majalah Travel Club

0 comments: