Thursday, July 15, 2010

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Wisata Selat Sunda: Dari Pemandangan Pantai hingga Petilasan Gubernur Jenderal Belanda

Posted: 15 Jul 2010 05:43 PM PDT

BANTEN – Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam.

Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya.
Sedangkan cottage-cottage pun bertumbuhan bak jamur di musim hujan, dan terkesan menyembunyikan diri dengan membangun tembok-tembok yang tinggi. Para pengunjung cottage langsung masuk ke area itu dengan kendaraan. Tak banyak aktivitas mereka yang bisa dilihat dari luar. Tembok tinggi memang telah menutupi mereka, dengan alasan menjaga kegiatan pribadi.
Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang.
Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.
Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.
Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia.
Rute alternatif ini tidak serius didandani pemerintah setempat, menimbulkan kesan yang kurang sedap. Jalan sempit dan rusak di beberapa ruasnya. Jika malam, ruas jalan ini benar-benar gelap, sehingga menakutkan pengemudi kendaraan.
Gunung dan Jalan
Selain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang. "Tujuannya untuk mempromosikan wisata di Selat Sunda. Dalam momen ini juga berlangsung transaksi antara perusahaan pariwisata dengan pengelola wisata dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun 2004 ada 15 negara yang mengirimkan pengusahanya," kata Sulaeman Affandi, Kepala Disbudpar Banten kepada SH.
Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.
Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.
Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut.
Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang.
Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. (*)

Iman Nur Rosyadi – Sinar Harapan

Berbelit Ular di Delta Mekong

Posted: 15 Jul 2010 04:56 PM PDT

Anda ingin bepergian keluar negeri dengan ongkos murah? Vietnam adalah jawabannya. Dengan harga tiket satu juta rupiah dan berbekal sedikit uang dollar, kita sudah bisa pergi ke Negeri Paman Ho yang penuh objek wisata ini. Bagi yang suka shopping dan makan, Vietnam boleh dibilang surga juga.

Boleh dibilang Vietnam memang serba murah. Hotel Nam De yang terletak di Nguyen Trai St, hanya memasang tarif Rp 400.000 untuk family room. Satu hal hal yang perlu dicatat, jangan menukarkan dolar di Vietnam. Di sini, 100 dolar AS hanya ditukar 1 juta dong, di Jakarta bisa mendapat 2 juta dong.

Co Ben Thanh

Di sini tak sulit menjumpai mal dan toko yang menjual perhiasan serta baju. Namun, menarik berbelanja di pasar tradisional Co Ben Thanh. Mereka menjual T-shirt berlogo Vietnam, aksesori, tas, alat rumah tangga dari porselen, kopi Vietnam yang terkenal, sampai makanan dari hasil laut yang sudah dikemas cantik. Satu set seprei bordir tangan hanya berharga 300 dong.

Lelah belanja, tujuan selanjutnya pasti makan. Banyak orang tampak menghirup sup panas. Springroll alias lumpia yang dibungkus tipis menerawang sangat menggugah selera, tetapi isinya dicampur daging babi. Yang juga sangat menggoda adalah udang besar dicocol sambal dan dimakan dengan nasi panas.

Berbagai makanan khas Vietnam, dari yang berkuah sampai dipanggang, boleh dicoba. Saran bagi umat Muslim, harus cermat memilih karena masakan di sini rata-rata dikombinasikan daging babi.

Sebagai pekerja keras dan gigih, masyarakat Vietnam juga menyukai suasana santai. Hampir di sepanjang trotoar bisa kita menjumpai kafe kaki lima. Pengunjung duduk di kursi-kursi sangat rendah sambil minum kopi hitam pekat, atau minum kelapa muda yang dikupas cantik. Biasanya mereka mengobrol sambil menikmati lalu-lalang motor yang mengalahkan Jakarta.

Di depan kursi, ada banyak gerobak makanan. Kita bisa beli kacang, jagung rebus, atau ikan dan cumi bakar.

Menyusuri Mekong dan terowongan Chu Chi

Kesempatan menyusuri Delta Mekong dan mengunjungi beberapa pulau kecil yang sedikit penghuninya sungguh tak terlupakan. Di setiap pulau yang disinggahi, tampak kebun buah-buahan. Jenisnya sama dengan yang ada di Indonesia. Bedanya, buah-buahan di sini lebih besar dan manis.

Kita disuguhi potongan buah dan minuman segar sambil menikmati tarian tradisional. Ada juga yang mendemonstrasikan cara membuat kue dari kelapa atau manisan jahe.

Kenangan “ngeri” yang melekat sampai sekarang, yaitu berfoto bersama ular besar milik seorang penduduk setempat. Ketika ular besar itu dikalungkan ke leher saya, rasanya dingin, licin, berminyak, dan berat!

Terowongan Chu Chi tidak boleh dilewatkan. Chu Chi adalah tempat bersejarah peninggalan gerilyawan Vietkong, sewaktu perang melawan AS. Letaknya di luar Ho Chi Minh City, perlu waktu perjalanan dua jam dengan mobil.

Terowongan ini sudah ada sejak Vietnam dijajah Perancis, digunakan penduduk untuk menghindari kerja paksa. Jalur terowongan sangat berliku, terdiri atas beberapa tingkat dilengkapi tempat tinggal, rumah sakit, sumur, dapur umum, serta tempat penyimpanan logistik dan persenjataan.

Menurut pemandu, terowongan bisa menembus perbatasan negara sekitar. Kedalamannya ada yang mencapai lima, tujuh, dan sembilan meter. Dari atas, seluruh lorong ini tidak akan terlihat karena tertutup daun-daun kering. Di sini dapat disaksikan peninggalan Vietkong seperti amunisi berat, ranjau, patung gerilyawan, dan tank-tank AS yang dilumpuhkan.

Menyusuri terowongan itu, wou…sempit dan pengap, tingginya hanya satu meter. Sekali mencoba harus terus karena sulit untuk berbalik. Bagi yang bertubuh besar, lebih bik jangan coba-coba.

Acara menjelajah Chu Chi diakhiri dengan menikmati makanan khas tentara Vietkong, yaitu singkong rebus dan teh hijau. Tak beda dengan menu pejuang kita.

Sumber: Senior

0 comments: