Potlot Adventure |
| Museum Kereta Api Ambarawa Lokomotif Tua Punya Cerita Posted: 15 Mar 2011 07:51 PM PDT
Keberadaan stasiun itu tidak terlepas dari pemerintahan kolonial Belanda. Atas dasar pemikiran bahwa Ambarawa adalah kawasan militer Belanda, maka Raja Willem I memerintahkan membangun sebuah stasiun kereta untuk memudahkan pasukannya memasuki Semarang. Dan, pada 21 Mei 1873, stasiun tersebut resmi berdiri dengan sebutan Stasiun Willem I. Hingga akhirnya, tahun 1964, kereta dan stasiun berhenti beroperasi. Lalu, 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah, saat itu dijabat oleh Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksplotasi Soeharso, mengubah Stasiun Willem I menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Tidak ada perubahan dari museum yang berdiri diatas lahan 127.500 meter persegi ini. Semua masih tampak asli, mulai dari bangunan stasiun, ruang tunggu penumpang, selasar kereta api yang tampak bersih dan rapih. Tidak ketinggalan, sarana pendukung perkeretaapian, seperti loket peron, kantor kepala stasiun, ada juga berbagai macam peralatan penting digunakan kala itu. Antara lain, alat komunikasi, pesawat telepon, pesawat telegram, mesin hitung, alat pembolong tiket, topi masinis, stempel, mesin ketik, jam kuno, serta beberapa benda antik lainnya. Koleksi primadona, tidak lain adalah lokomotif-lokomotif tua berwarna hitam. Tersimpan di ruang terbuka, bagian paling depan dari kereta api ini, terlihat bersih dan terawat. Sekitar 21 lokomotif tersimpan baik di sini. Bahkan, empat diantaranya masih bisa beroperasi, sebut saja lokomotif dengan nomor B 2502 dan B 2503. Bayangkan, kereta bergerigi itu masih kuat menempuh perjalanan dengan kemiringan 30 derajat/ml menuju stasiun Bedono yang berjarak 9 km, membutuhkan waktu satu jam perjalanan dan berkapasitas 80 orang. Kebanyakan, lokomotif tersebut buatan Jerman dan Belanda, di abad ke-19.
Selain itu, pengunjung bisa melihat kepala kereta api berbahan bakar kayu jati lainnya, dari Seri B, C, D, hingga CC, adalah jenis paling besar dengan nama CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik. Kini, kereta api uap B 2502 dan B 2503 dijadikan kereta wisata. Bila ada pengunjung yang ingin merasakan naik kereta api uap tempo dulu dengan rute Ambarawa-Bedono, melihat aktifitas masyarakat sekitar sambil menikmati semilir angin pegunungan, bisa menyewa kereta tersebut dengan harga lumayan mahal. Karena itu, disarankan, agar pengunjung tidak menyewa per orang, melainkan rombongan. Bagaimana, tertarik singgah di Museum Kereta Api Ambarawa? Dijamin, Anda tidak rugi menjelajahi obyek wisata sejarah ini, karena selain mendapat pengetahuan sejarah kemunculan kereta api di Indonesia, juga menambah pengalaman baru yakni merasakan sensasi luar biasa menaiki kereta api uap zaman Belanda. Di mana letak Museum Kereta Api Ambarawa? Jl. Stasiun Ambarawa No. 1 Ambarawa Tiket Masuk Bagi yang ingin mencoba Kereta Wisata, terdapat harga khusus, dibuat dalam paket KA Wisata bergerigi Stasiun Ambarawa-Bedono (Pergi-Pulang) Rp 3.250.000 untuk kapasitas 80 orang, dengan jarak 9 km. Sumber: Majalah Travel Club |
| Makan Bajamba Kemasan Pariwisata dari Akar Budaya Posted: 15 Mar 2011 07:31 PM PDT
Tidak hanya Sawahlunto, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat pun melaksanakan budaya yang sama dalam menciptakan keunikan dan daya tarik pariwisata. Di Kabupaten Agam pada momen-momen tertentu, Makan Bajamba menjadi semacam ritual wajib yang mesti dijalankan oleh warga Koto Gadang tersebut. Contoh lain, pada Kabupaten Tanah Datar ketika penyelenggraan lomba balap sepeda internasional “Tour de Singkarak 2010″. Ketika salah satu etape finish di Kapubaten Tanah Datar, seluruh peserta dan official serta tamu undangan mendapat jamuan Makan Bajamba di Istana Pagaruyung. “Ini merupakan suatu strategi marketing jualan pariwisata dengan memanfaatkan budaya, khususnya di Sumatera Barat,” ujar Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementrian Budaya dan Pariwisata waktu itu. Makan Bajamba sendiri memang berasal dari akar budaya Minangkabau yang secara turun temurun masih dilaksanakan hingga saat ini. Merupakan sebuah ritual budaya makan bersama yang diadakan dalam lingkup keluarga dekat, dalam hal ini adanya pertalian darah. Namun demikian, tidak jarang dilakukan dalam lingkup yang lebih luas, seperti persaudaraan satu suku kendati tidak ada hubungan darah (suku dalam adat Minangkabau hampir sama dengan marga dalam adat Batak). Kekeluargaan dan gotong royong sudah terasa pada tahap pertama dalam proses mempersiapkan makanan, karena memasak dilakukan bersama-sama. Kemudian prosesi Makan Bajamba ini dilakukan dengan beberapa aturan yang sudah ditetapkan oleh para leluhur atau sesepuh adat di Bumi Minang. Biasanya ritual ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, kemudian diiringi dengan petuah atau ucapan dari tuan rumah atau pemuka adat yang hadir pada saat itu. Budaya Makan Bajamba memiliki beberapa aturan adat sebagai simbolis penghormatan kepada yang lebih tua, seperti menyuap (mengambil makanan dengan tangan) yang pertama kali harus yang paling tua. Dan yang menambahkan makanan dan lauk pauknya dilakukan oleh anggota keluarga yang paling muda, serta tetap menjaga tata krama dan etika pada saat makan. Makanan disajikan dalam piring-piring besar, biasanya berdiameter minimal 70 cm, dan disantap oleh lima sampai enam orang dalam satu piring atau jamba (wadah) dengan posisi duduk di lantai mengelilingi piring. Posisi perempuan bersimpuh, sedang yang laki-laki baselo (bersila). Tujuannya bila ada nasi yang jatuh ketika hendak masuk mulut tidak kembali masuk ke dalam piring. Jadi, yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi tersebut secara bersama-sama. Lauk pauk yang wajib menjadi teman Makan Bajamba tentunya adalah masakan khas Sumatra Barat, rendang daging yang dicampur dengan kacang pagar. Potongan dagingnya tidak terlalu besar, namun dirasa cukup untuk dimakan berlima. Isi satu porsi rendang adalah tiga potong daging ditambah sedikit kacang dan bumbu rendang. Ketiga jenis lauk tersebut, dihidangkan bersama-sama nasi dalam jamba besar dan ditambah sepiring nasi untuk tambuah (tambahan). Kegunaannya untuk mengelap atau menyerap minyak dari sambal yang sudah dimakan tadi. Sebelum tangan dicuci dalam kobokan, minyak yang melekat di tangan sudah semakin terserap sampai suapan terakhir. Acara Makan Bajamba ini biasanya dijadikan sebagai pelengkap bagian acara adat lainnya seperti pernikahan, khitanan, halal bihalal, khatam Al Quran dan beberapa acara adat lainnya. Inilah mengapa ritual Makan Bajamba dipilih sebagai prosesi adat yang layak jual sebagai daya tarik wisata di Sumatera Barat. Karena sangat sesuai dan mudah dikombinasikan dalam lingkup yang lebih luas sebagai pelengkap acara-acara kabupaten kota, baik bersifat nasional maupun internasional. Sangat menarik memang, terlebih jika prosesi Makan Bajamba sebagai jualan pariwisata selalu diiringi dengan budaya minang lainnya. Dalam perhelatan akbar menyambut ulang tahun Sawahlunto 122 tahun, banyak pagelaran budaya yang menyertainya. Dan tidak pernah ketinggalan tradisi berbalas pantun sebelum proses Makan Bajamba dimulai. Dengan bahasa daerah setempat dan nada serta intonasi yang diakhirnya selalu dengan bunyi yang sama, mengandung kekayaan budaya Melayu yang khas. Mungkin bagi orang yang mengerti bahasa setempat menjadi lebih indah dalam menyelami bunyi dan makna. Ini adalah kekayaan seni dan budaya Indonesia yang berakar pada sastra lisan, dan sudah sepatutnya dilestarikan. Tradisi pantun dalam Makan Bajamba merupakan simbol atau kata salam bagi mereka yang datang (wisatawan) dan kata penerimaan bagi tuan rumah. Sama halnya dengan tradisi buka palang pintu pada masyarakat Betawi, ketika hendak melangsungkan pernikahan.
Warna pakaian yang terang-benderang seperti merah, kuning, merah jambu dan manik-manik yang berkilauan menjadi warna pilihan kaum wanita saat prosesi adat Makan Bajamba berlangsung. Acara makan dimulai ketika pantun ditutup dengan rima terakhir “mari makan”. Suasana santai dan harmonis sangat terasa. Siapapun boleh ikut makan tanpa terkecuali dan tanpa adanya perbedaan. Inilah budaya dan tradisi yang dapat Anda nikmati sebagai kemasan pariwisata. Diantara modernitas jamuan makan secara prasmanan, Makan Bajamba menjadi salah satu cermin kehidupan yang kaya dengan nilai-nilai warisan yang masih dipelihara di Sumatera Barat. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment