Tuesday, September 21, 2010

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Pulau Sepa, Demi Wisata Domestik

Posted: 21 Sep 2010 06:36 AM PDT

Wisatawan ialah orang yang bepergian dari tempat tinggal ke suatu tujuan di mana dia menginap lebih dari satu hari, tidak untuk bekerja atau berpenghasilan setempat. Itu rumusan praktis mengenai wisatawan.
Motivasi dan tujuannya bermacam: liburan, kunjungan keluarga, menghadiri konperensi, urusan bisnis dan lainnya. Kalau bepergian hanya satu hari, tergolonglah ia sebagai piknik, rekreasi, atau melancong.

Pulau Sepa, yang trade-mark-nya Sepa Island Resort dengan fasilitas hotel dan berbagai sarananya, kita ambil sebagai model. Pulau resor ini memang pantas untuk pelancong, piknik, tetapi juga wisnus bahkan wisman.
Telah sejak tahun 1984 dioperasikan. Terdapat 38 kamar berbentuk single bungalow, couple bungalow dan lodges, setiap kamar bisa mengakomodasi empat tempat tidur. Tiga boat masing-masing bisa mengangkut 40 orang dan satu boat lagi dengan kemampuan angkut 16 orang, disediakan untuk melayani tamu-tamunya.
Berangkat setiap hari pukul delapan pagi dari pantai Ancol, Jakarta, tiba di Pulau Sepa pukul 10. Untuk kembali ke Jakarta, jadual berangkatnya dari pulau itu setiap hari pukul dua siang.
Siapa sajakah yang berwisata ke pulau ini? Ternyata, 50 % warganegara Indonesia, 50 % warganegara asing, yang kebanyakan expatriates yang tinggal di Jakarta. Padahal sebelum peristiwa 11 September, wisman dari Eropa menjadi pelanggannya. Sejak akhir tahun lalu mulai disasarnya kategori wisnus dan expatriates di luar Jakarta. Pengelola "Sepa Island Resort" tampak aktif melakukan promosi ke luar Jakarta, termasuk Debotabek (Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi), sampai Jawa Timur dan pulau Bali. Spesifik apakah yang ditawarkannya?
Di antara gugusan Kepulauan Seribu di teluk Jakarta, di pulau ini pantai pasir putihnya paling kondusif untuk dinikmati orang bersantai, berjemur, mandi laut. Di sekelilingnya terdapat diving-spot. Hijaunya pulau ini dengan rimba kecil, membuat pengunjung menikmati back-to-nature.
Fasilitas olahraga volley, badminton, tennis meja dan aktifitas di laut dengan banana-boat, jetski, glass-bottom-boat, water-ski dll. tersedia.
Ada suguhan tari-tari tradisional di malam akhir pekan. Dan, setiap karyawan resort tampak bermotivasi kuat memberi pelayanan yang personalized.
Akhir pekan tentu saja cenderung fully-booked. Karenanya kini wisnus dan wisman yang disasar adalah demi mengisi hari-hari biasa atau weekdays.
Pantas dicoba mengunjunginya, sebagai wisnus maupun pelancong rekreasi.***

Sumber: Sinar Harapan

Potlot Adventure Selanjutnya...

[New post] Naskah Tulisan Tangan tentang Harry Potter dipamerkan

Naskah Tulisan Tangan tentang Harry Potter dipamerkan

dekadeku | 21 September 2010 pada 10:37 am | Tag: harry potter, naskah, tulisan tangan | Categories: Buku Menjelma Film | URL: http://wp.me/pGrDA-cg

LONDON--Naskah asli dari kisah Harry Potter yang sudah difilmkan dan ditulis tangan oleh pengarangnya, JK Rowling, dipamerkan sebagai bagian dari festival buku di Skotlandia selatan, Senin (20/9).

Dua halaman naskah yang dibingkai dan ditandatangani oleh JK Rowling itu berisi Balada Nick Si Kepala Nyaris Putus. Naskah itu akan ambil bagian dalam festival di kota Wigtown tanggal 24 sampai 3 Oktober. Naskah itu akan dipamerkan di toko buku Reading Lasses di Wigtown.

Seperti dilansir bbc.co.uk, kisah hantu Nick itu awalnya ditulis sebagai bagian dari buku Harry Potter dan Kamar Rahasia tetapi kemudian kedua halaman itu dibuang sehingga tidak termasuk dalam buku yang diterbitkan.

Kedua halaman itu disumbangkan oleh JK Rowling bagi Yayasan Kamus Bahasa Skotlandia tahun 2005 untuk mendukung pengumpulan dana bagi pembuatan kamus baru bahasa asli Skotlandia.

Sekarang halaman naskah asli itu dimiliki oleh seorang kolektor buku terkemuka Inggris dan pemilik jurnal Asia Literary Review, Ilyas Khan, dan belum pernah dipamerkan kepada umum.

Ilyas Khan mengatakan, The Asia Literary Review pernah mendukung berbagai festival buku. ''Tetapi saya harus mengatakan bahwa saya sangat senang kami ikut dalam Festival Wigtown ini," jelasnya. ''Memamerkan naskah Balada Nick si Kepala Nyaris Putus adalah cara yang sangat bagus untuk membantu mendukung acara ini."

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Naskah Tulisan Tangan tentang Harry Potter dipamerkan Selanjutnya...

Monday, September 20, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Barang Berbahaya di Sekitar Kita

Posted: 20 Sep 2010 03:56 AM PDT

Barang berbahaya berada di sekitar kita bahkan tanpa kita sadari barang-barang berbahaya itu kita gunakan sehari-hari. Berbahaya lantaran benda-benda ini mempunyai efek yang merugikan kesehatan. Namun sering kali kita mengabaikan efek negatif dari barang tersebut hanya karena memburu praktis dan … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Tempat Informasi dan Trik Blog Sederhana

Tempat Informasi dan Trik Blog Sederhana


Alquran Ternyata Jadi Di bakar

Posted:

Sekedar Info aja, agar semua sadar bahwa Amerika itu tak sebaik yg dikira. dan supaya para pemuda dan pemudi yg suka sekali Tassabuh (mengikuti) gaya gaya mereka itu dlm berpakaian dan dalam tingkah polah tau betapa jahatnya apa yg ada pada mereka itu. bagaikan sekumpulan rayap yang ada dlm kayu. Liputan6.com, ...

Tempat Informasi dan Trik Blog Sederhana Selanjutnya...

[New post] Buku Carla Bruni: Michelle Obama Anggap Gedung Putih 'Neraka'

Buku Carla Bruni: Michelle Obama Anggap Gedung Putih 'Neraka'

dekadeku | 20 September 2010 pada 7:46 am | Tag: buku carla bruni, buku michelle obama, gedung putih neraka | Categories: Info Unik Seputar Buku | URL: http://wp.me/pGrDA-cd

PARIS--Sebuah buku baru tentang biografi Carla Bruni mengungkap cerita Michelle Obama yang tak betah tinggal di Gedung Putih. Buku berjudul "Carla and the Ambitious" itu menulis isi pembicaraan pribadi antara Michelle dan Carla Bruni di Gedung Putih pada Maret lalu yang menyebut Michelle "tak tahan" hidup di Gedung Putih yang seperti "neraka".

Juru bicara Ibu Negara Amerika, Katie McCormick Lelyveld, seketika membantah isi buku yang ia nilai tak berdasar itu."Ibu negara tak pernah mengatakan hal itu," kata Lelyveld.

Juru bicara kedutaan besar Prancis di Washington Emmanuel Lenain juga membantah isi pembicaraan dalam buku yang baru terbit itu. "Nyonya Bruni tak tahu menahu isi buku itu dan merupakan tanggung jawab pribadi penulisnya," kata Lenain.

Namun, ko-penulis biografi itu, Yves Derai, bersikeras bahwa pernyataan Michelle itu berdasarkan wawancara dengan "sumber yang dapat dipercaya." Derai, dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press, menolak menyebutkan nama sumbernya dan mengatakan itu akan melanggar prinsip-prinsip jurnalistiknya.

Derai adalah seorang wartawan investigasi yang ikut-menulis buku itu bersama seorang jurnalis televisi Prancis. Derai mengakui kata Perancis yang digunakan dalam bagian tersebut, "Enfer," mungkin tidak sesuai secara langsung dengan kata bahasa Inggris "neraka."

Sumber: AP/Washington Post/Republika.co.id

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Buku Carla Bruni: Michelle Obama Anggap Gedung Putih 'Neraka' Selanjutnya...

Sunday, September 19, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Daftar Cagar Alam Indonesia di Papua

Posted: 19 Sep 2010 03:45 AM PDT

Daftar cagar alam Indonesia di Papua merupakan daftar cagar alam yang terletak di provinsi Papua dan Papua Barat. Daftar ini merupakan seri daftar cagar alam di seluruh Indonesia yang terdiri atas daftar cagar alam (CA) di Pulau Sumatera, CA Pulau … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Garut, Menyimpan Belerang dan Sejarah Wisata

Posted: 19 Sep 2010 05:51 AM PDT

GARUT – Kota Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

"Itu Gunung Gede, masih aktif dan dulu sempat meletus," ujar seorang pemandu, saat pertama kali tiba dan melintas kabupaten ini. Baru selepas siang dan sore menjelang, kami langsung menikmati dinginnya udara di sekitar. Pegunungan yang mulai menghilang dibungkus senja, dan malam yang sudah menyuguhkan udara sejuk.
Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai "Switzerland van Java" dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.
Ada juga hotel lain yang berada di luar kota Garut termasuk Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Semarang dan Hotel Cilaut Eureun di Pamengpeuk. Semua hotel itu (termasuk hotel milik Holke van Garut), sayangnya telah hilang, rata dengan tanah atau berubah fungsi dan wujudnya.
Sempat juga kami menjalani jalur "hanya" di sepanjang kaki Gunung Papandayan itu. Tanaman, tanah dan bebatuan di kaki gunung ini sebenarnya diharapkan untuk dipertahankan –beberapa tempat sempat dijadikan penggalian pasir– sebaiknya bisa dihentikan.


Situs Sejarah

Nama Garut sendiri mulanya cukup unik. Di awal tahun 1813, Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, memerintahkan untuk mencari tempat yang cocok sebagai ibu kota kabupaten. Akhirnya, ditemukanlah sebuah tempat yang cocok, berupa tanah datar, subur, lengkap dengan mata air yang terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Berkah alam ini ditambah pula dengan pemandangan yang indah dari gunung-gunung di sekitarnya, yaitu Cikuray, Papandayan, Guntur, Talaga Bodas dan Karacak. Konon, pada masa pemerintahan bupati itulah tempat ini mulai diberi sebutan "Garut".
Sejak awal abad ke-19, Garut memang heterogen dengan masyarakat yang berusaha di perkebunan, bahkan sebagai tempat wisata sejak masa kolonial Belanda. Usaha perkebunan yang terletak di sekitar Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat ketika itu telah dikelola oleh swasta Belanda. Baru pada tahun 1900-1928 diikuti dengan perkebunan karet, teh, kini di daerah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet dan Pameungpeuk.
Dulu, di Garut, ada juga situs candi bernama Candi Cangkuang (konon didirikan pada abad ke-7, pada masa peradaban Hindu-Jawa) yang sebenarnya sudah cukup tua – bahkan konon lebih tua dari candi Prambanan – yang kemudian sayangnya sempat dihancurkan saat sejarah pergolakan ideologi di tahun 1950-an. Sayang sekali, pandangan dan ideologi yang sempit telah menghancurkan tatanan dan peradaban budaya yang begitu dikenal di masa lampau.
Karena pesona itu, beberapa tokoh dunia termasuk Charlie Chaplin, Ratu Beatrix dan keluarga dari Ratu Wilhelmina pernah datang ke wilayah ini.
Sejarah hotel yang akhirnya dibumihanguskan sekitar tahun 1949 itu diinformasikan oleh Bupati Garut (ketika itu Momong Kertasasmita yang mengetahui dokumennya dari cucu Holke van Garut).
Tempat untuk wisata lainnya yang juga menarik dari Garut adalah Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Cangkuang, pemandian air panas, Cipanas Bagendit, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan Pantai Pameungpeuk.

Sumber Alam
"Ikannya dapat, ikannya dapat," suara seorang bocah terdengar histeris saat tali pancingnya ditarik oleh ikan dari air kolam dengan kandungan Manesium Sulfat, unsur yang menyegarkan otot lelah dan tegang. Si bocah tadi, ditemani kakaknya, adalah anak dari salah satu tamu yang datang menginap di "Kampung Sumber Alam" nama areal hunian berupa bungalow dilengkapi dengan restoran, ruang rapat, kolam renang, juga spa yang terletak di wilayah Garut.
Kolam memang tak terpisahkan dari seluruh bungalow yang ada di resor ini. Rumah yang dibangun dan dirancang seperti rumah panggung namun terbuat dari tembok dengan kolam-kolam yang ada di bawahnya, membuat posisi rumah praktis memang berada tepat di tengah air.
"Tiap penghuni bisa memancing ikan yang ada di sini sepuasnya dan bisa meminta kepada kami untuk langsung menggorengnya. Hampir tiap minggu kami akan menambahkan ikan-ikan ini sehingga tak akan habis," ujar Yudi Feriska yang menjadi juga menjabat sebagai Manajer Personalia.
Ikan-ikan yang berenang bisa dilihat dari beranda tiap bungalow yang ada. Selain ikan, kolam ditata dengan tanaman air dan teratai sehingga tetap asri. Airnya pun bukan air tawar biasa. Air yang berasal dari mata air Gunung Gede ini mengandung larutan belerang yang alami. Inilah yang justru menjadi daya tarik utama pada penginapan yang berada di wilayah Garut ini.
Potensi alami yang ada di lingkungan sekeliling yang asri dan sejuk ini dipertahankan. Bentuk bangunan diusahakan tidak direkayasa dan mengambil filosofi bangunan Sunda yang memang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di Garut.
Kampung Sumber Alam, yang dimiliki oleh Rahmat Syukur Maskawan ini selain terdiri dari bungalow juga memiliki fasilitas lain seperti ruang rapat, restoran, kolam renang dan Spa. Kampung Sumber Alam, memiliki fasilitas 40 buah kamar dengan ruang pertemuan Inten Dewata dan Gambir Wangi, Restoran Tanjung Balebat, Kolam Renang air panas alam Tasikmadu, Warung Kopi dan Kamar Rendam Sipatahunan.
Konon, bila air panas semata memang harus dibatasi hingga 15 menit, maka air alam dari Cipanas ini tetap bisa berlama-lama. Karena kualitas air dari Cipanas mengandung sulfur, memang sangat baik untuk para pendatang.
Bangunan Kampung Sumber Alam memang menjadikan batang pohon kelapa sebagai tiang utama di setiap bangunan dengan unsur ijuk dan rumbia diharapkan dapat mengusir dingin buat penghuninya.
Berbagai wilayah dalam areal Kampung Sumber Alam ini pun menggunakan prinsip itu, antara lain: wilayah Tegal Pangulinan (tempat main anak-anak termasuk juga permainan tradisi "anak kampung" antara lain bermain Gatrik, Nangkap Belut, Main Dampu dan permainan tradisi lainnya), Tepas Panampian, di mana ada lesung dan kentongan, pengairan dan jembatan bambu, juga Seke Jajar dan Balong Gede.
Di luar bungalow ini, yang akan didapat dari kekhasan makanan yang dihasilkan oleh penduduk Garut di masa sekarang adalah Dodol atau pun Jeruk Garut.
Sedangkan kerajinan tangan penduduknya termasuk Batik Garutan, Sutera Alam, AkarWangi, juga kerajinan kulit dengan bermacam pengolahan dengan harga yang memang tak seberapa mahal.
(Sinar Harapan/sihar ramses simatupang)

Potlot Adventure Selanjutnya...