Potlot Adventure |
| Cerita Malin Kundang Jadi Batu Posted: 03 Jul 2011 06:33 PM PDT
Ibunya Malin Kundang merestui walau berat dalam hati. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak,” ujar ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata. Singkat cerita kapal yang ditumpangi Malin Kundang dirampok dan tenggelam bajak laut. Namun, Malin Kundang selamat dan terdampar di sebuah desa yang subur. Disinilah impian Malin terwujud manjadi saudagar yang kaya raya, sehingga beritanya sampai pula pada ibunya nan jauh dikampung halaman. Dalam sebuah pelayaran dengan kapal yang sangat mewah beserta istri, Malin Kundang berlabuh di kampung halaman. Penantian ibunya tiba juga, keyakinan tinggi bahwa saudagar kaya ini adalah anaknya karena ada tanda bekas luka. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?,” katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian. Malin Kundang melepaskan pelukan ibunya seraya mendorongnya hingga jatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu terhadap istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, tidak menduga anaknya menjadi durhaka. Kemarahannya memuncak, ibu Malin Kundang berdoa “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Doa ibu terkabul. Tidak berapa lama angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Legenda ini seolah meninggalkan bukti sejarah yang ada di Pantai Air Manis. Percaya atau tidak, hanya Anda yang bisa menjawab setelah berkunjung ke sana. Sumber: Majalah Travel Club |
| Museum M.H. Thamrin Napak Tilas Rumah Sang Pejuang Posted: 03 Jul 2011 06:28 PM PDT
Museum ini dibangun awal abad ke-20. Sebelum menjadi museum, tempat ini merupakan bekas rumah pemotongan hewan dan tempat penimbunan buah yang datang dari Australia. Kemudian, pada 1929, setelah dibeli M. H. Thamrin, bangunan itu dipakai untuk kegiatan pergerakan nasional sebuah kelompok organisasi yang menamakan dirinya sebagai Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Tidak hanya itu, tempat ini pun sering dipakai untuk menyelenggarakan berbagai macam kongres penting. Diantaranya, pernah digunakan sebagai tempat Kongres Partai Nasional Indonesia (KPNI) I dan II, pada. 18 hingga 20 Mei 1929. Tahun 1930, bangunan tersebut digunakan untuk pementasan sandiwara. Tujuannya tidak lain membangkitkan semangat kepahlawanan para pejuang Indonesia. Dan, masih banyak lagi kongres menuju kemerdekaan kala itu, diadakan di tempat ini. Di tahun yang sama, untuk pertama kalinya, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dalam sebuah orkes, di museum tersebut. Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1960-1964, dipergunakan sebagai tempat pendidikan Kepamong-Prajaan. Bahkan, sempat menjadi tempat kuliah untuk mahasiswa Universitas Jakarta (sekarang berganti nama menjadi UNJ) di tahun 1966-1977. Lalu, benda-benda apa saja yang ada didalam museum ini? Museum ini memiliki dua ruang pamer. Satu ruangan besar untuk memajang benda-benda koleksi, sebut saja blankon, dipan kayu, replika meja keluarga, meja beranda, bale tempat pembaringan terakhir jenazahnya, lemari hias dari marmer, lukisan potret diri dan radio setinggi satu meter. Sementara, ruang lainnya merupakan perpustakaan, berisikan buku-buku sejarah, naskah-naskah M.H. Thamrin, termasuk teks-teks pidato. Pengunjung bisa melihat koleksi foto pejuang kelahiran 16 Februari 1894 ini, mulai dari masa kecil, hingga akhir hayatnya. Selain itu, pengunjung bisa mengetahui kisah perjuangan pahlawan nasional ini melalui diorama. M.H. Thamrin dikenal sebagai sosok yang berani membela kebenaran, semangat, tulus, konsisten membela kaum miskin dan sederhana. Maka, pantas bila pemerintah menganugerahi tanda jasa pahlawan dan mengabadikan sejarahnya dalam Museum M.H. Thamrin, yang diresmikan 11 Januari 1986. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment