Saturday, August 7, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Kukang (Nycticebus coucang) yang Malu-malu

Posted: 07 Aug 2010 01:00 PM PDT

Kukang atau disebut juga Malu-malu merupakan primata yang mempunyai gerakan lambat. Di dunia terdapat 14 jenis (spesies) kukang yang 3 diantaranya terdapat di Indonesia. Ketiga jenis kukang yang hidup di Indonesia adalah kukang besar (Nycticebus coucang), kukang jawa (Nycticebus javanicus), … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Thursday, August 5, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Air Minum Dalam Kemasan, Beli Air atau Sampah?

Posted: 05 Aug 2010 07:09 PM PDT

Air minum dalam kemasan menjadi pilihan paling praktis untuk menghilangkan rasa haus. Di mana-mana mudah membeli air minum dalam kemasan. Praktis, tinggal beli langsung bisa diminum airnya. Konon, air minum kemasan selain praktis juga lebih sehat dibandingkan air hasil memasak … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

[New post] Tips Buka Usaha di Rumah atau Perumahan

Tips Buka Usaha di Rumah atau Perumahan

Kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, kadang panas kadang hujan, kerap membuat orang malas bepergian. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, selain udara memang panas, udara sudah tidak nyaman karena terlalu banyak asap kendaraan.

Apalagi jika terjebak kemacetan yang kian mengular, perjalanan yang jaraknya tidak seberapa bakal menyita banyak energi. Membayangkan hal-hal seperti itu pasti bisa membuat orang malas berangkat ke kantor.

Kondisi seperti ini menginspirasi banyak orang untuk memulai bisnis dari rumah. Pebisnis mulai melirik ceruk usaha yang bisa dikendalikan dari rumah. Jikapun sang suami tetap bekerja di luar rumah, sang istri biasanya berusaha membuat bisnis kecil-kecilan di rumah.

Bagaimana mengawali usaha dari rumah? Itulah kata-kata yang paling banyak dicari terutama di Indonesia. Ya, bekerja dari rumah, mengapa tidak? Bagaimana cara orang-orang lain yang memulai usaha mereka dari rumah? Dan apa saja kendala ataupun strategi untuk mencapai keberhasilan?

Kami memang baru memulai usaha sebuah toko buku mini 'Dekadeku' di komplek perumahan yang kami tempati di Kav Pelita Air, Griya Pelita Blok C1/4 Rangkapan Jaya Baru, Depok. Tapi tak ada salahnya bila berbagi sedikit tips:

1. Pikirkan atau tulislah hal-hal apa saja yang Anda ingin lakukan dari berbisnis dari rumah

2. Berpikirlah dan berperasaan positif tentang apa saja yang mungkin bisa menjadi peluang Anda

3. Usahakan secepat mungkin langsung MELAKUKAN SAJA. (kalo perlu analisa belakangan sambil jalan)

4. Setiap usaha tidak harus bermodal besar. Gunakan apa saja aset yang Anda miliki. Seperti, pengetahuan Anda, hobi Anda, ketrampilan Anda, rumah Anda, keluarga Anda, kenalan Anda, uang Anda dan lainnya.

5. Setiap usaha tidak akan selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka berusahalah terus menggapai impian

6. Setiap keinginan pasti ada tanggung jawab dan setiap tanggung jawab ada perbuatan.

7. Usahakan bekerja dan berusaha dengan jujur (Anda tentunya tidak ingin mendapat uang dengan cara tidak HALAL bukan?)

Selain tips-tips di atas, tak ada salahnya Anda melakukan survei di komplek perumahan Anda sendiri. Saat ini, banyak sekali kompleks-kompleks perumahan dibangun di Jakarta dan sekitarnya, lalu tumbuh kembang menjadi kantong-kantong bisnis. Sebagai contoh, di Jakarta kita kenal sejumlah kawasan yang telah menjadi kantong bisnis, seperti Serpong, Puri Kembangan, Kelapa Gading, Cibubur, Depok, Bekasi, Tangerang, Cinere, dan lain sebagainya.

Sejalan dengan perubahan pola fikir masyarakat yang trauma dengan krisis ekonomi pada tahun-tahun 1997-1998 lalu, maka banyak orang berupaya menjalankan usaha sendiri yang dimulai dari lingkungan tempat tinggal.

Ini tentu saja berhubungan dengan kenyataan bahwa kesulitan mencari pekerjaan saat sekarang, boleh dikata sudah sama sulitnya dengan mencari sumber air di padang pasir. Bahkan bagi yang sudah bekerja pun, masih ada saja permasalahan yang sukar dicarikan pemecahannya, seperti kecilnya kompensasi serta risiko di PHK sewaktu-waktu.

Itu sebabnya, jelas dan gamblang terlihat fenomena di kalangan masyarakat, bagaimana kaum muda yang baru saja menginjak usia produktif telah demikian antusias merintis usaha agar memperoleh penghasilan yang lebih memadai sekaligus menghindarkan diri dari kemungkinan terkena Pemutusan Hubungan Kerja oleh majikan, yang seringkali terkesan dilakukan secara semena-mena.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman para pelaku usaha di kawasan satelit dari tahun ke tahun, ternyata ada beberapa karakter tertentu yang menjadi ciri khas lingkungan perumahan yang sudah selayaknya mendapatkan perhatian, bila kita berkeinginan untuk berbisnis di sana.

Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian itu terkait beberapa aspek, meliputi aspek geografis, aspek demografis, serta aspek produk atau komoditas yang dijual.

Berikut adalah tips-tips lagi yang dihimpun dari www.infokomunitas.com:

Kompleks-kompleks Perumahan Tertentu Ternyata Kosong Pada Hari Kerja Biasa

Banyak di antara kita berasumsi bahwa timbulnya berbagai kompleks perumahan baru, akan menjanjikan prospek bisnis yang cukup menggiurkan. Apalagi kalau melihat bahwa beberapa diantara kompleks perumahan tersebut merupakan perumahan kalangan menengah ke atas, maka kita akan berfikir bahwa pastinya para penghuni di sana memiliki daya beli yang tinggi.

Berdasar hal itu, maka timbullah niat kita untuk mencoba membuka usaha di sekitar perumahan dimaksud.

Akan tetapi, kalau kita tidak jeli, kenyataan tersebut bisa sangat menyesatkan. Sebab, banyak kompleks-kompleks pemukiman baru di pinggir kota ternyata dihuni oleh para keluarga muda, yang tadinya tinggal bersama orang-orang tua mereka di pusat kota. Dan, hampir semua dari mereka memiliki pekerjaan sebagai karyawan profesional di pusat kota juga.

Akibatnya, pada hari-hari kerja biasa, dari Senin sampai dengan Jumat, kompleks-kompleks perumahan semacam itu nyaris kosong ditinggal penghuninya yang pergi ke pusat kota pagi-pagi sekali untuk bekerja, dan baru kembali pada malam hari. Umumnya setiba di rumah, para karyawan tersebut sudah tidak ada keinginan keluar rumah lagi, karena kelelahan bekerja seharian. Mereka hanya ingin cepat istirahat untuk kembali pergi kerja esok paginya.

Dengan begitu, potensi bisnis di sekitar perumahan itu menjadi kurang menjanjikan. Aktivitas kehidupan baru kelihatan dinamikanya hanya pada 'week-end days' yaitu Sabtu dan Minggu saja. Otomatis, keadaan demikian sungguh tidak kondusif untuk kita menjalan bisnis yang serius.

Perhatikan Kompleks Perumahan Baru dan Kompleks Perumahan Lama

Di kawasan satelit tertentu yang telah cukup lama berdiri, biasanya ada kompleks-kompleks perumahan yang telah cukup lama dibangun, dan ada juga yang relatif masih baru. Nah, dalam hal seperti ini, seyogianya kita bisa membuat perhitungan-perhitungan.

Pada pemukiman yang masih baru, umumnya para penghuni yang tinggal di sana juga merupakan keluarga-keluarga muda. Sebagaimana telah disinggung di atas, para penghuninya hampir pasti adalah orang-orang yang bekerja di pusat-pusat kota, atau di tempat lain yang relatif jauh dari perumahan tersebut. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa perumahan akan sepi penghuni pada hari-hari kerja biasa. Dengan sendirinya, kita bisa menganggap lingkungan perumahan itu kurang berpotensi bisnis.

Sebaliknya, pada kompleks-kompleks yang telah lama dibangun, kemungkinan besar para penghuninya sudah cukup senior dan sebagian dari mereka mungkin saja sudah memasuki masa pensiun. Ada harapan, sudah banyak pula kaum remaja yang tinggal dan bersekolah di sana. Dengan demikian, suasana kehidupan di pemukiman semacam ini sudah lebih hidup, dan aktivitas bisnis lokal yang dilakukan warga juga sudah mulai terbentuk.

Untuk kompleks pemukiman yang telah 'established' seperti ini, kita dapat menaruh harapan yang lebih besar bahwasanya bila kita mendirikan usaha di sana, akan lebih memperoleh peluang untuk maju.

Perhatikan Kompleks Perumahan Pendatang vs Perumahan Warga Asli

Dalam satu daerah yang berkembang menjadi kawasan satelit, tentu bisa dilihat bahwa di antara berbagai kompleks perumahan baru yang dibangun, tentu ada pula perumahan pemukiman warga asli yang sudah tinggal di situ sejak puluhan tahun yang lalu. Sebagian sudah agak mapan, sebagian lagi mungkin saja masih berstatus 'kampung'.

Yang perlu kita camkan adalah, jangan menganggap remeh pemukiman warga asli. Sebab, di beberapa tempat tertentu, pemukiman warga asli ini justru merupakan penopang kehidupan bagi warga pendatang yang membeli rumah di kompleks-kompleks perumahan baru. Yang sudah sering terjadi misalnya adalah, kebutuhan pengurusan dokumen kependudukan warga pendatang, pada umumnya ditangani oleh para tokoh pemerintahan lokal, seperti RT dan RW di pemukiman warga asli tersebut.

Banyak dari lokasi pemukiman warga asli adalah lokasi-lokasi yang sudah mapan secara bisnis. Paling tidak untuk ukuran bisnis yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di tempat-tempat seperti ini, kehidupan bermasyarakat sudah berjalan secara sangat memadai, sehingga justru di lokasi inilah kita akan lebih dimungkinkan untuk membuka usaha. Ini mudah dimengerti, karena di pemukiman yang sudah terbentuk, tidak ada fenomena kosongnya perumahan karena ditinggal penghuni yang hampir semuanya bekerja di pusat kota.

Perhatikan Pertumbuhan Kawasan, Adakah Kantor, Sekolah, Rumah Sakit, Pabrik, dan Lain-lain

Pertumbuhan potensi bisnis suatu kawasan, dapat dengan mudah dilihat dari perkembangan infrastruktur serta propertinya. Kita bisa lihat adakah di sana dibangun perkantoran, pertokoan, sekolah-sekolah, rumah sakit, pabrik dan lain sebagainya.

Hanya saja di sini kita harus melihat dengan lebih jeli, tidak saja terbatas dari keberadaan bangunan-bangunan tersebut, tapi juga harus lebih dari kesibukan yang ada di dalam dan sekitarnya. Sebab, di beberapa kawasan, banyak kantor, toko-toko, bahkan sekolah dan rumah sakit yang sepi pengunjung. Apalagi pada hari-hari kerja biasa.

Bisa disimpulkan, bahwa kebanyakan dari pelaku-pelaku usaha yang membangun toko-toko, rumah-rumah makan, kantor-kantor dan sebagainya itu, yang terkecoh dengan keberadaan berbagai perumahan menengah dan mewah di sana. Ternyata, perumahan-perumahan dimaksud, selalu sunyi di hari-hari kerja biasa sehingga aktivitas bisnis pun tidak dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

Perhatikan Jalan Jalur Cepat, Jalur Lambat, Jalur Perlintasan, dan Kawasan

Apabila kita memutuskan untuk mendirikan usaha di suatu kawasan tertentu, rumah makan atau toko misalnya, maka lebih jauh perlu diperhatikan keletakan dari tempat usaha itu sendiri.

Suatu tempat yang ramai belum tentu berpotensi baik untuk bisnis. Sebaliknya sebuah lokasi yang sepi, belum tentu juga jelek untuk melakukan usaha.

Kita harus lebih memperhatikan akan fenomena-fenomena yang 'menyesatkan'. Ada tempat usaha yang terletak di pinggir jalan besar yang selalu ramai, sehingga sepintas seakan-akan berada di lokasi yang strategis. Tapi pada kenyataannya, tempat usaha itu sendiri tidak pernah bisa ramai. Kenapa?

Ternyata keletakannya ada di 'jalur cepat', yaitu di sebuah ruas jalan yang memang ramai dilalui berbagai kendaraan, namun merupakan jalur perlintasan di mana kendaraan-kendaraan melesat dengan kencangnya sehingga tidak ada peluang para penumpang di dalam kendaraan tersebut untuk memperhatikan keberadaan unit usaha di tepi jalan. Maka, perlu dipertimbangkan untuk mencari lokasi bisnis yang keletakannya ada di pinggir jalan besar yang ramai, tapi kendaraan-kendaraan melintas dengan kecepatan lambat.

Di lain pihak, kita harus memperhatikan juga adanya lokasi usaha yang sepintas sudah memenuhi syarat. Misalnya, orang cukup banyak yang lalu-lalang, dan letaknya di pinggir jalan yang kendaraan-kendaraannya berjalan dengan lambat. Tapi, bila suasana sekitar gelap, tidak ada penerangan yang memadai, ditambah lagi tidak ada pula tetangga yang berjualan di situ, hampir pasti lokasi yang demikian itu juga kurang bagus untuk menjalankan usaha.

Ciri-ciri lokasi usaha yang berpeluang bagus antara lain adalah, tempat tersebut ramai dengan kesibukan belanja. Banyak sekali pedagang di sana, meliputi ruko-ruko yang dipakai untuk toko kelontong, rumah makan, bank, dan biasanya, pada sore hari terdapat juga semacam 'pasar kaget', berupa tenda-tenda yang biasanya didominasi oleh para pedagang makanan.

Kerumunan orang-orang yang berbelanja, keluarga-keluaga yang 'nongkrong' di tempat makan di pasar kaget, serta orang berlalu-lalang di antara kepulan asap penggorengan pedagang makanan, adalah merupakan ciri-ciri kawasan usaha yang telah 'hidup'. Jalanan di sekitar biasanya penuh dan macet dengan antrean kendaraan yang berjalan lambat.

Untuk daerah-daerah semacam itu, potensi bisnis dalam radius 500 meter sekitarnya biasanya cukup baik.

Kalau kita kesulitan mendapatkan tempat usaha di lokasi ramai seperti di atas, dan tetap ingin berbisnis di dalam kompleks perumahan, itu masih mungkin. Asalkan kita perhatikan kompleks perumahan itu karakternya seperti apa, adakah itu pemukiman keluarga muda yang kosong pada hari kerja, ataukah merupakan kawasan residensial yang sudah mapan, sehingga sudah memiliki kehidupan internal yang sibuk.

Kalau kita tinggal dekat dengan kawasan industri, yang di situ banyak dihuni karyawan pabrik, maka kemungkinan sekali potensi bisnisnya cukup menjanjikan. Sebab, karyawan pabrik termasuk golongan penghuni yang berkesibukan lokal, berkeluarga yang kesibukannya juga lokal. Dengan demikian, aktivitas bisnis setempat pun cepat terbentuk.

Komoditas Yang Dijual Serta Layanan Pesan-Antar

Salah satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian kita dalam berbisnis di kawasan satelit adalah soal produk atau komoditas yang akan dijual. Di kawasan semacam ini, berlaku juga semacam 'perilaku konsumen' yang menginginkan ketersediaan produk-produk tertentu.

Bidang-bidang usaha yang tampaknya mendapat respons positif dari konsumen kawasan, biasanya berhubungan langsung dengan kebutuhan warga yang tinggal di daerah baru. Bidang-bidang tersebut meliputi bidang makanan (restoran, rumah makan, tempat jajan), pelayanan kesehatan (klinik, praktek dokter 24 jam), otomotif (bengkel dan/atau suku cadang motor dan mobil), toko material bangunan, toko kelontong (kebutuhan seari-hari), pendidikan anak (sekolah dan kursus-kursus), salon perawatan kecantikan, showroom mobil dan motor.

Ada juga yang agak sedikit khas, yaitu pelayanan internet lokal berbasis wireless, layanan TV berbayar via satelit (karena layanan broadband via kabel serat fiber biasanya belum menjangkau daerah pinggir kota) serta keagenan media cetak.

Bidang-bidang usaha seperti software house, toko komputer serta show room mobil mewah, kelihatannya belum terekomendasikan sampai saat ini.

Last but not least, ada satu lagi fenomena yang kurang mendapat perhatian kita, tapi sebenarnya sangat penting. Yaitu, layanan pesan antar (delivery service)! Seperti diketahui, keberadaan perumahan di kawasan satelit adalah disebabkan kebutuhan tempat tinggal bagi kaum muda yang bekerja di kota.

Mereka adalah pekerja keras yang selalu lelah setibanya di rumah. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan layanan pesan antar yang memuaskan guna memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah kebutuhan makanan dan minuman, barang kelontong, binatu (laundry), dan beberapa lainnya.

Kalau kita mau sedikit cerdas, jalankanlah layanan pesan antar ini, maka peluang kita untuk berhasil akan naik sekitar 40–50 persen. Maka , jangan heran kalau di kawasan perumahan baru, ada rumah makan atau toko yang sehari-harinya sepi pengunjung, tapi dari tahun ke tahun tetap eksis. Ternyata, usaha mereka lebih banyak didukung oleh layanan pesan-antar ini. Selamat mencoba!

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Tips Buka Usaha di Rumah atau Perumahan Selanjutnya...

Wednesday, August 4, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Mundu (Garcinia dulcis) Pohon Buah Langka

Posted: 04 Aug 2010 02:21 PM PDT

Mundu atau Garcinia dulcis merupakan sejenis pohon buah-buahan yang semakin langka anggota genus Garcinia yang berkerabat dekat dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asem kandis (Garcinia parvifolia). Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten Bersimpuh Sambil Mengharap Berkah

Posted: 04 Aug 2010 05:07 PM PDT

BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.
"Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran," kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang.
Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. "Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya," katanya.
Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini.
Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin.
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan.
Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta).
Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.
Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.
Makam Raja-raja
Sejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan.
Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya.
Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka.
"Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan," kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan.
Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya.
Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan.
Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan.
Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.

Oleh Iman Nur Rosyadi [Sinar Harapan]

Air Terjun Cibeureum Mempercantik Diri, Meramahkan Alam

Posted: 04 Aug 2010 06:06 AM PDT

Pelataran Parkir Cibodas – Gunung Pangrango indah berdiri di pagi hari, di pelataran Cibodas.

Berdentam-dentam rasanya hati bila melihat air terjun ini. Semburat air bertenaga, jatuh menerpa serombongan batu di bawahnya. Sekejap terselip takut, saat kita tepat berada di bawah air jatuhnya. Namun, bulir-bulir embun air yang terbawa angin ke mana saja, seperti memberitakan persahabatan sejati. Aku, sang air terjun perkasa, akan selalu menerima.
Itu makna yang kembali tersirat, saat kaki berkesempatan kembali mengempaskan jejaknya disana minggu lalu. Di lokasi yang terletak di kaki gunung Gede– Pangrango ini, kembali teringat betapa hingga sepuluh tahun terakhir ini tak banyak yang berubah di sana.
Pembukaan jalur masih harus melewati deretan pohon hijau. Meniti undakan-undakan bersahabat. Menikmati segar udara hasil fotosintesa, yang kualitasnya amat jauh berbeda ketika berada di perkotaan. Napaspun masih agak tersengal sedikit. Sekadar mengingatkan bahwa kita berada di kawasan konservasi, yang telah berumur ratusan tahun sekarang. Hingga akhirnya mata ini melihat kembali telaga biru. Lengkap dengan aliran air bersih yang mengalir disebelahnya. Tak banyak yang berubah.
Namun seperti layaknya juga arus globalisasi yang menerpa sekian banyak orang dinegeri ini. Bohong, kalau kita tak perlu berubah untuk menawar hidup bersama alam. Benar saja, tepat setelah telaga biru kini berdiri kukuh kirai jembatan panjang. “Untuk memudahkan wisatawan mencapai daerah air terjun Cibeureum,” ucap seorang penjaga taman nasional yang kebetulan berpapasan.
Kini jalan rawa, tepat sebelum pos Panyangcangan, telah dibuatkan jembatan kayu. Lebih horizontal, ketimbang berlelah mendaki. Ini lebih bersahabat, ketimbang mengotori kaki, karena rembesan rawa yang seingat saya memang kadang mengganggu dibawahnya. Terlihat lebih cantik dan rapi, bersahabat karena memudahkan.
Hal serupa juga kemudian ditemui, ketika makin mendekati air terjun paska pos Panyangcangan. Deretan kayu-kayu yang tersusun rapih, seperti menjadi pintu gerbang. Menuju suasana alam, air terjun “Merah” yang terdengar mengelegak di atas sana.
Di Cibeureum, kini juga terlihat beberapa bangunan baru menghias.
Sebuah altar kayu, berdiri tepat diatas aliran sungai Cikundul. Ada juga sebuah bangunan mirip altar namun lengkap dengan atapnya juga menghias kini. Membuat kita lebih nyaman menikmati alam, tanpa harus kegerahan.
Tempat wisata alam ini tampak dibuat lebih bersahabat kini. Menjauhkan orang-orang dari bayangan sulit menikmatinya. Membuat makin dekat alam, dengan banyak orang. Yang berarti makin banyak orang yang berkesempatan mengenali alamnya. Dan memutuskan mencintanya.

Menuju Lokasi Cibeureum

Tak perlu berdenyut saat kita memutuskan untuk menyambangi air terjun ini. Bila memulai perjalanan dari Jakarta, arahkan saja laju kendaraan menuju kawasan Puncak. Tiba di persimpangan Cibodas, masuklah ke arah daerah Taman Nasional. Parkir kendaraan di pelataran parkir, yang teramat luas di area desa Rarahan, dan kita bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki.
Bila memulai perjalanan dari Bandung. Arahkan mobil anda ke daerah Cianjur. Terus menuju area Puncak. Tiba di simpang Cibodas, setelah Cipanas, lakukan hal serupa seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Aula Hijau – Bangunan berbentuk aula terbuka juga kini dibuat untuk menambah nyaman wisatawan yang mengunjungi.

Jangan lupa melapor dulu ke pos PHPA Taman Nasional Gede – Pangrango yang berada di dekat pelataran parkir. Bayar karcis tanda masuk, dan silahkan menikmati indahnya alam. (slg)

Naskah dan Foto: Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)

Potlot Adventure Selanjutnya...

Tuesday, August 3, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Ular Sanca Bodo (Python molurus)

Posted: 03 Aug 2010 04:19 AM PDT

Ular sanca bodo atau Python molurus, termasuk salah satu jenis ular yang banyak dipelihara oleh pencinta binatang. Namun tidak sedikit yang menyadari bahwa ular sanca bodo yang biasa disebut juga sebagai Asiatic Rock Python termasuk salah satu binatang langka yang … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Monday, August 2, 2010

[New post] Hmm…Jusuf Kalla Jadi Tokoh Komik

Hmm…Jusuf Kalla Jadi Tokoh Komik

MAKASSAR–Apa jadinya jika Jusuf Kalla (JK) jadi tokoh komik? Tak usah pusing memikirkannya. Pasalnya, Penerbit Erlangga sudah mengeluarkan sebuah komik berjudul 'Yuk, Belajar dari Pak JK' yang berisi tentang nilai kepemimpinan mantan Wakil Presiden RI tersebut.

"Tokoh Jusuf Kalla yang hadir dalam buku ini diharapkan menjadi sarana penyampaian yang efektif bagi anak-anak," ujar Kepala Cabang Erlangga Makassar, Anas Abdullah, seperti dilansir antaranews.com, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/7).

Buku ini bercerita tentang pentingnya nilai-nilai positif JK, seperti kepemimpinan, kerja sama, dan semangat kewirausahaan. Anas mengatakan, pengalaman JK dalam berbagai posisi penting, baik dalam bidang bisnis maupun pemerintahan, merupakan panduan yang tepat bagi anak-anak.

Selama ini, lanjut Anas, buku mengenai JK lebih banyak yang bersifat formal sehingga sulit diterima oleh anak-anak. "Atas pertimbangan itulah kami memutuskan untuk membuat buku dalam bentuk komik agar mudah diterima dan dicerna oleh anak-anak," jelasnya.

Disebutkan Anas, jumlah buku yang diterbitkan oleh Erlangga sebanyak 2.000 eksemplar, khusus di Makassar sudah diedarkan sebanyak 500 eksemplar, sedangkan 1.500 eksemplar lainnya akan diedarkan di seluruh wilayah Indonesia.

Anas mengaku pembuatan buku ini, mulai dari tahap wawancara hingga penerbitan, membutuhkan waktu hingga satu setengah bulan. "Kami memang belum mendistribusikannya ke sekolah-sekolah, namun sudah ada beberapa sekolah yang membeli buku ini sebagai bahan bacaan di perpustakaan," ucapnya.

Anas berharap keberadaan buku ini bisa memberikan sumbangsih yang berharga bagi pengembangan diri anak-anak Indonesia agar kelak menjadi pemimpin yang baik.

(www.jedadulu.com)

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Hmm…Jusuf Kalla Jadi Tokoh Komik Selanjutnya...