Potlot Adventure |
| Sawah Lunto Trip Sejarah di Kota Tambang Berbudaya Posted: 06 Nov 2011 05:48 PM PST
Awalnya merasa aneh dan asing berjalan kaki sendirian menyusuri jalan berliku dan menurun. Tidak ada satupun orang berjalan, meski trotoar untuk pejalan kaki pada sisi jalan tertata rapi berpadu dengan rimbunan hijau daun. Semua orang tampak Tapi niat itu urung saya lakukan, karena pemandangan menyusuri jalan dari penginapan menuju pusat kota Sawahlunto begitu menakjubkan saya akan menikmati sambil mencari sudut pengambilan gambar yang bagus. Kota kecil di Sumatera Barat yang pernah jaya dengan tambang batu bara ini mempunyai topografi dan bentangan alam yang sangat menarik. Secara geografis “kota Arang” ini terletak pada 0.34-0.46 Lintang Selatan dan 100.41-100.49 Bujur Timur. Menunjukkan Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi pada bagian tengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Letaknya berada pada ketinggian antara 250-650 meter di atas permukaan laut. Namun demikian, kota peninggalan Belanda ini terbilang cukup panas karena kandungan batu bara didalamnya, suhunya berkisar antara 22,5 sampai 27,5 derajat celsius. Atas dasar hal tersebut, bagi Anda yang ingin berwisata ke Sawahlunto sebaiknya memakai pakaian yang mudah menyerap keringat dan nyaman dipakai. Kendati kota ini baru beberapa tahun menjelma menjadi kota wisata, Sawahlunto memiliki obyek wisata sejarah andalan yang dapat dinikmati. Atmosfer wisata membawa kita kepada eksotisme kejayaan peninggalan Belanda, sangat kental dengan aroma kolonialisme. Pemandangan kota tua yang masih terpelihara langsung manyeruak pandangan mata. Dari kejauhan sejumlah bangunan tua bertebaran menjadi tempat tinggal penduduk, perkantoran atau aneka kios diatas tanah yang berbukit. Diatas bukit yang masih dominan warna hijau pepohonan terpampang tulisan Sawahlunto. Inilah wisata kota tua yang masih terjaga dengan baik. Ada beberapa bangunan peninggalan yang menjadi landmark (penanda kota) Sawahlunto. Langkah kaki pun terhenti ketika melihat tiga buah tabung beton raksasa. Penduduk setempat menyebutnya Silo, merupakan tempat penyimpanan batubara yang masih berdiri kokoh menceritakan kejayaan masa lalu kepada siapapun yang datang. Ini menjadi penanda kota yang saya jumpai pertama.
Lokasinya berpadu dengan taman berbentuk segitiga, sehingga masyarakat menyebutnya dengan lapangan segitiga. Disinilah warga biasa berkumpul menikmati senja dan liburan setiap minggunya. Dan di sini pula tempat berbagai acara lokal maupun nasional digelar oleh pemerintah kota setempat. Berjalan lagi menyusuri bangunan-bangunan tua, ada sebuah galeri infobox yang bercerita mengenai sejarah tambang. Foto-foto pekerja tambang, peralatan, seragam, bahkan rantai dan borgol besi yang dipakai oleh orang rantai (sebutan pekerja tambang zaman kolonial) menjadi koleksi galeri ini. Di sebelahnya terdapat obyek wisata Lobang Mbah Suro. Ini merupakan bekas tambang yang sudah tidak aktif lagi. Nama obyek di ambil dari seorang pekerja tambang dengan jabatan mandor yang bernama Mbah Suro. Bekas ekploitasi tambang ini mulai di gali pada 1898 oleh orang-orang rantai dan merupakan tambang pertama di patahan Soegar. Ditutup sebelum 1930 karena tingginya rembesan air. Kemudian dibuka kembali sebagai obyek wisata tambang lengkap dengan galeri infobox dan monumen orang rantai buah karya salah satu keturunan dari orang rantai, Suparman dan anaknya. Monumen berupa dua orang pekerja tambang sedang mendorong troly berisi batu bara di bawah pengawasan menir berpakaian Belanda, merupakan gambaran kehidupan orang rantai yang bekerja di bawah kerasnya dunia tambang zaman penjajahan. Meskipun mereka sudah berada dalam aturan ketat pekerjaan tetapi kaki mereka tetap di rantai. Suasana mencekam seolah merasakan apa yang mereka rasakan dibawah tekanan penguasa ketika mulai memasuki lobang. Pengunjung dipersilahkan menyusuri Lobang Mbah Suro dengan pendamping. Sebelumnya harus memakai pakaian standar berupa helm dan sepatu boot yang telah tersedia. Tidak jauh dari Lobang Mbah Suro masih ada sebuah bangunan peninggalan lain yang kini menjadi Museum Gudang Ransum. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat koleksi peralatan masak serba besar yang pernah dipergunakan dapur umum untuk pekerja tambang. Dibangun pada 1918, koleksi dan keterangan di dalamnya juga menceritakan betapa kejamnya dunia tambang. Pada bekas dapur umum ini perampasan makanan dan keributan sesama pekerja sudah lazim terjadi ketika itu. Disamping koleksi dapur umum, komplek Gugang Ransum ini juga menceritakan sejarah masa lalu dari berbagai segi kehidupan yang tertuang pada beberapa galeri. Diantaranya galeri etnografi, galeri foto tempo dulu, pusat peragaan Iptek, dan galeri Malaka sebagai bentuk kerjasama Sawahlunto dengan negeri Malaka (twin city). Selesai pada bagian ini, sejarah peninggalan lain tampaknya menunggu untuk dikunjungi. Sawahlunto memiliiki sebuah Museum Kereta Api yang diresmikan lima tahun lalu. Museum ini dahulunya merupakan sebuah Stasiun Kereta Api yang dibangun 1912, dan tidak dipakai lagi sejak 2003 karena pengangkutan batu bara ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api.
Namun sayangnya biaya operasional yang sangat tinggi mengakibatkan wisatawan enggan mencarter kereta wisata untuk mengenang masa lalu. Sekali perjalanan menghabiskan batu bara kurang lebih satu ton. Tapi untuk kalangan pelajar, pemerintah kota memberikan subsidi 50 persen. Lokomotif uap seri E 1060 yang diberi nama “Mak Itam” ini merupakan kereta yang pernah beroperasi di Sawahlunto. Kemudian sempat menjadi koleksi Museum kereta Api di Ambarawa, Semarang. Tahun 2009 Pemkot Sawahlunto meminta kembali untuk menjadi kereta wisata dan koleksi Museum Kereta Api di Sawahlunto. Masih dengan wisata sejarah, peninggalan Komplek Pemakaman membuktikan kejayaan Belanda di Sawahlunto. Pemakaman orang-orang Belanda dan sebagian juga Cina menunjukkan bahwa dahulu mereka menempati hierarki sosial atas. Pemakaman di bangun dengan struktur fisik yang indah. Berkunjung ke Sawahlunto tentu akan mengembalikan ingatan kita pada zaman kolonial di negeri ini. Suasananya melambungkan jauh imajinasi ke Eropa sana dengan penataan kota dan bangunan yang ada. Bahkan tempat menginap wisatawan pun beraroma tempo dulu dengan banguna kuno yang berubah fungsi menjad hotel dan wisma. Namun, terlepas dari sejarah yang begitu kental, keragaman budaya dan penduduknya yang multietnis mencirikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Maka jangan heran jika Anda menjumpai banyak penduduk yang berbincang dengan bahasa Jawa. Karena memang mereka orang Jawa yang merantau, atau keturunan orang rantai yang telah menjadi warga Sawahlunto. Jangan heran pula jika kesenian kuda lumping kerap ditampilkan dan tidak asing di sini. Sumber: Majalah Travel Club |
| Sepotong Cerita dari Tanjung Lesung Posted: 06 Nov 2011 05:29 PM PST
Sebuah perjalanan panjang dari Jakarta berakhir di Desa Tanjung Jaya, Pandeglang, Banten. Hari mulai merambat senja ketika minibus yang saya tumpangi bersama teman-teman wartawan memasuki kawasan wisata Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang. Jalan beraspal dengan ruas yang tidak lebar membuat kendaraan yang saya tumpangi harus berhati-hati dalam memacu kecepatan. Jarak kawasan wisata Tanjung Lesung dari Jakarta terbilang tidak jauh hanya sekitar 170 km. Sebuah jarak yang masih sangat nyaman untuk dicapai menggunakan jalur darat. Bicara keindahan alam kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon ini tentu tak perlu lagi disangsikan lagi, sebuah perjalanan wisata menyenangkan akan membekas bagi mereka yang sudah mengunjunginya. Pesona alam pantai Tanjung Lesung telah menjadi buah bibir dan santapan para pembuat berita. Kawasan Tanjung Lesung merupakan perairan yang menjorok ke darat atau biasa disebut teluk, bentuk teluk ini menyerupai Lesung, masyarakat Sunda mengenal Lesung sebagai alat penumbuk padi (sebagian ada juga yang menyebutnya Lisung) maka dari sinilah nama Tanjung Lesung itu berasal. Tanjung Lesung Resort (TLR) telah dikembangkan sejak 1998. Meski masih dalam pengembangan, fasilitas pendukung pariwisata telah tersedia lengkap disini. Beragam kegiatan wisata bahari bisa dilakukan mulai snorkling, diving, banana boat, canoing, pedal boat, atau sekadar bermain hangatnya air yang begitu jernih. Harga untuk menikmati fasilitas water sport cukup terjangkau. Tanjung Lesung Resort dikonsepkan sebagai sebuah kota resor dengan beragam fasilitas. Sekarang ini baru 200 hektar yang tergarap dari 1500 hektar luas kawasan TLR. The Bay Villas, Kalicaa Villa, The Beach Club, blue fish adalah beberapa resor dan hotel yang telah berdiri. Dengan segala fasilitas dan pesona alamnya nampaknya kawasan ini juga sangat cocok bagi mereka yang ingin berbulan madu. Entah ungkapan apa yang pantas LIMA menggambarkan syahdunya sunsana di Pantai Bodur, Tanjung Lesung, sebuah lokasi yang tepat menyaksikan sang mentari melangkah pasti menuju ufuk barat. Semburat cahayanya memancarkan warna merah di unjung senja, hembusan angin dan halusnya pasir pantai semakin melengkapi. Menikmati Sunset menjadi aktivitas berkesan sebelum menyantap hidangan malam. Hari kedua di Tanjung Lesung saya manfaatkan untuk menikmati serunya kegiatan wisata bahari. Snorkling menjadi pilihan pertama setelah puas mengabadikan pesona alam pantai landai berpasir putih. Hanya berjarak sekitar 100m dari bibir pantai beraneka ikan warna-warni sudah bisa disaksikan. Sayang saya tak membekali diri dengan kamera bawah air untuk mengabadikan keindahan taman air Tanjung Lesung. Kandungan garam yang cukup tinggi sangat memungkinkan Anda mudah mengapung di atas air. Selain snorkling saya mencoba pula menikmati indahnya laut dengan Jetski dan Banana Boat. sungguh sebuah pengalaman seru yang terus memacu adrenalin. Saat matahari mulai meninggi, kami siap dengan aktifitas selanjutnya, yaitu makan siang menu yang khas. Penyajian makan siang yang di tempat ini amat unik, dengan cara bancakan, yaitu makan besama diatas daun pisang. Sebuah ritual makan yang bisa mengakrabkan. Selesai makan siang rombongan dibawa berkeliling melihat fasilitas camping ground, fasilitas yang disediakan bagi mereka yang ingin menikmati alam terbuka di tepian pantai. Setelah puas berkeliling, saatnya untuk kembali ke villa sebelum akhirnya berkemas untuk pulang ke Jakarta. Selamat tinggal Tanjung Lesung pesona alammu meninggalkan cerita indah dari perjalanan singkat ini. Tips Perjalanan
Sepanjang jalan menuju Tanjung Lesung kini sudah banyak berdiri minimarket, jadi Anda bisa membeli berbagai kepeluan selama perjalanan. Ada baiknya melakukan pejalanan di pagi hari, sehingga Anda bisa menikmati keindahan senja hari di kawasan Tanjung Lesung secara utuh. Dari Jakarta, ada dua pilihan rute menuju Tanjung Lesung. Melalui jalan tol Jakarta-Merak, kemudian keluar di gerbang tol Serang Timur. Selepas melintas Kota Serang, perjalanan dilanjutkan ke arah Kota Pandeglang dan Labuan. Mayoritas wisatawan dari Jakarta lebih memilih jalur ini karena waktu tempuhnya yang relatif lebih singkat. melalui jalur ini perjalanan dari Jakarta sampai ke Tanjung Lesung bisa di capai 3-3,5 jam. Alternatif jalur Kedua, sama melalui jalan tol Jakarta-Merak, namun keluar melalui gerbang tol Cilegon. perjalanan ini melintasi wilayah pesisir Anyer-Carita, kemudian menuju arah Labuan, dan berujung di kawasan Tanjung Lesung. Bagi yang menggunakan kendaraan umum, Bus menuju Labuan bisa melalui terminal Kalideres. Setelah mencapai Labuan, Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota menuju desa Cibaliung. Dari Cibaliung untuk mencapai Tanjung Lesung biasanya menggunakan ojeg. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment