Aku Ingin Hijau |
| Kemenangan awal untuk anti soup sirip ikan hiu Posted: 31 May 2012 09:55 AM PDT Kemarin saya kebetulan berbincang dengan chef dari Hotel Shangri-La Jakarta untuk menu-menu makanan. Ternyata saya baru mendapat info bahwa Hotel Shangri-La tidak memperkenankan lagi menghidangkan sup sirip ikan hiu (shark fin soup). Ternyata setelah cari informasi di internet, sudah banyak sekali inisiatif pelarangan hidangan sirip ikan hiu yang dilakukan oleh beberapa hotel seperti contohnya Peninsula Group Hotel dengan total 9 hotel sejak November 2011, Shangri-La dengan total 72 hotel di dunia sejak Januari 2012. Selain itu, Hong Kong Disneyland juga sudah melakukan hal ini sejak tahun 2005.
Tentunya hal ini sangat signifikan bagi perkembangan anti sup sirip ikan hiu karena hotel-hotel ini adalah hotel bintang lima yang terkenal dan karena memiliki banyak lokasi juga bisa memberikan kontribusi yang besar. Hal ini juga bisa menjadi contoh bagi hotel-hotel lain yang lebih kecil untuk lebih memperhatikan keberlangsungan lingkungan atau sustainability. Tapi, apa sebenarnya yang jadi masalah untuk sup sirip ikan hiu ini? Setiap tahun, kira-kira 100 juta ikan hiu mati secara perlahan di dasar laut karena sirip yang diambil oleh nelayan-nelayan. Ikan hiu memerlukan sirip untuk dapat berenang. Ikah hiu harus tetap berenang dan bergerak untuk mendapatkan supply oksigen ke insang mereka sehingga bila tidak berenang lama-lama ikan hiu akan mati. Sirip tersebut dikeringkan lalu dijual terutama untuk pasar di Asia yaitu Hong Kong dan Cina. Akan tetapi, karena makan sirip ikan hiu adalah budaya dari Cina dan karena orang Cina tersebar di seluruh dunia, maka selain pasar utama tersebut, sirip ikan hiu juga dikonsumsi di Amerika, Canada, Eropa, Indonesia, dll. Saat ini beberapa species ikan hiu sudah berkurang hingga 95% sehingga sebentar lagi ikan hiu akan menjadi langka bahkan punah. Beberapa website mengatakan bahwa ikan hiu adalah pembawa keseimbangan di laut. Sehingga sangat penting untuk mempertahankan keberadaan ikan-ikan hiu ini. Secara kesehatan, sirip ikan hiu ternyata tidak banyak memiliki nutrisi dan vitamin karena termasuk tulang rawan. Disamping itu, ikan hiu secara umum memiliki kandungan merkuri yang lebih tinggi akibat penumpukan merkuri dari ikan-ikan yang lebih kecil. Kita semua bisa berkontribusi dalam menyelamatkan ikan hiu dengan ikut tidak makan sup siripmikan hiu dan memberi saran kepada teman dan menyebar informasi ini. Website sharktruth.com memberikan undian voucher kepada pasangan pengantin yang tidak menyajikan sup sirip ikan hiu di hari perkawinan mereka. Semoga dengan kontribusi kita maka ikan hiu pun dapat diselamatkan. Referensi: Shangri-La Hotel Press Release Wall Street Journal – Ban on Shark Fin Soup Advances Through Asia Sirip Ikan Hiu Sebentar Lagi Dilarang Sea Shepherd – Defending Sharks Stop Shark Finning (stopsharkfinning.net) http://www.sharktruth.com/ Filed under: Berita Lingkungan Global, Bisnis Hijau, Lingkungan Kerja, Produk Hijau Tagged: anti shark fin soup, shark fin soup, soup sirip ikan hiu, susrainable hotels |
| Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Tembakau Pembunuh Utama 6 Juta Orang di Dunia Posted: 31 May 2012 08:34 AM PDT Disadur dari National Geographic Indonesia Pada tahun 2030 nanti, tembakau akan membunuh lebih dari delapan juta orang per tahunnya. 600.000 perokok pasif juga turut jadi korban.Andri -bukan nama sebenarnya- gelisah tiap kali melihat sekumpulan orang di hadapannya. Bukan karena sosok tiap individu orang-orang itu. Tapi apa yang ada di genggaman mereka. Rokok. Pria di akhir usia 20-an ini mati-matian berusaha berhenti dari ketergantungannya pada batang berasap itu. Sulitnya bukan main. Kebiasaan merokok sebungkus setiap hari jadi alasan. Nikotin sudah merasuk hebat ke aliran darah dan otak. Melihat aliran rokok dengan mudahnya dihisap orang-orang itu, menggoyahkan tekad Andri. Menurut Komite Nasional Pengendalian Tembakau, apa yang dirasakan Andri adalah hal normal pada tiap perokok berat. Mengingat kandungan zat adiktif yang ada di dalam rokok lebih kuat pengaruhnya ketimbang heroin. Tembakau, bahan dasar pembuatan rokok, membunuh enam juta orang setiap tahunnya. Menjadikan tumbuhan dari genus Nicotiana ini sebagai salah satu penyebab kematian utama di dunia. Ironisnya, “pembunuhan” ini bisa dicegah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendesak negara-negara di dunia untuk melawan derasnya pertumbuhan rokok. Salah satunya dengan penerapan kebijakan yang mampu melindungi masyarakat dari bahaya tembakau. Dr. Margaret Chan sebagai Direktur Jenderal WHO menuding ada perusahaan tembakau yang berusaha mencegah kebijakan ini. Caranya, mengajukan perkara ke pengadilan terhadap pemerintahan pencegah pertumbuhan tembakau. “Kini saatnya kita bersatu dengan pemerintah seperti ini, yang punya keberanian melakukan hal tepat untuk melindungi warga negaranya,” kata Chan menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Kamis(31/5). Diperkirakan pada tahun 2030 nanti, tembakau akan membunuh lebih dari delapan juta orang per tahunnya. Empat dari lima kematian yang terjadi berasal dari negara berpenghasilan menengah dan rendah. Kematian berasal dari kanker, diabetes, penyakit pernapasan akut, dan jantung. Bukan hanya perokok aktif, perokok pasif turut terkena dampaknya. Tembakau membunuh 600.000 perokok pasif per tahunnya. Angka lebih mengerikan terjadi di tahun 2004, di mana sepertiga kematian anak terjadi karena posisinya sebagai perokok pasif. Khusus untuk Indonesia, kita menduduki posisi ketiga di dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 juta penduduk. Pihak Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) menyatakan telah sebanyak 163.923.599 anak dan perempuan Indonesia telah terkontaminasi dan menjadi korban rokok. “Sangat mengkhawatirkan karena mayoritas perokok memulai merokok ketika remaja. Perempuan dan anak adalah target bagi industri rokok,” ungkap Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait dalam acara “Intervensi Industri Rokok, Kejahatan terhadap Hak Kesehatan Anak dan Perempuan” di Jakarta, Senin (28/5). Ditambahkan peneliti Quit Tobacco Indonesia (QTI) Retna Siwi Padmawati, secara sosiologis bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggap sebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan. Seiring tingginya dampak merokok, perlu melakukan tindakan nyata untuk mengendalikannya. Di antaranya pelarangan merokok di tempat kerja di semua institusi, penyediaan kawasan/area merokok, layanan konseling berhenti merokok, serta pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan dampak buruk. Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia! Filed under: Anti Merokok, Berita Lingkungan Lokal |
| You are subscribed to email updates from Aku Ingin Hijau To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment