Sunday, August 1, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Pencemaran Air di Indonesia

Posted: 01 Aug 2010 06:47 AM PDT

Pencemaran air di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran air dapat diartikan sebagai suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air hingga ke tingkat … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Taman Bumi Kedaton, Wisata Alternatif di Pinggiran Bandar Lampung

Posted: 31 Jul 2010 06:10 PM PDT

BANDAR LAMPUNG – Bagi warga yang ingin menunggang gajah, tidak perlu lagi jauh-jauh menempuh perjalanan 80 km dari Bandar Lampung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Pasalnya, sejak akhir tahun lalu di pinggir Kota Bandar Lampung sudah dirintis sebuah taman wisata yang diberi nama Taman Bumi Kedaton.

Taman wisata ini lebih mirip kebun binatang karena menghadirkan sejumlah hewan mulai dari gajah sumatera (Elephas maxsimus sumatrensis) yang didatangkan dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK), siamang (Symphalangus syndactylus), beruk (Macaca nemestrina), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), ayam hutan (Gallus gallus), elang (Folconidae), biawak (Varanus salvator), dan berbagai jenis ayam dari Cina, Arab, dan Australia.
Kehadiran objek wisata ini menjadi salah satu hiburan tersendiri, bukan hanya bagi warga Bandar Lampung, juga warga dari luar kota yang selama ini harus ke TNWK untuk melihat gajah. Lagi pula di hari-hari libur di sini juga dipertunjukkan atraksi gajah seperti di TNWK.
Pengunjung umumnya penasaran terhadap kehadiran objek wisata yang awalnya sempat mendapat reaksi keras dari sejumlah LSM lingkungan ini karena mengeksploitasi hewan langka, seperti gajah. Rasa penasaran ini terbukti dengan membludaknya pengunjung pada setiap hari libur. Selain rasa penasaran, pengunjung tampak ingin memberikan hiburan yang baru kepada putra-putrinya. Maklum selama ini, hari libur diisi warga Bandar Lampung dan sekitarnya dengan berwisata ke pantai.
Petugas jaga Taman Bumi Kedaton mengakui hal tersebut. Menurut dia, sebagian besar pengunjung —hampir 90 persen— adalah keluarga yang membawa anak-anaknya. Dan, yang paling disukai keluarga saat berkunjung ke tempat itu adalah berkeliling menunggang gajah. "Pengunjungnya memang kebanyakan anak-anak yang ditemani orangtuanya," ujarnya, baru-baru ini.
Taman Bumi Kedaton mulai dibuka akhir Oktober 2004, setelah sebelumnya pro dan kontrakeinginan pemerintah provinsi untuk membuka taman wisata yang lebih menyerupai kebun binatang ini ditentang LSM lingkungan.

Lokasinya terletak tujuh kilometer dari pusat Kota Bandar Lampung —arah Kampung Sukarame II, Batuputu, Kecamatan Telukbetung Barat.
Untuk memudahkan warga mengunjungi objek wisata ini, sejak dari dalam Kota Bandar Lampung sudah terdapat sejumlah papan nama penunjuk arah. Mulai dari memasuki Jalan Pangeran Emir M. Noor, tidak jauh dari kantor PDAM Way Rilau, papan informasi taman wisata sudah terpampang di tepi jalan.
Sejak memasuki wilayah Sukarame II, Telukbetung Barat, suasana hutan memang sudah terasa dan terlihat di kiri kanan jalan menuju ke taman wisata ini.
Wilayah yang terletak di dataran tinggi ini juga memberikan panorama tersendiri bagi pengunjungnya dengan melihat sebagian wilayah Bandar Lampung dari jalan yang menanjak dan berliku-liku. Selain itu, perjalanan menuju ke taman wisata ini juga didapati pedagang buah-buahan seperti durian dan pepaya. Apabila sedang musim panen durian, pengunjung bisa menikmati durian segar yang baru jatuh dari pohon.
Tiba di taman wisata yang menjadi fokus tujuan, pengunjung harus membayar tiket masuk Rp3.000/orang untuk bisa memasuki lokasi. Selebihnya jika ingin masuk ke lokasi pertunjukan atraksi gajah dan manusia pemakan ular dikenai biaya tiket Rp10.000 untuk melihat atraksi gajah dan Rp3.000 untuk menyaksikan manusia pemakan ular. Sementara bagi pengunjung yang berminat "mengendarai" gajah, tarifnya Rp10 ribu/penumpang untuk sekali jalan berkeliling taman.
Friska, salah seorang pengunjung yang mencoba mengendarai gajah mengaku sangat terkesan karena selama ini ia hanya melihat hewan langka berbelalai panjang itu di koran atau televisi. Namun ia mengeluhkan tarif naik gajah yang kemahalan untuk anak-anak. "Apalagi jika kita naik bertiga maka tarifnya Rp30 ribu. Ini kan mahal banget," ungkap siswi SMP di Bandar Lampung itu.

Minim Fasilitas
Mungkin karena masih terbilang baru, masih banyak kekurangan di sana sini. Namun kebanyakan pengunjung —yang tidak mau tahu tentang kekurangan itu— mengeluhkan taman yang masih belum lengkap atau disebut kebun binatang, sebab jenis binatang yang ada di taman wisata ini masih sedikit.
Wati, salah seorang pengunjung mengusulkan agar koleksi hewan di taman ini ditambah sehingga lebih menarik bagi anak-anak. Di samping itu, agar di kandang hewan tersebut ditulis nama Indonesia dan Latinnya sehingga taman ini menjadi tempat studi bagi anak-anak, termasuk di pohon-pohon kayu yang banyak menghiasi taman ini.
Karena dilindungi pepohonan itu suasana taman jadi sejuk dan membuat pengunjuing betah berlama-lama dan bertambah nyaman berkat adanya aliran sungai di sisi taman yang ada sengaja dibuat bertingkat-tingkat.
Kekurangan lainnya, ruas jalan menuju taman wisata ini banyak yang berlubang dan belum ada jalur angkutan umum sehingga bagi warga yang tidak memiliki kendaraan akan mengalami kesulitan untuk mendatanginya. Memang terdapat para pengojek yang menawarkan jasa untuk mengantar pengunjung ke taman ini, tapi tarifnya lumayan mahal yakni Rp25 ribu untuk jarak tujuh kilometer ini. Lagi pula jika sudah kesorean, ruas jalan menuju ke taman ini juga agak sepi sehingga rawan tindak kejahatan.
Penggagas taman wisata ini, Gubernur Lampung Sjachrudin Z.P. menjelaskan, Taman Wisata Bumi Kedaton dibangun dengan tujuan ingin memberikan hiburan alternatif bagi warga. Dengan dibangunnya taman wisata alam tersebut, masyarakat Lampung dapat memilih jenis hiburan lain yang ada di Kota Bandar Lampung. Salah satunya Taman Wisata Bumi Kedaton, di samping yang selama ini sudah begitu terkenal di Taman Hiburan Rakyat (THR) Pasir Putih. "Selain ini pembangunan taman wisata yang juga akan dijadikan transit bagi satwa langka Sumatera sebelum dikembalikan ke habitat awalnya," ujarnya, baru-baru ini.
Menurut Sjachrudin, untuk membangun taman wisata ini Pemda Lampung tidak mengeluarkan dana. "Anggaran untuk mengelola taman wisata tersebut berasal dari dana swasta yang ingin membangun pariwisata Lampung," lanjutnya.
Sjachrudin menambahkan, Batuputu bukan satu-satunya tempat yang akan dijadikan objek wisata gajah, selain di lokasi Menara Siger yang akan dibangun di Bakauheni, atraksi gajah juga akan ditampilkan di Bandara Radin Intan II. "Sambil menunggu penerbangan, penumpang pesawat dapat menikmati hiburan wisata gajah. Saya ingin menjadikan Lampung sebagai daerah dengan julukan gajah Lampung," kata dia.
(Sinar Harapan/Syafnijal Datuk Sinaro)

Potlot Adventure Selanjutnya...

Friday, July 30, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Pohon Kedoya (Dysoxylum gaudichaudianum) Tinggal Nama

Posted: 30 Jul 2010 08:59 AM PDT

Kedoya (Dysoxylum gaudichaudianum), diyakini dari nama pohon inilah nama Kedoya, sebuah daerah di kecamatan Kebun Jeruk Jakarta Barat berasal. Namun ternyata hanya sedikit yang mengetahui sejarah asal muasal nama daerah ini. Mungkin lantaran mulai langka dan sulit dijumpainya pohon yang … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Curug Cipendok dan Telaga Pucung yang Sensasional

Posted: 28 Jul 2010 06:27 PM PDT

BANYUMAS – Tentu sudah tidak asing lagi, kalau Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) memiliki satu objek wisata Baturaden. Kekhasan alam sangat terasa mulai dari hutan, air sungai yang jernih, sampai asrinya lokasi perkemahan (camping ground). Namun, ternyata Banyumas tidak hanya memiliki Baturaden.
Di Kecamatan Cilongok atau sekitar 15 km arah barat Kota Purwokerto, juga mempunyai objek wisata yang hampir sama dengan Baturaden. Pesonanya sensasional, karena alam khas pegunungan benar-benar dapat dinikmati pengunjung. Itulah Curug Cipendok dan Telaga Pucung.
Jika Anda ingin mengunjungi Curug Cipendok, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan Curug Cipendok, Anda pasti "kehujanan". Ini dikarenakan Curug Cipendok adalah air terjun yang memiliki ketinggian hampir 100 meter sehingga titik-titik air membasahi daerah sekitarnya, meski tidak turun hujan.
Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami. Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut.
Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.
Setelah berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun.
Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja, belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga kalau wisatawan mengunjungi tempat itu harus dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Tempat wisata alam itu, berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.

Elang dan Monyet
Dari jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground.
Telaga ini akan menjadi salah satu andalan Kabupaten Banyumas untuk menyedot wisatawan. Kompleks Telaga Pucung menempati areal seluas tiga hektare (ha), dengan luas telaga sekitar satu ha. Objek wisata di Banyumas mungkin belum banyak yang kenal, sebab baru akan dibuka secara resmi menjadi tujuan wisata pada 8 Agustus 2005.
Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni rek-rek.
Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuma Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.
KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.
Di sekitar Telaga Pucung juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anak-anak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas. Telaga Pucung ini semakin memantapkan wisata khas Banyumas yakni alam pegunungan. Dengan bertambahnya objek wisata tersebut, wisatawan yang datang ke Banyumas semakin mendambah daftar alternatif tujuan wisata. Jadi, kalau selama ini Anda ke Banyumas hanya pergi ke Baturaden, akan rugi. Pasalnya, masih ada tempat alternatif lainnya yang tidak kalah asrinya. Yang pasti, wisatawan yang datang ke tempat ini akan merasa damai, karena jauh dari hiruk pikuk perkotaan. (*)

Oleh Lilik Darmawan – Sinar Harapan

Potlot Adventure Selanjutnya...

Wednesday, July 28, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Celepuk Siau (Otus siaoensis) Langka Endemik Sulawesi Utara

Posted: 28 Jul 2010 06:41 AM PDT

Celepuk siau (Otus siaoensis) merupakan salah satu burung langka dan terancam punah di dunia. Burung celepuk siau adalah burung endemik yang hanya terdapat di sebuah pulau kecil bernama “Siau” di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Burung yang masuk dalam kategori … Continue reading

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Tuesday, July 27, 2010

[New post] Fidel Castro Tulis Buku

Fidel Castro Tulis Buku

dekadeku | 28 Juli 2010 pada 4:38 am | Tag: fidel castro, fidel castro tulis buku, tulis buku | Categories: Info Unik Seputar Buku | URL: http://wp.me/pGrDA-bN

HAVANA--Fidel Castro, Selasa, mengungkapkan rencana untuk menerbitkan buku pada Agustus mendatang, yang mencakup kisah-kisah dari masa kanak-kanaknya dan menjelaskan bagaimana ia menjadi seorang revolusioner.

Pemimpin Kuba itu, dalam pernyataan di laman Internet pemerintah, Cubadebate.co, mengatakan buku 25 bab tersebut akan diberi judul La Victoria Estrategica atau "Kemenangan Strategis", sebagaimana dikutip dari AFP.

Buku itu akan memusatkan perhatian pada cerita mengenai 300 petempurnya di gunung Sierra Naestra yang menang melawan pasukan pamerintah Fulgencio Batista dalam revolusi yang merebut Havana pada hari Tahun Baru 1959.

Castro, yang menyerahkan kekuasaan kepada adik laki-lakinya, Raul, pada 2006 -- ketika ia sakit, menyatakan ia telah pulih dan sedang merampungkan bagian kedua dari kisah tersebut.

Menurut dia, buku itu memberikan perspektifnya sendiri pada hidupnya setelah sejumlah biografi tidak sah.

"Saya tidak ingin menunggu untuk menanggapi semua pertanyaan mengenai masa kanak-kanak, masa remaja dan muda saya, serta bagaimana saya menjadi seorang revolusioner dan pejuang bersenjata," katanya dalam kata pengantar akan kejanya itu.

Kesehatan Castro tampaknya telah membaik setelah periode pengasingan diri dan sakit yang lama. Dan ia makin sering terlihat publik dengan tujuh penampilan di depan umum dalam tiga pekan terakhir.

Castro, yang akan berusia 64 tahun pada Agustus, masih tokoh penting di Kuba dan memegang jabatan sekretaris pertama partai komunis yang berpengaruh. Buku baru itu ditulis melalui kerja sama dengan wartawan Kuba, Katiuska Blanoo, yang juga adalah pengarang satu-satunya biografi Castro yang telah dipublikasikan di Kuba.

(antaranews.com)

Komentari tulisan ini


Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser: http://subscribe.wordpress.com

[New post] Fidel Castro Tulis Buku Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Wisata Sembari “Ngalap” Berkah

Posted: 27 Jul 2010 05:06 AM PDT

YOGYAKARTAAlkid. Demikian anak-anak muda di Kota Yogyakarta menyebut nama alun-alun kidul (alun-alun yang terletak di sebelah selatan). Alkid terletak di kompleks Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Kawasan yang terletak di sebelah barat Tamansari ini setiap malam selalu ramai dikunjungi orang. Apalagi jika malam Minggu tiba, sejak pukul 19.00, alun-alun kidul ini sudah dipenuhi oleh anak-anak muda untuk ngeceng atau malah berasyik masyuk dengan sang pacar sembari lesehan dan menikmati hangatnya wedang ronde, roti, jagung bakar, dan pisang bakar.
Alkid memang punya daya tarik tersendiri. Di kawasan ini terdapat dua pohon beringin yang jarak antara satu beringin dengan lainnya sekitar 7 meter. Dua pohon beringin terletak berada di tengah persis. Karena pohon ringin dipagari, kemudian disebut sebagai ringin kurung. Ringin kurung adalah satu tanda kultural yang dikenal oleh publik.
Alkid dulunya sebagai tempat latihan baris berbaris bagi prajurit keraton, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat itu juga sebagai ajang sowan abdi dalem wedana prajurit berserta anak buahnya, di malam bulan Puasa tanggal 23, 25, 27 dan 29. Namun sejak Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII bertahta, pisowanan ini dihentikan.
Tak hanya itu, di zaman Sri Sultan HB VII, tiap Senin dan Kamis digelar lomba panahan dari jam 10.00-13.00. Target bidik berada di utara ringin kurung. Pernah pula Alkid juga dipakai untuk adu harimau lawan kerbau.
Seiring dengan perkembangan zaman, dan entah kapan mulainya, muncul sebuah kepercayaan, barang siapa bisa berjalan dengan mata tertutup dan berhasil melewati jalan di tengah di antara dua ringin kurung itu, akan mendapat berkah. Prosesi ini dinamai Masangin, yang berarti masuk antara pohon beringin.
Meski jalannya sangat lebar, namun hanya segelintir orang yang berhasil melewati lorong selebar tujuh meter itu dengan mata ditutup. Selebihnya, nyasar tak karu-karuan. Leo Kristi, penyanyi asal Surabaya yang sering membawakan lagu-lagu Balada, juga pernah mencoba. Dia gagal, meski dilakukan di siang hari.
Bagi yang tak ingin berjalan cukup jauh, juga bisa melakukan Masangin dengan cara berjalan dari ringin kurung yang satu ke ringin kurung yang satunya lagi. Tentu dengan mata tertutup pula. Dalam prosesi yang satu ini, kedua tangan yang menjulur ke muka harus bisa masuk dalam lubang tembok yang menjadi pagar pohon beringin ini. Namun tak jarang pula orang yang melakukan prosesi ini tak hanya memasukkan tangannya, tapi juga kepalanya.
Konon, menurut yang percaya, hanya pengunjung yang berhati bersih yang bisa menembusnya. Untuk melakukan prosesi Masangin ini, para pengunjung bisa menyewa sebuah tutup mata seharga Rp 2.000. "Jika berhasil, maka orang itu akan tercapai apa yang diminta," ujar Andri, salah satu guide yang nongkrong di Alkid.
Andri juga mengingatkan, dalam melakukan itu tidak boleh dibimbing oleh siapapun. Artinya, setelah orang itu ditutup matanya dengan seikat kain, maka orang itu harus dibiarkan berjalan sendiri. "Ya kalau didampingi dan pendampingnya memberikan petunjuk, ya sama saja bohong," tuturnya.

Tempat Nongkrong
Banyak orang yang mencoba melakukan Masangin ini. Tak kurang dari 50 orang setiap malamnya mencoba ber-Masangin. Tak hanya sebatas warga Yogya, tapi juga wisatawan domestik yang kebetulan datang ke Yogyakarta. Sujono, warga Lampung, misalnya. Ayah dari tiga anak ini tengah mengunjungi anaknya yang kuliah di Yogyakarta, dan merasa penasaran untuk mencoba ber-Masangin. "Saya memang nggak percaya tentang tahayul itu. Tapi saya ingin mencoba, masak jalan selebar itu orang tak bisa melewatinya," ungkap Sujono.
Pada Kamis (4/8) malam lalu, Sujono mencoba Masangin. Ia mencoba dua kali. Yang pertama, ia hanya sampai di pertengahan. Yang kedua, dia berhasil melewati dua buah ringin kurung itu, meski dibimbing pendamping. "Saya berhasil. Saya melakukan ini lebih karena untuk refreshing bersama keluarga saja," tuturnya sembari tertawa.
Rekreasi, refresing. Itulah alasan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang melakukan Masangin. Sebagaimana yang dilakukan Sujono, hal ini juga dilakukan oleh keluarga Sonia. "Hitung-htung refreshing setelah penat bekerja. Ya syukur-syukur bisa ngalap berkah, apalagi ini malam Jumat," tutur Ibu Sonia yang didampingi oleh suami serta kedua anaknya itu.
Alkid memang menjadi fenomena tersendiri di pusat Kota Yogyakarta. Setiap malam, kawasan ini sangat ramai dikunjungi orang. Karenanya, jika Anda datang ke Yogyakarta dan kebetulan tertarik untuk mencoba Masangin tak ada salahnya berkunjung ke Alkid. Siapa tahu Anda bisa ngalap berkah atau hanya sekadar nongkrong, nyari pacar sembari menikmati makanan dan minuman yang dijual di sekeliling Alkid.
Hanya saja, siapkan banyak uang receh, mengingat banyaknya pengamen yang datang-pergi. "Saya sampai kasihan pada pengunjung, karena selalu merogoh kantong untuk memberi pengamen," ungkap ibu penjual minuman ronde dan pisang bakar. (*)

Sumber: Sinar Harapan

Potlot Adventure Selanjutnya...