Potlot Adventure |
| Tetirah di Lereng Gunung Merapi Posted: 03 May 2010 05:22 PM PDT
Beberapa ahli geologi Belanda yang bermukim di Yogyakarta, melakukan ekspedisi ke arah utara kota. Ekspedisi dilakukan untuk mencari daerah berudara sejuk yang akan dijadikan lokasi tetirah. Setelah melakukan perjalanan melelahkan, meneer-meneer itu akhirnya sampai di lereng selatan Gunung Merapi. Disekitar ketinggian 900 di atas permukaan laut, mereka menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan. Lukisan alam membentang dengan hamparan pepohonan nan menghijau. Kawasan ini akhirnya disepakati akan dijadikan sebagai lokasi peristirahatan dan tempat berlibur keluarga mereka. Perjalanan sekelompok ahli geologi itu dilakukan sekitar awal abad ke-19. Kawasan yang dikenal dengan nama Kaliurang itu kemudian dibangun, berbagai sarana pendukung tempat peristirahatan pun didirikan. Orang-orang Belanda mengawalinya dengan membangun 30 bungalo pribadi. Selain membangun bungalo, fasilitas lainnya pun dibangun. Akses jalan ke tempat-tempat yang memiliki sudut pandang menarik di sekitar kawasan dibuka. Inilah awal wilayah Kaliurang menjadi destinasi kawasan wisata. Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, kompleks peristirahatan ini ditinggalkan para pemiliknya. Bungalo-bungalo kemudian berpindah tangan kepada orang-orang pribumi. Dua tahun berselang, tepatnya 13 Januari 1948, kawasan Kaliurang dimanfaatkan sebagai tempat pertemuan antara pemerintah Indonesia dan Komisi Tiga Negara (KTN). Perundingan lni menghasilkan sebuah kesepakatan yang disebut Notulen Kaliurang. Sekarang, Kaliurang telah menjadi salah satu destinasi liburan utama di Provinsi Yogyakarta. Dengan pemandangan alam yang memukau dan udara yang sejuk, berkisar antara 20-25 derajat Celcius, kawasan menjadi tempat cocok sebagai lokasi beristirahat, berlibur dan melepas lelah. Satu yang tak pernah berubah, Kaliurang merupakan lokasi tepat sebagai tempat wisata keluarga. Dalam kawasan wisata yang terletak di Kabupaten Sleman ini terdapat sebuah taman rekreasi seluas 10.000 meter persegi. Taman ini cukup ideal sebagai lokasi berlibur bersama keluarga tercinta. Anak-anak dapat leluasa berlarian atau bermain. Jika belum puas, lanjutkan perjalanan menuju ke arah timur laut, sekitar 300 meter dari lokasi taman, terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo. Taman ini dilengkapi dengan fasilitas kolam renang mini yang airnya berasal dari mata air di lereng Bukit Plawangan, di antara kerimbunan pohon. Bila ingin menikmati pemandangan Kaliurang secara menyeluruh, bisa berkeliling menggunakan kereta kelinci. Kendaraan ini biasa mangkal di depan taman wisata yang banyak terdapat dengan kios-kios penjaja makanan. Kereta yang biasa di sebut Sepoer akan mengajak berkeliling Kaliurang dari sisi timur ke barat. Melewati gardu pandang, dalam kondisi cuaca cerah pemandangan gunung merapi yang memukau akan tersaji secara jelas. Bagi yang tertarik memantau Gunung Merapi bisa memanfaatkan menara pandang yang disediakan di sisi barat kawasan ini, pengunjung juga bisa menyewa teropong agar lebih dekat dan jelas memantau gunung yang terkenal masih aktif ini. Suasanan malam hari disini tak kalah menarik, sejuknya angin dan heningnya malam akan menjadi teman yang cocok bagi yang tengah mencari kedamaian. Beragam tempat penginapan bisa dipilih, mulai kelas wisma hingga hotel berbintang di Kaliurang.
Awalnya, museum yang pendiriannya diprakarsai Keluarga Haryono di bawah Yayasan Ulateng Blencong ini didedikasikan untuk melindungi dan menyelamatkan karya-karya batik kuno yang banyak diburu kolektor asing. Selain mengoleksi benda yang berkaitan dengan batik, museum ini banyak menyimpan koleksi yang berhubungan dengan sejarah Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Koleksi yang bisa disaksikan antara lain foto-foto kuno bangsawan jawa, lukisan tiga dimensi karya Raden Saleh. Selain kaya akan koleksi benda bernilai tinggi, Ulen Sentallu juga memiliki arsitektur yang unik, sebagian besar bangunannya berada di bawah tanah. Museum ini sering pula menyelenggarakan workshop yang berkaitan dengan seni budaya Mataram, karya lukis, arsitektur indis-jawa, wisata budaya, outbond, juga penyelenggaraan pameran. Sebelum pulang, sebaiknya sempatkan untuk membeli buah tangan di kios-kios yang ada disekitar kawasan wisata ini, salah satu buah tangan terkenal adalah tempe bacem dan jadah (kudapan khas yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa). Sumber: Majalah Travel Club |
| Menjaga Tradisi dari Atas Perahu Posted: 03 May 2010 05:13 PM PDT
Riuh suasana pedagang dengan pembeli tawar menawar yang didominasi kaum wanita berbahasa Banjar terasa semakin menyemarakkan suasana pagi. Demikian sekelumit suasana di Muara Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sebelum azan subuh berkumandang, aktivitas masyarakat berperahu di sungai Barito sudah dimulai pedagang berperahu yang berjualan di pasar Muara Kuin. Entah sejak kapan rutinitas ini dimulai, tak ada yang bisa menjelaskannya dengan pasti. Kegiatan perekonomian diatas air ini sudah ada sejak jaman dahulu, bermula dari pedagang-pedagang dari sungai-sungai yang ada di Kota Banjarmasin yang bertemu. Sistem perdagangan yang digunakan awalnya adalah sistem saling bertukar barang dagangan atau yang disebut Sistem Barter. Hingga kini, pasar terapung tetap berlangsung dan terjaga dengan baik. Meski serbuan pasar-pasar moderen begitu gencar. Pasar Muara Kuin tetap tak tergantikan. Pedagang dan barang yang dijual di sini mungkin tak berbeda dengan pasar tradisional di daerah lainnya di Indonesia. Namun, keunikan terletak pada aktivitas jual beli berlangsung di atas sebuah sungai yang melintasi Kota Banjarmasin. Pasar ini lebih populerdengan sebutan Pasar Terapung. Pedagang di Pasar Terapung begitu antusias menawarkan dagangannya kepada calon pembeli. Biasanya si penjual yang mendatangi calon pembelinya, bukan sebaliknya. Para pembelinya pun menggunakan Jukung (sejenis perahu) untuk berbelanja. Tak jarang sering terjadi kejar mengejar pedagang dengan pembeli, mereka begitu lincah dalam mengemudikan jukungnya. Jukung merupakan istilah yang digunakan masyarakat Banjar untuk menyebut perahu kecil yang terbuat dari kayu. Orang yang datang ke pasar ini tak hanya untuk kepentingan berbelanja, banyak juga yang sekadar ingin menikmati sarapan pagi diatas perahu yang menjual hidangan sarapan, atau berburu kudapan tradisional khas Kalimantan Selatan, tak kalah menarik dari aktifitas pasar ini adalah masih berlakunya sistem transaksi barter atau yang dalam masyarakat Banjar dikenal dengan nama bapanduk. Sama seperti pasar tradisional pada umumnya yang berada di darat, Pasar Terapung juga memiliki ketentuan dalam mengatur lokasi tempat berjualan. Ada lokasi yang diisi dengan pedagang buah-buahan. Ada lokasi yang diperuntukkan khusus untuk pedagang sayuran dan seterusnya. Aktivitas perdagangan pasar terapung mencerminkan kebudayaan masayarakat di Kota Seribu Sungai ini. Aliran sungai adalah kehidupan, tempat mereka tinggal sekaligus mencari kesejahteraan. Berdagang dan belanja di atas aliran sungai bukan semata upaya mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, lebih dari itu. Mempertahankan aktifitas ini juga melestarikan sebuah warisan leluhur. Di pinggir sungai, bisa disaksikan rumah-rumah penduduk yang terapung. Wisatawan bisa bermalam dengan menyewa rumah-rumah yang disebut Lanting ini. Untuk masayarakat lain, keberadaan pasar di atas air mungkin tak biasa. Tak heran Pasar Terapung menjadi sebuah daya tarik. Kini, Pasar Terapung tak hanya menjadi tempat trasansaksi jual-beli tetapi menjadi daya tarik wisata, melebur dan menikmati serunya berbelanja di atas sungai menggunakan perahu yang terombang-ambing digoyang ombak sungai akan menjadi pengalaman menarik berwisata di kota yang juga dikenal dengan predikat Kota Seribu Menara ini. Pasar Terapung Muara Kuin menjadi banyak tujuan para penyuka fotografi. Aktivitas pasar ini menjadi obyek menarik untuk diabadikan. Aktivitas pasar terapung hanya berlangsung hingga sekitar pukul 8.00-09.00. Jika ingin menikmati keunikan Pasar Terapung, sebaiknya berangkat ketika hari masih fajar agar bisa lebih puas menyaksikan aktivitasnya. Waktu yang tepat, tiba di lokasi sekitar pukul 05.30 atau pukul 06.00. Selain suasana sudah ramai kondisipun sudah mulai benderang. Cara Cepat Menuju Muara Kuin Ada ungkapan yang mengatakan tak lengkap jika berkunjung ke Banjarmasin sebelum datang dan belanja di Pasar Terapung Muara Kuin. Begitu terkenalnya pasar ini membuat setiap wisatawan yang melancong ke Banjarmasin selalu menyisihkan waktu untuk mengunjunginya. Untuk mencapai daerah ini tidaklah sulit. salah satu alternatif untuk mencapainya adalah melalui jalan darat. Dari pusat kota hanya butuh waktu sekitar 15-20 menit menuju Dermaga Kuin. Disarankan untuk menggunakan jalur sungai yang bisa ditempuh dari banyak dermaga di sana. Termasuk dermaga di depan Pemkot Banjarmasin. Sekarang, terdapat perahu wisata yang menawarkan paket keliling Muara Kuin. Rute yang ditempuh perahu wisata itu dengan menyusuri Sungai Martapura, melalui Makam Sultan Suriansyah, berlanjut menyaksikan pasar terapung, setelah menikmati Pasar terapung perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kembang sebagai lokasi akhir. Setelah itu, ditempuh perjalanan kembali menyusuri Sungai Martapura hingga ke dermaga semula. Sumber: Majalah Travel Club |
| You are subscribed to email updates from Potlot Adventure To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
0 comments:
Post a Comment