Potlot Adventure |
| Desa Wisata Kopeng, Semarang – Jawa Tengah Wisata Petik Bunga hingga Hiking Posted: 05 Feb 2012 05:45 PM PST
Kehangatan sikap masyarakat desa pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sini. Berbagai pilihan wisata tersaji seperti wisata alam pegunungan, budaya hingga wisata kuliner. Bagi penyuka bunga dan tanaman hias, terdapat klaster yang menyajikan aneka ragam tanaman bunga dan hias. warna-wani bunga akan membuat betah setiap pengunjung. Harga tanaman yang dijual pun cukup terjangkau, pengunjung tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk belanja tanaman disini. Nikmati juga serunya memetik strawberry langsung dari kebunnya. Untuk kegiatan petik strawberry cocok dilakukan bersama keluarga. Selain bunga, buah dan tanaman hias pengunjung pun bisa berbelanja sayur-sayuran segar. Beragam jenis kerajinan juga dapat diburu sebagai cendramata dari desa yang pada 2009 mendapat predikat sebagai Rintisan Desa Vokasi sekaligus Pilot Project Desa Konservasi ini. Kawasan ini juga menjadi salah satu base camp pendakian ke puncak Gunung Merbabu. Bagi yang senang wisata petualang bisa memilih wahana Kopeng Tree Top Adventure Park. Di Kawasan Desa wisata Kopeng terdapat air terjun Umbul Songo (sembilan mata air). Kesembilan sumber mata air berada di sekitar Tekelan, Contre, Tayengan, Selodhuwur, Kopeng, Peng Jero dan Kali Sati. Menurut cerita masyarakat, Umbul Songo ditemukan oleh para wali pada zaman Kesultanan Demak. Para wali ini kemudian berdoa kepada Allah SWT, memohon dimudahkan memperoleh sumber mata air, guna keperluan bersuci, kemudian keluarlah mata air dengan debit besar. sumber air ini dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan akan air wudhu. Rute panduan dan fasilitas Sumber: Majalah Travel Club |
| Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Sentuhan Budaya di Bumi Sriwijaya Posted: 05 Feb 2012 05:34 PM PST
Bangunan dengan padupadan gaya Eropa dan tradisional rumah limas khas Palembang itu masih tampak kokoh berdiri, tak jauh dari Sungai Musi, dan dekat kawasan Benteng Kuto Besak. Didirikan pada 1823 dan selesai 1825 di masa pemerintahan kolonial Belanda. Bangunan dua lantai ini berfungsi sebagai rumah dinas residen Belanda. Sebelumnya, menurut kisah sejarah, keberadaan gedung tersebut merupakan keraton yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo sekitar 1737. Namun, setelah kekalahan perang dialami pasukan Sultan, Belanda menghancurkan keraton agar tidak ada lagi sisa-sisa peninggalan kesultanan. Selepas penjajahan Belanda, gedung tersebut tidak lagi menjadi rumah dinas, melainkan tiga kali berubah fungsi sebagai markas Jepang, lalu, teritorium II Kodam Sriwijaya diawal kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi museum dibawah pengelolaan Pemerintah Kota Palembang. Dan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau SMB II inilah yang menjadi fokus penjelajahan Kunjung Museum edisi ini. Sebelum melangkah masuk menelusuri sudut demi sudut ruang, pengunjung diharuskan melewati tangga setengah melingkar, terdapat di bagian luar bangunan inti. Saat tiba di pintu masuk museum, sebuah lukisan besar bergambar sosok Sultan Mahmud Badaruddin II terpajang dalam bingkai, serta merta siap menyambut kedatangan para pengunjung. Travel Club pun diajak berkeliling melihat sejarah peradaban kota pempek itu bersama pemandu museum. Di ruang pertama, pengunjung akan menemukan ruang pamer masa Sriwijaya. Ruangan ini menceritakan awal lahirnya Sriwijaya, mulai dari penemuan nama Sriwijaya, berkembangnya kerajaan, hingga keberadaan pendeta Buddha dari Cina, I-tsing yang belajar tata bahasa Sansekerta di Sriwijaya. Kemudian, dilanjutkan ke ruang Pra Kesultanan, ruang Masa Kesultanan Palembang, Masa Kolonialisme Belanda di Palembang, serta ruang Daur Hidup berisi benda-benda berkaitan dengan tradisi orang Palembang dalam menyiapkan peristiwa penting yang perlu diperingati, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan dan kematian. Selain itu, terdapat juga koleksi alat musik jidur, musik tradisional yang terkenal di Sumatera Selatan.
Seluruh koleksi merupakan perwujudan Palembang dari masa ke masa. Termasuk didalamnya terdapat Gelumpai, tidak lain adalah naskah kuno ditulis dengan huruf ‘ULU’ diatas potongan bambu. Lalu, arca Budha Siguntang iuga menarik untuk dilihat. Museum SMB II memang lebih banyak menyimpan peninggalan masa lampau dari sisi etnografika. Jadi, pengunjung bisa mengenal lebih jauh seperti apa budaya tradisional masyarakat Palembang. Nah, bila Anda sedang berada di Palembang, jangan lupa untuk singgah di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan nikmati sejuta pesona Sriwijaya dari dekat. Lokasi museum Jadwal kunjung Tiket Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment