Monday, October 25, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Ternyata Hari Ini, 25 Oktober, Saya Ulang Tahun

Posted: 25 Oct 2010 03:29 AM PDT

Ternyata hari ini saya ulang tahun. Yup, hari ini tanggal 25 Oktober ternyata merupakan hari ulang tahun saya yang nyaris tidak saya ingat. Paling tidak hingga ada beberapa sms ucapan selamat yang masuk ke inbox sms saya. Saya memang tidak … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Sunday, October 24, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Jalak Suren Burung Penjaga Rumah

Posted: 24 Oct 2010 07:34 AM PDT

Burung Jalak suren diyakini mampu menjadi penjaga rumah yang handal. Burung jalak suren peka terhadap situasi sekelilingnya kemudian memberikan efek suaranya yang keras dan bervariasi sehingga jika dipelihara di rumah layaknya mempunyai anjing penjaga. Jalak suren dalam bahasa ilmiah (latin) … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Lawang Sewu Bangunan Anggun Berbalut Sejarah

Posted: 23 Oct 2010 07:27 PM PDT

Di usianya yang lebih dari satu abad Lawang Sewu masih menampakkan keanggunannya. Dari sini sejarah perkerataapian Indonesia bermula.

Pada Jum’at 17 Juni 1864, di Desa Kemijen, Semarang, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele melakukan pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api. Pembangunan jalur kereta api ini diprakarsai perusahaan kereta api bernama Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM).

Setelah pembangunan berjalan sekitar tiga tahun, jalur kereta api ini sudah bisa difungsikan untuk melayani rute Semarang-Desa Tanggung yang berjarak tak lebih dari 26 kilometer. Setelah pembangunan jalur itu, perkembangan jalan kereta api di Indonesia kemudian meningkat dengan pesat. Hingga 1900, panjang jalur kereta api mencapai 3.338 km.

Guna melaksanakan pekerjaan administratif NV.NISM, Sloet Van Den Beele memerintahkan membangun sebuah gedung yang akan digunakan sebagai kantor jawatan kereta api pertama tersebut. Di tunjuklah Ir. P. de Rieut sebagai arsitek bangunannnya. Namun sayang hingga sang jenderal meninggal dunia, pembangunan belum juga terlaksana.

Prof Jacob K Klinkhamer dan Bj Oudang kemudian dipercaya pemerintah Belanda untuk melanjutkan rencana pembangunan gedung tersebut. Akhirnya lokasi gedung dipilih di sekitar kawasan Wilhelmina Plein sekarang bernama kawasan Tugu Muda. Inilah awal mula Lawang Sewu memberi warna dalam lansekap Kota Semarang.

Pembangunan pun dimulai pada 1904. Selang tiga tahun, bangunan pun resmi digunakan sebagai kantor NV NIS. Bagian depan gedung ini diapit dua menara, di belakang keduanya, Bangunan ini berdiri memanjang bak sepasang sayap.

Lawang Sewu merupakan gedung dengan arsitektur perpaduan Indische dengan keunikan lokal. Material-material penting bangunan ini didatangkan langsung dari Eropa. Kaca mozaik yang mengiasi interior bangunan ini pun menampilkan keindahan yang membuat kagum.

Lawang Sewu merupakan nama yang diberikan masyarakat Semarang yang berarti “Pintu seribu”. Nama ini disematkan karena begitu banyak jumlah pintu dan lubang yang ada dibangunan itu. Gedung ini dibuat dengan pendekatan terhadap kondisi iklim setempat yang beriklim tropis.

Sentuhan seni yang tertuang membuat gedung ini tetap terlihat anggun meski sudah berusia uzur. Kemegahan dan keindahan bangunan Lawang Sewu telah membuat decak kagum banyak orang, karen ini jugalah julukan Mutiara dari semarang disematkan. Lawang Sewu kemudian menjadi landmark Kota Loenpia ini.

Memasuki masa kemerdekaan Bangunan yang menganut gaya Romanesque Revival ini beberapa kali berpindah tangan. Mula-mula dimanfaatkan sebagai kantor Perusahaan jawatan kereta Api (PJKA) milik Indonesia.

Lawang Sewu kemudian pernah digunakan Kodam IV Diponegoro sebagai Kantor Badan Prasarana. Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah juga pernah bermarkas di sini.

Sejarah pun mencatat, di gedung ini menjadi saksi peristiwa heroik yang dikenal sebagai “pertempuran lima hari Semarang”. Kontak senjata terjadi antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan Kempetai dan Kido Buati Jepang.

Pertempuran yang berlangsung 14-19 Oktober 1945 itu telah menggugurkan banyak pejuang. Beberapa jasad yang gugur dimakamkan di halaman gedung ini, namun pada 1975 makam mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.

Dengan semua keindahan arsitektur dan perjalanan sejarahnya yang panjang, kini Lawang Sewu menjadi daya tarik banyak orang yang ingin melihat dan mencari tahu serpihan perjalanan yang mewarnai kota Semarang di gedung ini. Sebagai sebuah gedung tua bersejarah, Lawang Sewu masuk ke dalam bangunan yang harus dilindungi sesuai SK Wali Kota No 650/50/1992.

Bertandang ke Semarang, tak lengkap merasakan nuansa Lawang Sewu, yang menyimpan lebih dari seribu misteri.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Sumpah Pemuda Mengenang Semangat Juang Pemuda Indonesia

Posted: 23 Oct 2010 07:17 PM PDT

Rumah tua itu menjadi saksi pergerakan pemuda di tahun 1928. Ketika ikrar terucap dengan penuh tekad, dari para pemuda yang merapatkan barisan untuk selalu setia pada tanah air Indonesia. Di gedung sederhana ini Sumpah Pemuda dikumandangkan.

Letaknya persis di pinggir jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat. Sebelum diresmikan menjadi museum, bangunan tersebut merupakan rumah kediaman Sie Kong Liong. Namun, seiring berkembangnya sekolah-sekolah di Jakarta, awal abad ke-20, rumah itu pun disewakan sebagai pondok pelajar oleh STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandesh Arsen) yang kemudian dinamakan Club Gebow. Kini, bangunan sederhana ini dikenal dengan nama Museum Sumpah Pemuda.

Tidak hanya berfungsi sebagai pondokan, di rumah tersebut dahulu juga kerap dijadikan tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan diskusi politik oleh para pelajar. Hingga akhirnya terbentuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di bulan September 1926, maka gedung itu dijadikan kantor PPI, sekaligus redaksi majalah PPPI, bernama Indonesia Raja. Sejak itulah, pemuda-pemuda yang tergabung dalam berbagai macam organisasi sering memakai bangunan seluas 550m2 ini sebagai tempat kongres.

Puncaknya, tanggal 27-28 Oktober 1928, terselenggara Kongres Pemuda Indonesia Kedua di tempat yang sama. Dalam kongres tersebut melahirkan sebuah keputusan dengan tiga butir pernyataan atau lebih dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Isi ikrar tersebut diantaranya:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mendukung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hasil keputusan itu terpampang di papan besar yang menggantung di dinding ruang tengah, berdampingan dengan diorama suasana saat peserta kongres mendengarkan lagu Indonesia Raya dengan iringan biola dari WR. Supratman. Tepat dibelakang diorama, terdapat lirik lagu Indonesia Raya dalam ukuran besar.

Koleksi lainnya adalah biola milik Wage Rudolf Supratman, foto-foto kegiatan berbagai organisasi pemuda, replika peralatan rumah tangga, seperti meja dan kursi milik Sie Kong Liong, piringan hitam lagu Indonesia Raya, vandel, bendera, kendaraan vespa dan masih banyak lagi. Total koleksi berjumlah 2.868 buah.

Dari semua koleksi, yang paling menarik tentulah biola asli milik WR Supratman yang masih terawat dengan baik. Biola yang dibeli Supratman dari WM Van Eldick pada 1914 inilah yang mengantarkannya menjadi pemain band, Black & White Jazz Band, sampai akhirnya melahirkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Di museum yang berdiri di atas lahan seluas 1.284 meter persegi ini, pengunjung bisa melihat perjalanan organisasi-organisasi kepemudaan dalam mewujudkan kebangkitan nasional, diawali sejak berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, hingga tercetusnya Sumpah Pemuda. Kedua peristiwa besar itu pun mampu menggerakan pemuda seluruh Indonesia untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dari tangan penjajah.

Untuk mengisi Hari Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tanggal 28 Oktober, ada baiknya Anda mengunjungi Museum Sumpah Pemuda. Dan, siap-siap menemukan kembali gelora perjuangan Pemuda Indonesia melawan segala bentuk penjajahan.

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...

Aku Ingin Hijau

Aku Ingin Hijau


Kenyataan sehari-hari penuh kemacetan

Posted: 24 Oct 2010 03:59 AM PDT

Macet sehari-hari sekarang namanya “Pamer Penis” yaitu Padat Merayap Pengen Nangis


Filed under: Kartun

Jalan-jalan ke Godong Ijo

Posted: 24 Oct 2010 03:19 AM PDT

Hari ini kami sekeluarga jalan-jalan ke Godong Ijo, yaitu nursery, tempat pembibitan tanaman hias yang juga dilengkapi dengan kolam pancing ikan dan restaurant. Pergi dari pagi, ternyata kalau hari minggu perjalanan tidak terlalu jauh dari kota Jakarta, mancing ikan dahulu, setelah dapat beberapa ikan mas (walaupun dalam kolam juga ada lele, patin, dll), lalu ikan minta di goreng untuk di makan bersama di restorannya.

Setelah itu kita bisa melihat-lihat tanaman hias yang tersebar di seluruh lokasi dan membeli beberapa tanaman hias baru untuk melengkapi koleksi di rumah.

Tempat ini sangat bersih, rapi di tata, dan diurus dengan baik secara manajemennya sehingga pelayanan pun sangat baik. Anak kami yang baru berusia 3 tahun juga senang sekali bisa mencoba memancing ikan  dan berlari-lari melihat kura-kura raksasa dan reptil lainnya. Walaupun sore-sore hujan, anak kami tetap betah ditemani ice cream yang bisa dibeli juga.

Selain asik untuk acara keluarga (daripada ke mall setiap akhir pekan), juga bagus untuk anak-anak anda belajar hal-hal baru.


Filed under: Akhir Pekan, Jalan-jalan, Tanaman Bermanfaat

Aku Ingin Hijau Selanjutnya...

Saturday, October 23, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Flora Identitas Kota dan Kabupaten di Yogyakarta

Posted: 23 Oct 2010 04:45 AM PDT

Flora Identitas Kota dan Kabupaten di Yogyakarta merupakan tumbuhan khas yang menjadi maskot kota dan kabupaten masing-masing. Tumbuhan-tumbuhan ini melengkapi kepel yang ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut adalah daftar flora (tumbuhan) yang ditetapkan sebagai flora identitas … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

[New post] Sepuluh Produser Tertarik Novel 'Negeri 5 Menara' Difilmkan

Sepuluh Produser Tertarik Novel 'Negeri 5 Menara' Difilmkan

PALEMBANG--Sebanyak 10 produser film ternama tertarik untuk menggangkat buku novel 'Negeri 5 Menara' karya Ahmad Fuadi ke layar lebar. Ahmad Fuadi menyatakan itu usai acara jumpa penulis yang dilaksanakan oleh Partai Keadilan Sejahtera dalam memeriahkan musyawarah wilayah ke-2 partai tersebut di Palembang, Sabtu (23/10). Menurut Ahmad, dalam waktu dekat ini akan diumumkan produser yang akan [...]

Baca tulisan ini lebih lanjut

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Sepuluh Produser Tertarik Novel 'Negeri 5 Menara' Difilmkan Selanjutnya...

Friday, October 22, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Teknik Packing Ransel (Carrier)

Posted: 22 Oct 2010 06:30 AM PDT

Teknik packing ransel (carrier) saat mendaki gunung maupun kegiatan out bond lainnya sangat diperlukan sehingga barang-barang yang kita bawa dapat kita bawa dengan ringkas, efisien, rapi. Packing biasa disebut juga dengan pengepakan. Packing merupakan cara atau teknik menyusun perlengkapan dalam … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...