Aku Ingin Hijau |
- Singkong, Semua Bagiannya Bermanfaat Lho ?
- Makan pagi sehat ala pangan asli Indonesia
- Pemerintah Perlu Antisipasi Ledakan Penduduk
- Please”, Jangan Bergantung pada Nasi…
| Singkong, Semua Bagiannya Bermanfaat Lho ? Posted: 22 Oct 2010 03:58 AM PDT Mendengar kata singkong yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Cassava, kita pasti langsung teringat umbi yang bentuknya memanjang, serta salah satu ujungnya meruncing. Singkong dikenal dengan sebutan ketela pohon atau ubi kayu yang termasuk tumbuhan umbi akar. Singkong merupakan pohon tahunan tropika dan subtropika yang dapat ditanam sepanjang tahun. Bagian yang dimakan dari tanaman singkong selain bagian umbi atau akarnya juga daunnya, biasanya dimanfaatkan untuk ragam masakan. Kandungan Gizi dan Manfaat Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin akan protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin. Selain umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umumnya daging umbi singkong berwarna putih atau kekuning – kuningan, untuk rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang pahit, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Dalam hal ini umbi singkong mudah sekali rusak, ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia. Singkong banyak digunakan pada berbagai macam penganan, mulai dari kripik, kudapan, sayuran hingga tape. Bahkan bisa juga dibuat tepung singkong yaitu tepung tapioka yang dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, tepung ini baik untuk pengidap alergi. Memilih dan Mengolah Singkong Penganan singkong seakan tak pernah habis. Ada saja kue – kue yang bisa dibuat dari singkong. Nah untuk membuat penganan dari singkong kita harus pandai memilih dan mengolahnya. Anda bisa memilih dan mengolah singkong yang bisa dilakukan dengan beberapa cara ini :
Disadur dari blog Singkong Kingkong Filed under: Sehat Hijau, Tanaman, Tanaman Bermanfaat Tagged: cassava, singkong |
| Makan pagi sehat ala pangan asli Indonesia Posted: 22 Oct 2010 03:55 AM PDT Nasi, roti dan mie adalah favorit kita untuk makan pagi terutama untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan. Namun sebenarnya ada begitu banyak makanan alternatif baik untuk makan pagi maupun siang dan malam. Tetapi kenapa saya tekankan makan pagi, karena kebanyakan kita bisa makan pagi di rumah, atau bawa dari rumah. Tetapi makan siang dan malam belum tentu. Selain itu acara makan pagi di akhir pekan bisa menjadi acara keluarga yang baik untuk mengenalkan makanan sehat khas Indonesia kepada keluarga kita. Beberapa contoh adalah Ubi Cilembu Madu bakar, Jagung manis rebus atau bakar, Ubi jalar goreng, Kentang rebus, Pisang Goreng dengan tabur meisyes coklat, Kacang goreng, Singkong rebus atau goreng, dan lainnya. Bisa juga kita makan gado-gado atau ketoprak tetapi nasi diganti dengan jagung atau singkong. Dengan mengganti makanan pokok kita dengan bahan alternatif selain nasi, maka kita pun dapat membantu negara kita mencapai swasembada pangan dan juga mengembangkan industri umbi-umbian. Filed under: Lingkungan Rumah, Sehat Hijau |
| Pemerintah Perlu Antisipasi Ledakan Penduduk Posted: 21 Oct 2010 05:54 AM PDT Disadur dari Okezone.com tgl 20 Oktober 2010 JAKARTA - Pemerintah diminta mengantisipasi terus meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 237,6 juta jiwa. Jika tidak ditangani secara serius, 15-30 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami krisis multidimensi, termasuk krisis pangan. Perwakilan Ikatan Perstatistikan Indonesia (ISI) Amarsyah Tambunan mengatakan, jumlah penduduk yang besar jangan sampai menjadi beban negara, tapi menjadi modal pembangunan. "Penduduk sebesar itu berimplikasi pada penyediaan pangan, energi, alokasi lahan permukiman, dan meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan," kata Amarsyah dalam seminar nasional "Dimensi Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan" di Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan, Indonesia menghadapi berbagai masalah kependudukan yang harus segera ditangani, seperti ketidakmerataan persebaran penduduk yang mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa. "57,49 persen penduduk terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan luas lahannya hanya tujuh persen dari luas Indonesia," kata dia. Sementara, lanjut Amarsyah, luar Jawa khususnya di Indonesia Timur, jumlah penduduknya relatif jarang dan mendiami areal yang luas. Dampak lanjutannya adalah terjadinya ketimpangan pertumbuhan antara kota dan desa. Hal itu terkait penyediaan infrastruktur yang juga tidak merata. "Jumlah penduduk yang besar bukan sekadar jadi masalah ekonomi, tapi juga terkait masalah persoalan politik dan idiologis," tegasnya. Ketua ISI Khairil Anwar Notodiputro dalam presentasinya memaparkan, Indonesia perlu belajar dari hancurnya Uni Soviet dan Yugoslavia. "Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat bisa mengakibatkan perpecahan bangsa," kata dia. Namun, menurutnya, jika pemerintah bisa mengatasi masalah kependudukan dengan baik dan mampu mengelola sumber daya manusia, maka jumlah penduduk yang banyak bisa menjadi potensi pembangunan. Indonesia, katanya, harus mengadopsi cara mengatasi lonjakan penduduk dari China yang telah memiliki strategi jitu dalam mengatasi ledakan penduduk dan kerusakan lingkungan. Jumlah penduduk yang mencapai 237,6 juta jiwa,tambah Khairil, jangan dianggap enteng karena laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan berubah menjadi bencana yang mengerikan. "Jika tidak dipikirkan serius, kita akan mengalami kelaparan massal," tegasnya. Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Wynandin Imawan mengatakan, laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen sudah mengkhawatirkan. Angka ini naik dari periode 1990–2000 yang mencatat laju pertumbuhan 1,45 persen. "Kita semula memperkirakan laju pertumbuhan bisa ditekan hampir satu persen," katanya. (bernadette lilia nova)(Koran SI/Koran SI/ade) Filed under: Berita Lingkungan Lokal |
| Please”, Jangan Bergantung pada Nasi… Posted: 21 Oct 2010 05:50 AM PDT Disadur dari Kompas.com JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam momen peringatan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day 2010 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, pemerintah bersama sejumlah institusi terkait kembali mengangkat tema “Kemandirian Pangan untuk Memerangi Kelaparan”. Peringatan melalui seminar internasional yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan digelar di Hotel Borobudur, Kamis (21/10/2010). Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Indroyono Soesilo mengatakan, pemerintah membagi strategi memerangi kelaparan dalam langkah-langkah jangka pendek serta jangka menengah dan panjang. Namun, menurut dia, pemerintah sangat berkonsentrasi dengan upaya diversifikasi pangan sebagai bagian dari langkah jangka panjang. “Ini yang selalu kami ulang. Kita punya banyak sumber karbohidrat yang lain, jadi tolong jangan terlalu bergantung pada nasi. Kita punya ubi jalar, singkong, kalau dimakan dengan lauk yang lain, juga tinggi proteinnya,” ungkapnya dalam bahasa Inggris. Indroyono mengatakan, Indonesia memiliki setidaknya 77 bahan makanan lokal yang mengandung karbohidrat yang hampir sama dengan nasi sehingga bisa dijadikan substitusi. Oleh karena itu, gerakan diversifikasi pangan sebetulnya tidak terlalu sulit. “Sulit kalau tidak ada kemauan kita bersama. Apalagi kalau dulu, Maluku, misalnya, sudah terbiasa makan sagu, sekarang bergeser ke nasi,” tambahnya. Menurut Indroyono, pemerintah sudah menggalakkan sejumlah gerakan untuk mengganti konsumsi nasi dan gandum dengan makanan-makanan seperti roti dan mi berbahan baku lokal, seperti dari ubi jalar, sagu, dan singkong. “Kalau kita mau memiliki ketahanan pangan, kita harus mengarahkan semua itu lokal. Karena kalau enggak, kita enggak kuat dan bergantung pada impor. Gandum kan impor,” ujarnya. Link ke artikel serupa: Umbi-umbian, alternatif beras yang baik dan berlimpah Filed under: Berita Lingkungan Lokal, Lingkungan Rumah, Sehat Hijau Tagged: hari pangan sedunia, jagung, nasi, ubi |
| You are subscribed to email updates from Aku Ingin Hijau To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment