Saturday, November 12, 2011

Anang's Blog

Anang's Blog


Sebelas Sebelas Sebelas

Posted: 11 Nov 2011 06:50 PM PST


Tanggal sebelas bulan sebelas tahun (dua ribu) sebelas memang telah lewat. Beragam cara dilakukan oleh orang untuk merayakan tanggal spesial tersebut. Semua serba sebelas. Ya, kejadian langka yang hanya datang setahun sekali disambut dengan aneka suka cita.

Ibu-ibu hamil yang sudah siap melahirkan pun memaksa untuk bisa melahirkan anak mereka di tanggal cantik... Operasi sesar pun tak mengapa dijalani. Sebuah gengsi tersendiri bila memiliki tanggal lahir dengan deretan angka 1, 11-11-11. :)

Tanggal cantik tersebut pun menjadi kenangan indah bagi saudara saya . Kebetulan kemarin, saudara saya menikah. Pemilihan tanggal pernikahan di tanggal cantik dan di bulan baik, bulan besar, sudah direncakanan awal tahun ini. Blog biru mengucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amin....

Ngomong-ngomong soal tanggal cantik, bulan baik dan pernikahan. Kemarin ada lebih dari 50 agenda pernikahan di kecamatan sebelah. Wah, gimana ya caranya pak penghulu menghadiri satu persatu pernikahan tanggal cantik tersebut.. Hehehe....

Anang's Blog Selanjutnya...

Wednesday, November 9, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Berang-berang Indonesia Bukan Pembuat Bendungan

Posted: 09 Nov 2011 06:56 PM PST

Berang-berang Indonesia bukan pembuat bendungan, ini yang sering kali belum dimengerti. Setiap kali mendengar istilah berang-berang yang terlintas adalah sesosok makhuk mirip musang yang hidup di air dan suka menyusun ranting-ranting menjadi sebuah bendungan kokoh di sungai. Padahal dalam bahasa … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Monday, November 7, 2011

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Sawah Lunto Trip Sejarah di Kota Tambang Berbudaya

Posted: 06 Nov 2011 05:48 PM PST

Tak hanya bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang bisa dijumpai disini, lokomotif uap yang usianya lebih dari seratus tahun juga siap membawa Anda menghirup suasana Eropa di Sawahlunto.

Awalnya merasa aneh dan asing berjalan kaki sendirian menyusuri jalan berliku dan menurun. Tidak ada satupun orang berjalan, meski trotoar untuk pejalan kaki pada sisi jalan tertata rapi berpadu dengan rimbunan hijau daun. Semua orang tampak
berkendara. Sejenak terlintas untuk memberhentikan kendaraan dan ikut menumpang sampal tujuan layaknya pengembara pada film-film Hollywood.

Tapi niat itu urung saya lakukan, karena pemandangan menyusuri jalan dari penginapan menuju pusat kota Sawahlunto begitu menakjubkan saya akan menikmati sambil mencari sudut pengambilan gambar yang bagus. Kota kecil di Sumatera Barat yang pernah jaya dengan tambang batu bara ini mempunyai topografi dan bentangan alam yang sangat menarik.

Secara geografis “kota Arang” ini terletak pada 0.34-0.46 Lintang Selatan dan 100.41-100.49 Bujur Timur. Menunjukkan Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera.

Letaknya berada pada ketinggian antara 250-650 meter di atas permukaan laut. Namun demikian, kota peninggalan Belanda ini terbilang cukup panas karena kandungan batu bara didalamnya, suhunya berkisar antara 22,5 sampai 27,5 derajat celsius.

Atas dasar hal tersebut, bagi Anda yang ingin berwisata ke Sawahlunto sebaiknya memakai pakaian yang mudah menyerap keringat dan nyaman dipakai. Kendati kota ini baru beberapa tahun menjelma menjadi kota wisata, Sawahlunto memiliki obyek wisata sejarah andalan yang dapat dinikmati. Atmosfer wisata membawa kita kepada eksotisme kejayaan peninggalan Belanda, sangat kental dengan aroma kolonialisme.

Pemandangan kota tua yang masih terpelihara langsung manyeruak pandangan mata. Dari kejauhan sejumlah bangunan tua bertebaran menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran atau aneka kios diatas tanah yang berbukit. Diatas bukit yang masih dominan warna hijau pepohonan terpampang tulisan Sawahlunto. Inilah wisata kota tua yang masih terjaga dengan baik.

Ada beberapa bangunan peninggalan yang menjadi landmark (penanda kota) Sawahlunto. Langkah kaki pun terhenti ketika melihat tiga buah tabung beton raksasa. Penduduk setempat menyebutnya Silo, merupakan tempat penyimpanan batubara yang masih berdiri kokoh menceritakan kejayaan masa lalu kepada siapapun yang datang. Ini menjadi penanda kota yang saya jumpai pertama.

Bangunan kedua beraksitektur Belanda yang juga membuat kagum mata adalah kantor PT. BA (Bukit Asam) yang lokasinya tepat di jantung kota. Dibangun pada 1916 dan masih terawat dengan baik sesuai fungsinya, meski warna dindingnya sudah tidak asli lagi.

Lokasinya berpadu dengan taman berbentuk segitiga, sehingga masyarakat menyebutnya dengan lapangan segitiga. Disinilah warga biasa berkumpul menikmati senja dan liburan setiap minggunya. Dan di sini pula tempat berbagai acara lokal maupun nasional digelar oleh pemerintah kota setempat.

Berjalan lagi menyusuri bangunan-bangunan tua, ada sebuah galeri infobox yang bercerita mengenai sejarah tambang. Foto-foto pekerja tambang, peralatan, seragam, bahkan rantai dan borgol besi yang dipakai oleh orang rantai (sebutan pekerja tambang zaman kolonial) menjadi koleksi galeri ini.

Di sebelahnya terdapat obyek wisata Lobang Mbah Suro. Ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif lagi. Nama obyek di ambil dari seorang pekerja tambang dengan jabatan mandor yang bernama Mbah Suro.

Bekas ekploitasi tambang ini mulai di gali pada 1898 oleh orang-orang rantai dan merupakan tambang pertama di patahan Soegar. Ditutup sebelum 1930 karena tingginya rembesan air. Kemudian dibuka kembali sebagai obyek wisata tambang lengkap dengan galeri infobox dan monumen orang rantai buah karya salah satu keturunan dari orang rantai, Suparman dan anaknya.

Monumen berupa dua orang pekerja tambang sedang mendorong troly berisi batu bara di bawah pengawasan menir berpakaian Belanda, merupakan gambaran kehidupan orang rantai yang bekerja di bawah kerasnya dunia tambang zaman penjajahan. Meskipun mereka sudah berada dalam aturan ketat pekerjaan tetapi kaki mereka tetap di rantai.

Suasana mencekam seolah merasakan apa yang mereka rasakan dibawah tekanan penguasa ketika mulai memasuki lobang. Pengunjung dipersilahkan menyusuri Lobang Mbah Suro dengan pendamping. Sebelumnya harus memakai pakaian standar berupa helm dan sepatu boot yang telah tersedia.

Tidak jauh dari Lobang Mbah Suro masih ada sebuah bangunan peninggalan lain yang kini menjadi Museum Gudang Ransum. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat koleksi peralatan masak serba besar yang pernah dipergunakan dapur umum untuk pekerja tambang. Dibangun pada 1918, koleksi dan keterangan di dalamnya juga menceritakan betapa kejamnya dunia tambang.

Pada bekas dapur umum ini perampasan makanan dan keributan sesama pekerja sudah lazim terjadi ketika itu. Disamping koleksi dapur umum, komplek Gugang Ransum ini juga menceritakan sejarah masa lalu dari berbagai segi kehidupan yang tertuang pada beberapa galeri. Diantaranya galeri etnografi, galeri foto tempo dulu, pusat peragaan Iptek, dan galeri Malaka sebagai bentuk kerjasama Sawahlunto dengan negeri Malaka (twin city).

Selesai pada bagian ini, sejarah peninggalan lain tampaknya menunggu untuk dikunjungi. Sawahlunto memiliiki sebuah Museum Kereta Api yang diresmikan lima tahun lalu. Museum ini dahulunya merupakan sebuah Stasiun Kereta Api yang dibangun 1912, dan tidak dipakai lagi sejak 2003 karena pengangkutan batu bara ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api.

Ada satu koleksi kereta uap yang kini difungsikan sebagai kereta wisata dengan rute Sawahlunto – Muara Kelaban pulang pergi. Memakan waktu sekitar setengah jam, dan melewati terowongan sepanjang 1 km akan menjadi kenangan tersendiri di Kota Tambang ini.

Namun sayangnya biaya operasional yang sangat tinggi mengakibatkan wisatawan enggan mencarter kereta wisata untuk mengenang masa lalu. Sekali perjalanan menghabiskan batu bara kurang lebih satu ton. Tapi untuk kalangan pelajar, pemerintah kota memberikan subsidi 50 persen.

Lokomotif uap seri E 1060 yang diberi nama “Mak Itam” ini merupakan kereta yang pernah beroperasi di Sawahlunto. Kemudian sempat menjadi koleksi Museum kereta Api di Ambarawa, Semarang. Tahun 2009 Pemkot Sawahlunto meminta kembali untuk menjadi kereta wisata dan koleksi Museum Kereta Api di Sawahlunto.

Masih dengan wisata sejarah, peninggalan Komplek Pemakaman membuktikan kejayaan Belanda di Sawahlunto. Pemakaman orang-orang Belanda dan sebagian juga Cina menunjukkan bahwa dahulu mereka menempati hierarki sosial atas. Pemakaman di bangun dengan struktur fisik yang indah.

Berkunjung ke Sawahlunto tentu akan mengembalikan ingatan kita pada zaman kolonial di negeri ini. Suasananya melambungkan jauh imajinasi ke Eropa sana dengan penataan kota dan bangunan yang ada. Bahkan tempat menginap wisatawan pun beraroma tempo dulu dengan banguna kuno yang berubah fungsi menjad hotel dan wisma.

Namun, terlepas dari sejarah yang begitu kental, keragaman budaya dan penduduknya yang multietnis mencirikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Maka jangan heran jika Anda menjumpai banyak penduduk yang berbincang dengan bahasa Jawa. Karena memang mereka orang Jawa yang merantau, atau keturunan orang rantai yang telah menjadi warga Sawahlunto. Jangan heran pula jika kesenian kuda lumping kerap ditampilkan dan tidak asing di sini.

Sumber: Majalah Travel Club

Sepotong Cerita dari Tanjung Lesung

Posted: 06 Nov 2011 05:29 PM PST

Segudang aktifitas wisata bahari menjadi pilihan di kawasan Tanjung Lesung Beach Resort. Sebuah lokasi ideal untuk menikmati indahnya senja dengan desiran ombak kecil di bibir pantai berpasir halus.

Sebuah perjalanan panjang dari Jakarta berakhir di Desa Tanjung Jaya, Pandeglang, Banten. Hari mulai merambat senja ketika minibus yang saya tumpangi bersama teman-teman wartawan memasuki kawasan wisata Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang.

Jalan beraspal dengan ruas yang tidak lebar membuat kendaraan yang saya tumpangi harus berhati-hati dalam memacu kecepatan. Jarak kawasan wisata Tanjung Lesung dari Jakarta terbilang tidak jauh hanya sekitar 170 km. Sebuah jarak yang masih sangat nyaman untuk dicapai menggunakan jalur darat.

Bicara keindahan alam kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon ini tentu tak perlu lagi disangsikan lagi, sebuah perjalanan wisata menyenangkan akan membekas bagi mereka yang sudah mengunjunginya. Pesona alam pantai Tanjung Lesung telah menjadi buah bibir dan santapan para pembuat berita.

Kawasan Tanjung Lesung merupakan perairan yang menjorok ke darat atau biasa disebut teluk, bentuk teluk ini menyerupai Lesung, masyarakat Sunda mengenal Lesung sebagai alat penumbuk padi (sebagian ada juga yang menyebutnya Lisung) maka dari sinilah nama Tanjung Lesung itu berasal.

Tanjung Lesung Resort (TLR) telah dikembangkan sejak 1998. Meski masih dalam pengembangan, fasilitas pendukung pariwisata telah tersedia lengkap disini. Beragam kegiatan wisata bahari bisa dilakukan mulai snorkling, diving, banana boat, canoing, pedal boat, atau sekadar bermain hangatnya air yang begitu jernih. Harga untuk menikmati fasilitas water sport cukup terjangkau.

Tanjung Lesung Resort dikonsepkan sebagai sebuah kota resor dengan beragam fasilitas. Sekarang ini baru 200 hektar yang tergarap dari 1500 hektar luas kawasan TLR. The Bay Villas, Kalicaa Villa, The Beach Club, blue fish adalah beberapa resor dan hotel yang telah berdiri. Dengan segala fasilitas dan pesona alamnya nampaknya kawasan ini juga sangat cocok bagi mereka yang ingin berbulan madu.

Entah ungkapan apa yang pantas LIMA menggambarkan syahdunya sunsana di Pantai Bodur, Tanjung Lesung, sebuah lokasi yang tepat menyaksikan sang mentari melangkah pasti menuju ufuk barat. Semburat cahayanya memancarkan warna merah di unjung senja, hembusan angin dan halusnya pasir pantai semakin melengkapi. Menikmati Sunset menjadi aktivitas berkesan sebelum menyantap hidangan malam.

Hari kedua di Tanjung Lesung saya manfaatkan untuk menikmati serunya kegiatan wisata bahari. Snorkling menjadi pilihan pertama setelah puas mengabadikan pesona alam pantai landai berpasir putih. Hanya berjarak sekitar 100m dari bibir pantai beraneka ikan warna-warni sudah bisa disaksikan. Sayang saya tak membekali diri dengan kamera bawah air untuk mengabadikan keindahan taman air Tanjung Lesung.

Kandungan garam yang cukup tinggi sangat memungkinkan Anda mudah mengapung di atas air. Selain snorkling saya mencoba pula menikmati indahnya laut dengan Jetski dan Banana Boat. sungguh sebuah pengalaman seru yang terus memacu adrenalin.

Saat matahari mulai meninggi, kami siap dengan aktifitas selanjutnya, yaitu makan siang menu yang khas. Penyajian makan siang yang di tempat ini amat unik, dengan cara bancakan, yaitu makan besama diatas daun pisang. Sebuah ritual makan yang bisa mengakrabkan.

Selesai makan siang rombongan dibawa berkeliling melihat fasilitas camping ground, fasilitas yang disediakan bagi mereka yang ingin menikmati alam terbuka di tepian pantai. Setelah puas berkeliling, saatnya untuk kembali ke villa sebelum akhirnya berkemas untuk pulang ke Jakarta. Selamat tinggal Tanjung Lesung pesona alammu meninggalkan cerita indah dari perjalanan singkat ini.

Tips Perjalanan

Meski jalan menuju Tanjung Lesung terbilang bagus, namun ruas jalan yang tidak terlalu lebar membuat Anda harus berhati-hati ketika berkendara, paling penting siapkan stamina sebelum menempuh perjalanan ke Tanjung Lesung.

Sepanjang jalan menuju Tanjung Lesung kini sudah banyak berdiri minimarket, jadi Anda bisa membeli berbagai kepeluan selama perjalanan. Ada baiknya melakukan pejalanan di pagi hari, sehingga Anda bisa menikmati keindahan senja hari di kawasan Tanjung Lesung secara utuh.

Dari Jakarta, ada dua pilihan rute menuju Tanjung Lesung. Melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Serang Timur. Selepas melintas Kota Serang, perjalanan dilanjutkan ke arah Kota Pandeglang dan Labuan.

Mayoritas wisatawan dari Jakarta lebih memilih jalur ini karena waktu tempuhnya yang relatif lebih singkat. melalui jalur ini perjalanan dari Jakarta sampai ke Tanjung Lesung bisa di capai 3-3,5 jam.

Alternatif jalur Kedua, sama melalui jalan tol Jakarta-Merak, namun keluar melalui gerbang tol Cilegon. perjalanan ini melintasi wilayah pesisir Anyer-Carita, kemudian menuju arah Labuan, dan berujung di kawasan Tanjung Lesung.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum, Bus menuju Labuan bisa melalui terminal Kalideres. Setelah mencapai Labuan, Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota menuju desa Cibaliung. Dari Cibaliung untuk mencapai Tanjung Lesung biasanya menggunakan ojeg.

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...

Sunday, November 6, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Para Pemimpin Dunia Dukung New7Wonders

Posted: 06 Nov 2011 02:30 PM PST

Para pemimpin dunia ternyata memberikan dukungan pada New7Wonders. Setidaknya, para pemimpin dunia itu ikut melakukan kampanye voting kandidat New 7 Wonderes of Nature yang berasal dari negara atau kawasannya. Para pemimpin dunia yang turut serta memberikan dukungan dalam ajang pemilihan … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Anang's Blog

Anang's Blog


Selamat Hari Raya Idul Adha 1432 H

Posted: 05 Nov 2011 06:12 PM PDT


Gema takbir berkumandang mengagungkan asma Allah menyambut senja di awal tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Berbagai macam kebiasaan dan ritual di berbagai daerah dalam merayakan hari raya ini.

Semuanya hanya demi satu tujuan yakni menyambut hari raya Idul Adha. Musholla dan masjid-masjid menyerukan takbir tahmid tahlil. Anak-anak kecil dari berbagai taman pendidikan Alquran bersemarak dan bersemangat takbir keliling... Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar walillah ilhamd...

Di saat itu, umat muslim merayakan salah satu dari dua hari raya mereka. Hari raya yang menurut orang jawa disebutnya sebagai hari raya besar. Ya, hal itu dikarenakan begitu besarnya perayaan yang dibuat dalam rangka hari raya Idul Adha ini.

Konon menurut hikayat menerangkan bahwa hari raya Idul Adha ini diperingati jauh lebih semarak dibanding Idul Fitri, dan sepertinya kondisi berbalik sekarang... Yah meskipun, esensi dari perayaan Idul Adha tidak menurun...

Satu poin penting di hari raya Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. Tidak semata-mata hanya menyembelih, tetapi maknanya meluas menjadi derma, kasih, dan keihklasan dalam berbagi.... Penyembelihan hewan kurban merupakan penghormatan kepada satu peristiwa agung yang dijalani oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Dan di bulan besar ini biasanya disertai dengan buanyak acara pernikahan. Hehehe.. Hari baik kata mereka... :)

Banyak hal yang patut digarisbawahi dari peristiwa setahun sekali ini. Pertama, kita harus mampu meningkatkan kepekaan sosial dengan menyisihkan sebagian harta kita untuk dibelanjakan di jalan Agama. Kedua, kita juga harus mampu menyemangati diri untuk menyisihkan uang belanja untuk amplop pesta pernikahan... Hehehehe.....


Ohya, bicara masalah hewan kurban, bila Shaun the sheep tidak tayang lagi, maka kemungkinan ia sudah masuk surga.... :)

Anang's Blog Selanjutnya...

Saturday, November 5, 2011

Aku Ingin Hijau

Aku Ingin Hijau


Peta kelaparan dunia

Posted: 04 Nov 2011 08:00 PM PDT

Apakah kita siap?

Apakah pangan kita cukup?

Apakah kita tergantung bahan pangan impor?

Apakah ikut Keluarga Berencana suatu pilihan atau keharusan?


Filed under: Fakta Lingkungan, Populasi Tagged: ledakan populasi, peta kelaparan

Aku Ingin Hijau Selanjutnya...

Friday, November 4, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Pohon Kepayang, Kluwek, atau Picung Bikin Mabuk Kepayang

Posted: 04 Nov 2011 03:20 PM PDT

Pohon kepayang, kluwek, atau picung memang bisa bikin mabuk kepayang. Bahkan istilah mabuk kepayang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satunya mempunyai arti 'mabuk karena makan buah kepayang'. Anehnya, meski memabukkan kepayang justru sering dipakai sebagai bumbu masakan terutama rawon. … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...