Saturday, June 4, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Artikel-artikel Tentang Lingkungan Hidup dari Para Blogger

Posted: 04 Jun 2011 03:40 PM PDT

Artikel-artikel tentang lingkungan hidup dari para Blogger Indonesia ini merupakan daftar artikel bertemakan lingkungan hidup. Artikel-artikel ini merupakan jawaban atas tantangan yang Alamendah lontarkan kepada para blogger Indonesia dua hari lalu. Tantangan untuk memposting artikel (tulisan) bertemakan lingkungan hidup sebagai … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Museum Taman Prasasti: Kala Nisan Bercerita

Posted: 04 Jun 2011 04:09 PM PDT

Buang jauh-jauh pikiran seram ketika menginjakkan kaki di Museum Taman Prasasti, karena museum ini justru menawarkan keindahan seni rupa, bahkan sering dijadikan obyek fotografi maupun video bagi berbagai kalangan masyarakat.

Tidak seperti kebanyakan museum dengan koleksi-koleksi tersimpan dalam ruangan tertutup, di sini seluruh koleksi berada di ruang terbuka. Wajar demikian, sebelum berubah menjadi museum, bangunan yang terletak di Jalan Tanah Abang I No. 1, Jakarta Pusat itu, awalnya merupakan lokasi pemakaman kaum bangsawan serta pejabat tinggi Belanda, sejak 28 September 1795.

Pemakaman tersebut lebih dikenal sebagai Kerkhoof Laan, lalu berubah menjadi Kebon Jahe Kober. Pada 1975, bangunan itu sempat ditutup, lalu tahun 1977 dibuka sebagai Museum Taman Prasasti, dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin.

Sebelum melangkah masuk, pengunjung disambut dengan bangunan kuno bergaya Doria. Ruang kosong dan ramai dengan pilar penyangga, dahulunya dijadikan ruang tunggu para pelayat dan keluarga. Di bagian kiri dan kanan bangunan disiapkan sebagai tempat persemayaman jenazah prig dan wanita. Namun, sekarang ruang tersebut berfungsi sebagai gerbang masuk dan loket pembelian tiket.

Setelah melewati gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhkan hamparan nisan dalam beragam bentuk dengan hiasan ornamen-ornamen seperti patung malaikat, monumen, replika manusia, serta lempengan batu. Setiap nisan memiliki gayanya sendiri, sebut saja gaya arsitektur klasisisme, neo-gothic dan Hindu-Jawa. Sementara, pembuatan nisan tercatat dari abad ke-17 hingga abad ke-20.

Jika pengunjung memulai penelusuran dari arah kiri, maka akan ditemukan kereta jenazah peninggalan Belanda yang keberadaannya masih terlihat utuh. Di sisi ini, juga terdapat nisan dari H.F.Roll, dokter asal Belanda sekaligus pencetus gagasan berdirinya STOVIA.

Tokoh lain yang namanya disemayamkan adalah J.H.R. Kohler, komandan Belanda saat perang Aceh, Monsignor Adami Caroli Claessens, Olivia Marianne Raffles, merupakan istri Thomas Stamford Raffles, bahkan kaum pribumi, seperti Soe Hok Gie dan Miss Tjitjih, pemain teater terkenal di zamannya, ikut menyatu bersama nisan-nisan yang tertanam di lahan seluas 1,3 hektare itu.

Selain prasasti unik, Museum Taman Prasasti dilengkapi pula taman dengan pohon-pohon besar nan rindang. Hingga akhirnya, taman tersebut turut difungsikan untuk pelestarian alam dan paru-paru kota.

Dengan menjelajah museum ini, pengunjung diharapkan bisa mempelajari sejarah keberadaan masyarakat Jakarta dari berbagai macam strata sosial, komposisi penduduk Jakarta saat itu, juga mengetahui beragam bahasa yang digunakan.

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...

Friday, June 3, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Sejuta Sepeda Sejuta Pohon di 100 Kota

Posted: 03 Jun 2011 03:40 PM PDT

Sejuta Sepeda, Sejuta Pohon merupakan salah satu kegiatan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2011. Kegiatan Sejuta Sepeda, Sejuta Pohon yang akan dilaksanakan tepat pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2011, serentak di 100 kota, … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Aku Ingin Hijau

Aku Ingin Hijau


Video: The Majestic Plastic Bag

Posted: 02 Jun 2011 09:34 AM PDT

Ini adalah Video yang dibuat oleh organisasi Heal The Bay yang berada di Santa Monica Bay dengan judul The Majestic Plastic Bag –  A Mockumentary“.

Video ini menceritakan sebuah kisah perjalanan “hidup” sebuah kantong plastik yang “liar” berada di kota dan akhirnya dari sungai berujung ke laut.

Plastik tidak dapat terdaur ulang secara alami dan pada akhirnya pun diceritakan bahwa plastik akhirnya akan terpecah-pecah menjadi milyaran bagian yang sangat kecil (microplastics). Microplastics yang sangat kecil ini akhirnya pun termakan oleh hewan-hewan di laut yang dimakan manusia sehingga akan sangat membahayakan kesehatan, karena sama saja seperti memakan plastik yang mana dasarnya adalah minyak bumi.

Bagaimanapun juga, plastik adalah salah satu bahan yang sangat berguna bagi kehidupan kita. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah plastik yang dibuang dengan cara yang tidak benar sehingga mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan.

Diharapkan dengan menonton film ini maka akan semakin banyak orang yang menyadari akan bahaya dari membuang kantong plastik atau plastik secara sembarangan. Sehingga sebisa mungkin mengurangi penggunaan kantong plastik, dan yang terpenting adalah membuang sampah pada tempatnya, dimanapun, kapanpun.

Link: YouTube: The Majestic Plastic Bag – A Mockumentary 


Filed under: Berita Lingkungan Global, Fakta Lingkungan Tagged: daur ulang plastik, majestic plastic bag, microplastic

Aku Ingin Hijau Selanjutnya...

Thursday, June 2, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Tantangan untuk Para Blogger Indonesia

Posted: 02 Jun 2011 03:40 PM PDT

Tantangan untuk para blogger Indonesia ini terkait dengan puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2011 yang akan diperingati secara global besok, 5 Juni 2011. Tantangannya cukup sederhana, mudah, dan murah, tentunya buat para sahabat blogger Indonesia. Yang pasti tantangan ini … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Aku Ingin Hijau

Aku Ingin Hijau


Sirip Ikan Hiu Sebentar Lagi Dilarang

Posted: 01 Jun 2011 08:00 PM PDT

Disadur dari Vivanews.com

VIVAnews – Para penentang pelarangan konsumsi sirip ikan hiu tengah berharap-harap cemas karena pemerintah Amerika Serikat akan melakukan pemilihan suara untuk memperkenankan atau melarang perdagangan bahan baku santapan yang sangat populer tersebut.

Sebenarnya, apakah ada hal positif yang diraih dari memakan sirip ikan hiu seperti yang dibayangkan selama ini yang manfaatnya lebih besar dibandingkan rusaknya lingkungan akibat penangkapan besar-besaran hewan tersebut?

Seperti diketahui, di China, selama berabad-abad, sirip ikan hiu dipercaya mengandung zat yang banyak membawa manfaat. Namun tampaknya, makanan tersebut tidak memiliki rasa apa-apa. Bahkan para penggemar sirip hiu sekalipun mengakui bahwa makanan itu tidak memiliki banyak rasa.

Bukan karena kelezatannya, sirip hiu lebih digemari karena teksturnya kenyal, berurat dan berserabut. Tekstur makanan sendiri dianggap sangat penting bagi masakan Asia pada umumnya. Meski begitu, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membantai ikan hiu.

Dari sisi kandungan, menurut peneliti asal Food and Nutrition Information Center, sirip hiu tidak mengandung banyak nutrisi. Sirip itu umumnya terdiri dari tulang rawan, yang secara umum tidak mengandung vitamin.

Para pelaku pengobatan alternatif mengklaim bahwa tulang rawan hiu memiliki zat yang memerangi kanker. Padahal, klaim ini sendiri berasal dari keyakinan yang salah bahwa hiu tidak terkena kanker. Menurut National Cancer Institute, hanya satu penelitian klinis terhadap tulang rawan hiu sebagai cara perawatan kanker pada manusia yang pernah dipublikasikan di jurnal terkemuka dan itupun menunjukkan bahwa tulang rawan hiu tidak efektif melawan kanker.

"Kami mengujicoba secara farmasi apakah ekstrak dari tulang rawan hiu juga dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pasien yang tengah berjuang melawan kanker paru-paru," kata Charles Lu, onkolog dari M.D. Anderson Cancer Center, Houston, yang mengetuai penelitian itu di 2010 lalu.

Ketika itu, Lu menyebutkan, ia dan rekan-rekannya melakukan perawatan tambahan terhadap pasien yang mendapatkan kemoterapi dengan memberikan beberapa dosis ekstrak ikan hiu dalam jumlah yang berbeda terhadap 397 pasien. "Sayangnya, kami tidak melihat peningkatan dari peluang keberhasilan," ucap Lu, seperti dikutip dari Life's Little Mysteries, 1 Juni 2011.

Bahkan, sirip hiu justru malah sangat tidak sehat. Sama seperti produk ikan lainnya, mereka kemungkinan mengandung merkuri dalam dosis yang cukup berbahaya. Merkuri sendiri hadir akibat polusi di samudera. Dan sebagai anggota tertinggi dari rantai makanan, hiu berpotensi mengandung merkuri lebih tinggi dibanding makhluk laut lainnya.

Sebagai gambaran, tahun 2001 lalu, Wild Aid, sebuah kelompok pengamat lingkungan pada laporannya mengungkapkan bahwa mereka menemukan merkuri dalam level yang sangat berbahaya pada sirip hiu yang ditemukan di Hong Kong. Angkanya 42 kali lebih tinggi dibanding batas aman bagi tubuh manusia. Padahal sirip hiu itu dipasarkan ke seluruh dunia.

Artinya, dengan kata lain, sirip hiu justru berbahaya bagi kesehatan, bukannya membawa manfaat. Dan kemungkinan, dalam waktu dekat ia akan dilarang untuk dikonsumsi di California, Amerika Serikat. (sj)
• VIVAnews


Filed under: Berita Lingkungan Global, Fakta Lingkungan Tagged: shark fin, sirip hiu

Aku Ingin Hijau Selanjutnya...

Wednesday, June 1, 2011

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Sansevieria atau Lidah Mertua Tumbuhan Penyerap Racun

Posted: 01 Jun 2011 03:40 PM PDT

Sansevieria atau lidah mertua merupakan salah satu tumbuhan yang mampu menyerap racun (polutan) berbahaya di udara. Tanaman sansevieria atau Lidah Mertua mampu bertindak sebagai pembersih udara dengan menyerap dan menetralisir polutan (racun) dari udara. Tanaman penyerap racun yang mempunyai bentuk … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...