Monday, April 5, 2010

[New post] Gitaris 'The Rolling Stones', Keith Richard, Ternyata Kutu Buku

Gitaris 'The Rolling Stones', Keith Richard, Ternyata Kutu Buku

dekadeku | 5 April 2010 pada 1:24 pm | Tag: Gitaris Rolling Stones, Kutu Buku | Categories: Info Unik Seputar Buku | URL: http://wp.me/pGrDA-a3

JAKARTA--Jika ingin mencari tahu segala sesuatu tentang gaya hidup seenaknya, gitaris grup 'The Rolling Stones' pastilah jadi narasumber utama. Namun, kali ini penggemarnya akan kecewa jika berharap otobiografi baru Richard akan bercerita tentan seks, obat-obatan, dan rock 'n roll.

Sang gitaris itu membuat pengakuan yang mencengangkan; Dia seorang kutu buku yang bangga dengan pembangunan perpustakaan pribadi di rumah di Susex dan Connecticut.

Sumber dari dunia penerbitan yang tahu isi memoar Richard, mengatakan, sang gitaris pernah mempertimbangkan untuk mengikuti pelatihan mengatur koleksi bukunya yang jumlahnya banyak.

Pria berusia 66 tahun itu disebut-sebut bersusah payah mengatur salinan buku-buku langka mengenai sejarah awal rock Amerika dan Perang Dunia II menggunakan sistem klasifikasi standar perpustakaan Dewey Decimal.

Richard tampaknya menyerah karena terlalu banyak kesulitan. Tapi, ia masih menunjukkan rasa bangga dengan memajang buku favoritnya di samping tempat tidur tamu yang mengunjunginya di Redlands, rumah pertanian bergaya Elizabeth di Sussex barat dan satu rumah lain di Weston Connecticut.

Menurut The Times, Senin (5/4), Richard juga meminjamkan seri Bernard Cornwell dan novel Len Dieghton kepada para temannya.

Dalam otobiografinya, yang diedarkan bulan Oktober nnati, Richard akan membahas tentang tumbuhnya rasa cinta membaca sewaktu tinggal di pinggiran kota London setelah Perang Dunia II berlangsung dan sebelum dia mengenal musik.

Belum diketahui bagaimana harapan para penggemar tentang otobiografi dari orang menghabiskan lima dekade berpindah-pindah tur dengan salah satu band paling hedonis dalam sejarah musik itu.

Richard dilaporkan menerima uang muka 4.8 juta poundsterling dari penerbit Little Brown. Penerbit berharap otobiografi itu akan memaparkan masa-masa kelam Richard termasuk keterlibatannya pada narkotika dan insiden saat dia menjalani operasi otak setelah jatuh dari pohon kelapa.

(antaranews.com)

Komentari tulisan ini


[New post] Gitaris 'The Rolling Stones', Keith Richard, Ternyata Kutu Buku Selanjutnya...

[New post] 'Emak Ingin Naik Haji' Dominasi Nominasi Festival Film Bandung

'Emak Ingin Naik Haji' Dominasi Nominasi Festival Film Bandung

BANDUNG--Film "Emak Ingin Naik Haji" produksi Mizan Production & Smaradhana Pro mendominasi nominasi Festival Film Bandung dengan menempatkan sembilan nominator dari dua belas kategori nominasi terpuji yang dibacakan di kampus Unpad, Bandung, Kamis (1/4).

"Emak Ingin Naik Haji" menempatkan kategori nominator film terpuji, serta menempatkan Reza Rahadian sebagai nominator pemeran utama pria terpuji, Ati Kanser sebagai nominator pemeran utama wanita terpuji, dan Aditya Gumay sebagai nominator sutradara terpuji.

Selain itu film ini juga menempatkan Aditya Gumay dan Adenin Adlan sebagai nominator penulis skenario terpuji, Cesa David Lukmansyah dan Dhimas Adiputra sebagai nominator editor terpuji, Gunung Nusa Pelita sebagai nominator penata kamera terpuji, Herlim Lanang sebagai nominator penata artistik terpuji, dan nominator poster terpuji.

Film "Sang Pemimpi" membuntuti dengan menempatkan tujuh nominator dari daftar nominasi terpuji Festival Film Bandung ini yaitu, nominator film terpuji, Azwir Fitrianto sebagai nominator pemeran pembantu pria terpuji, Rieke Dyah Pitaloka sebagai nominator pemeran pembantu wanita terpuji, dan Riri Riza sebagai nominator sutradara terpuji.

Selain itu, "Sang Pemimpi" juga menempatkan Gusnar Nimpuno sebagai nominator penata kamera terpuji, Eros Efhin sebagai nominator penata artistik terpuji, dan Said Effendi sebagai nominator penata musik terpuji.
Menurut data dari FFB, nominator untuk film terpuji yaitu King, Ketika Cinta Bertasbih 1, Emak Ingin Naik Haji, Sang Pemimpi, dan Jamila dan Sang Presiden.

Sedangkan nominator untuk sutradara terbaik yaitu Ari Sihasale (King), Chaerul Umam (Ketika Cinta Bertasbih 1), Aditya Gumay (Emak Ingin Naik Haji), Riri Riza (Sang Pemimpi), dan Sujiwo Tejo (Bahwa Cinta Itu Ada). Selain itu, untuk kategori pemeran utama pria terpuji yaitu Doni Alamsyah (Merah Putih), Ringgo Agus Rahman (Janda Kembang), Reza Rahadian (Emak Ingin Naik Haji), Aryo Wahab (King), dan Vino G Bastian (Serigala Terakhir). Sedangkan nominator untuk kategori pemeran utama wanita terpuji yaitu Fanny Fabriana (Hari Untuk Amanda), Atiqa Hasiholan (Jamila dan Sang Presiden), Shareefa Daanish (Rumah Dara), Ati Kanser (Emak Ingin Naik Haji), dan Olivia Lubis Jensen (Bukan Cinta Biasa).

Menurut data dari FFB, total judul film yang dinilai pada Festival Film Bandung 2010 berjumlah 79 film nasional, 100 film impor, dan 342 sinetron. Para nominator itu akan dinilai oleh 21 juri, di antaranya Sutarjo, Yacob Sumarjo,Saini KM, Eddy D Iskandar,Ratna Juwita, Rosid G Abi,Yus R Ismail, dan Arditia Danu Subroto.

Pembacaan para terpuji itu akan dilakukan pada malam puncak Festival Film Bandung pada 23 April. FFB mengadakan Festival Film Bandung untuk merayakan ulang tahun Kota Bandung setiap tanggal 1 April. "Sedangkan malam puncak sengaja diadakan tanggal 23 April karena saat ini FFB berusia 23 tahun," kata Ketua Festival Film Bandung, Edison Nainggolan.

(www.antaranews.com)

Komentari tulisan ini


[New post] 'Emak Ingin Naik Haji' Dominasi Nominasi Festival Film Bandung Selanjutnya...

Sunday, April 4, 2010

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Perang Suku Dayak Laluhan

Posted: 04 Apr 2010 12:33 AM PDT

Sebuah upacara adat suku dayak yang bertemakan peperangan, bernama laluhan, minggu kemarin digelar di perairan Sungai Kapuas,Kalimantan Tengah. Sejumalh warga dan wisatawan antusias mengikuti upacara langka yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Inilah suasana pelaksanaan upacara adat bertemakan peperangan suku dayak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah yang disebut Laluhan.

Puluhan perahu yang digambarkan sebagai orang pendatang, tampak berupaya menyerang suku dayak di Kapuas yang berjuang untuk mempertahankan kampung halaman mereka disepanjang tepian sungai Kapuas.

Mereka saling serang dengan menggunakan senjata dari pohon bamban yang digambarkan sebagai tombak dan panah, serta senapan air yang digambarkan sebagai bedil tempo dulu.

Acara laluhan ini sudah menjadi agenda wisata dan akan digelar setiap tahun saat pelaksanaan memperingati HUT Kabupaten Kapuas.

Sumber: Indosiar.com

Mayat “Hidup” di Science Centre Singapura

Posted: 04 Apr 2010 12:28 AM PDT

Berwisata pada sebuah ruang pameran ilmiah mungkin bukan sesuatu yang mengasyikkan. Apalagi jika mereka bukan orang yang menggeluti bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi konsepsi seperti itu tak bisa kita terapkan untuk sebuah pameran langka dan kontroversial di Science Centre Singapura. Ruang pameran ilmiah itu begitu mengasyikkan.

Lihat saja, pameran yang digelar sejak 23 Oktober 2009 dan akan berakhir pada 6 Maret tahun depan itu mampu menyedot ratusan ribu pengunjung dikarenakan keunikan dan keberanian sang pemrakarsa. Penulis yang diundang Singapore Tourism Board (STB) -sebuah agensi pengembangan ekonomi di bidang pariwisata- selama tiga hari di Singapura, 13-15 November 2009, mendapat kesempatan menyaksikan pameran spektakuler bertajuk ''Body Worlds: The Original and The Cycle of Life'' tersebut serta mengunjungi sejumlah tempat wisata yang diharapkan akan menyedot banyak pengunjung dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2010. Singapura adalah situs kedua pameran ini setelah dunia premier di London.

Berdalih demi kajian ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, tubuh-tubuh orang yang telah meninggal dipajang di dalam etalase. Semuanya dipamerkan dalam kondisi kulit sudah dilepas dari raga mereka, sehingga yang terlihat hanya daging, tulang, otot, atau organ dalam vital lainnya.

Sebelumnya tubuh-tubuh itu telah diawetkan dengan metode plastination -suatu proses untuk memelihara tubuh manusia dengan polimer reaktif untuk penelitian medis. Proses ini akan menghentikan dekomposisi dan memelihara tubuh setelah mati.

Semua bahan untuk pameran itu berasal dari Institut Tubuh Plasti­na­ti­on. Mereka yang sebagian tubuh atau keseluruhan tubuhnya dijadikan ba­han kajian ilmiah adalah para pendo­nor mati maupun hidup. Pendonor ha­rus memberikan izin sebelum tu­buh mereka digunakan.

Uniknya tubuh-tubuh tak ber­nya­wa ini tetap dikesankan hidup dalam berbagai aktivitas yang betul-betul ekspresif. Ada yang dibuat tengah bermain basket, bermain catur, melukis, berjalan, menunggang kuda, menunggang kereta ditarik dua rusa kutub, menari, merokok, memeragakan gerakan senam cincin, dan sebagainya.

''Ini manusia beneran, lho,'' bisik Basir, pemandu wisata dari STB kepada penulis yang tengah mengamati detail mayat ''hidup'' sedang bermain bola basket di dalam sebuah etalase kaca.

Tubuhnya sudah tak tertutup lagi oleh kulit. Terlihat jelas tulang terbungkus daging dengan serat besar-besar dan otot-otot di beberapa bagian tubuhnya. Tempurung kepala bagian depan terbuka, sehingga terlihat otak depannya.

''Pemeragaan'' itu terlihat begitu ekspresif. Tangan kanan memegang bola basket dalam posisi siap mendribel, dengan kaki kanan terangkat seakan siap berlari. Tubuhnya sedikit miring ke depan dengan tumpuan kaki kiri. Sorot mata tajam dan mulut membuka seakan berteriak pada rekan sesama timnya untuk mencari posisi agar bisa menerima umpan darinya. Sementara tangan kiri dibentangkan menyerong ke depan seolah sedang menghalangi lawan main yang hendak merebut bola dari sisi kirinya.

Dalam etalase kaca lain, ada juga tubuh dalam posisi duduk di depan papan catur. Tempurung kepala bagian atas terbuka, sehingga tampak sekali keseluruhan otaknya. Mimiknya serius mengamati bidak catur yang tertata di papan bujur sangkar dari kayu.

Di sudut lainnya, ada tubuh mati dengan jari tangan kiri memegang sebatang rokok, sedangkan tangan kanannya berkacak pinggang. Separo tubuh bagian kanan masih tertutup daging, sedangkan yang kiri terlihat organ dalam vitalnya antara lain usus, hati, tulang iga, dan paru-paru. Organ terakhir ini tampak hitam, memperlihatkan kerusakan akibat racun yang terkandung dalam rokok.

Tak hanya tubuh-tubuh manusia yang dipertontonkan. Sesuai dengan temanya, pameran yang mematok tarif 12 dolar Singapura (anak-anak 3-16 tahun) dan 20 dolar Singapura (dewasa) untuk tiket sekali masuk ini juga memperlihatkan sebuah siklus kehidupan manusia.

Esensi dari perkembangan dan penuaan manusia secara indah ditangkap dengan bantuan embrio mulai usia dua minggu dan janin yang telah diplastinasi. Pameran juga memperlihatkan bagaimana tubuh manusia berubah karena usia dan penyakit.

Terang saja, mayat ''hidup'' itu mampu menyedot perhatian pengunjung mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, pelajar hingga anak-anak. Sesekali mereka mengamati detail tubuh-tubuh yang telah diambil kulitnya itu.

Tak ingin menyia-nyiakan, mereka juga mengabadikan objek langka itu dengan kamera foto ataupun handycam. Beberapa di antaranya bahkan berpose di dekat mayat-mayat itu.

Dr Chew Tuan Chiong, chief executive Science Centre Singapura memperkirakan, pameran ini benar-benar akan menjadi perjalanan penemuan bagi banyak orang, apa pun keyakinan awal dan persepsinya.

''Jadi selain bisa memberikan gambaran tentang tubuh manusia dan anatomi, juga memungkinkan orang memahami sepenuhnya apa yang mereka khawatirkan tentang kematian, penyakit, atau bahkan khawatir tentang hal-hal lain seperti takhayul,'' kata Dr Chew.

Lantas siapa sebenarnya penggagas ''Body Worlds'' itu? Dia adalah Dr Gunther von Hagens. Ahli anatomi dan pencipta plastination itu lahir pada 1945 di Alt-Skalden, Posen, Polandia—kemudian menjadi bagian dari Jerman.

Pada 1965, Gunther masuk sekolah kedokteran di Universitas Jena, sebelah selatan Leipzig. Metodenya yang ortodoks dan kepribadiannya yang flamboyan cukup terkenal untuk dicatat pada laporan akademis universitas.

Tahun 1970, Gunther mendaftar di Universitas Lubeck, menyelesaikan penelitian kedokterannya. Pada kelulusan tahun 1973, dia mengambil tempat tinggal di rumah sakit di Heligoland. Satu tahun kemudian, setelah mendapatkan gelar dokternya, dia bergabung di Departemen Anestesiologi dan Kedokteran Gawat Darurat di Universitas Heidelberg.

Menikah dengan Dr Cornelia von Hagens, bekas teman sekelasnya, pada Juni 1975, Gunther kemudian menggunakan nama terakhir istrinya. Pasangan ini dikaruniai tiga anak, Rurik, Bera, dan Tona.

Pada 1977, dia menemukan plastination, teknologi terobosan untuk memelihara spesimen anatomis dengan menggunakan polimer reaktif. Dia mematenkan metode tersebut dan selama enam tahun ke depan, menghabiskan seluruh energinya untuk memperbaiki temuannya.

Selama kurun waktu itu, von Hagens memulai perusahaannya sendiri, Biodur Products, untuk mendistribusikan polimer khusus, peralatan, dan teknologi yang digunakan untuk plastination bagi institusi medis di seluruh dunia. Belakangan ini, lebih dari 400 institusi di 40 negara di seluruh dunia menggunakan penemuan Gunther untuk memelihara/mengawetkan spesimen anatomis.

Pada 1983, tokoh-tokoh Gereja Katolik meminta von Hagens memplastinasi tulang tumit St Hildegard dari Bingen (1090-1179), seorang mistis yang riang, ahli agama, dan penulis yang dipuja-puja di Jerman.

Tahun 1992, von Hagens menikahi Dr Angelina Whalley, seorang dokter yang bekerja sebagai manajer bisnis seperti halnya juga perancang pameran Body Worlds. Satu tahun kemudian dia mendirikan Institut Tubuh Plastination yang berbasis di Heidelberg.

Institut ini menawarkan spesimen yang telah diplastinasi untuk pendidikan dan Body Worlds, yang kali pertama dilangsungkan di Jepang pada 1995. Sampai sekarang, pameran tersebut telah ditonton oleh lebih dari 28 juta orang, di 50 kota seluruh Eropa, Asia, dan Amerika Utara.

''Tubuh manusia adalah sifat terakhir yang tersisa dalam lingkungan yang dibuat manusia,'' kata von Hagens dalam siaran persnya.
Dia berharap pameran ini bisa memberikan penerangan dan perenungan, bahkan filosofi dan pengakuan religius diri sendiri, serta terbuka pada interpretasi tanpa memperhatikan latar belakang dan filosofi kehidupan dari orang yang melihatnya.

Dari Orchard ke Merlion

Orchard Road tetaplah menjadi daya tarik tersendiri bagi Singapura, selain Merlion di tepi Sungai Singapura. Men­jelang Natal, Orchard didesain begitu gemerlap. Lampu hias, pohon Natal raksasa, pesta, dan berbagai festival menghiasi kawasan yang tak pernah redup oleh waktu itu. Orang-orang yang berbelanja dan sekadar jalan-jalan di kawasan itu juga diharapkan akan terpesona dengan efek-efek khusus perayaan yang dikemas dalam "Christmas in the Tropic 2009" sejak 7 November 2009 sampai 3 Januari 2010 tersebut.

Bagi kaum shopaholic telah disiapkan pusat belanja terbaru di sepanjang Jalan Orchard, yakni ION Orchard dan Orchard Central, serta 313@Somerset dan Mandarin Gallery. Mal-mal yang menawarkan produk-produk merek terlengkap dari dalam maupun luar negeri itu dirancang dengan konsep unik.

Misalnya Orchard Central yang dikembangkan dengan dana 700 juta dolar Singapura dari Far East Organization. Dihadapkan pada eksterior ikonik yang menonjolkan membran seni digital mencolok dari seniman lokal Matthew Ngui, mal ini memberikan konsep kluster unik. Ba­ngun­an­nya dibuat transparan, sehingga dari luar bisa melihat yang di dalam, begitu juga sebaliknya.

Kemeriahan Orchard tak berhenti sampai di mal-mal yang akan menjadi "surga" belanja. Pengunjung kawasan itu juga dimanjakan berkeliling Orchard dengan Hippo Bus—sebuah bus tingkat tanpa atap di bagian atasnya, dipandu oleh seorang guide.

"Perayaan Natal pertama kami di Orchard Central akan menghabiskan 1,5 juta dolar Singapura untuk membawakan aksi-aksi hiburan eksklusif, seperti Cirque de la Ville dari Rusia, menghiasi mal, dan kampanye iklan kami," kata Kelvin Ling, kepala Petugas Pelaksana Bisnis Retail Far East Organization. Dia menambahkan, pi­haknya telah menghabiskan 4,8 juta dolar Singapura untuk mengembangkan penerangan umum di bagian depan mal.

Dibandingkan dengan perayaan sebelumnya, durasi light up tahun ini memang sedikit lebih panjang karena terkait dengan digelarnya KTT APEC, untuk memberikan kesempatan bagi delegasi yang datang di Negri Singa tersebut menikmati suasana Natal.

"Natal in the Tropic adalah acara utama kalender pariwisata Singapura," ujar Andrew Phua, direktur Tourism Shopping and Dinning, Singapore Tourism Board (STB).Akhir tahun lalu, lebih dari enam juta orang mengunjungi Orchard Road dan Marina Bay selama Natal.

Di luar itu, keramaian bukan hanya monopoli Orchard Road. Sungai Singapura dengan kehidupan malamnya juga memikat. Puluhan restoran yang banyak menawarkan sea food di pinggir sungai tersebut selalu dipadati para pecinta kuli­ner. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan bule.

Sementara bagi yang ingin menikmati wisata air, telah disiapkan kapal-kapal kayu. Baik siang maupun malam, kapal-kapal itu siap mengantarkan wisatawan menyusuri sungai sambil menikmati keindahan bangunan yang ada di kedua sisi sungai. Termasuk menyaksikan Merlion, ikon Singapura yang berada di salah satu bantaran sungai tersebut, yang terus dikunjungi wisatawan baik siang maupun malam.

"Dulunya sekitar Sungai Singapura merupakan ka­wasan perniagaan. Namun kini telah menjelma menjadi rumah makan, bar dan klub malam," ujar Mo­hamed Yusoff Mahmood, pemandu wisata dari STB.

Sumber: Suara Merdeka

Tradisi Suwukan

Posted: 04 Apr 2010 12:24 AM PDT

Sekitar 600 anak anak berusia antara 1 – 7 tahun ini, tampak antusias mengikuti acara Suwukan, yang digelar di komplek Pondok Pesantren Nairul Ulla, Ploso Kuning, Mino Martani, Sleman, Yogyakarta.

Satu persatu anak anak ini dicium keningnya sambil dibacakan doa doa khusus dan bacaan shalawat, oleh Habib Syeh bin Abdul Qodir Assegaf, seorang ulama kharismatik asal Solo, GBPH Joyo Hadikusumo, saudara Sri Sultan Hamengkubuwono ke X dan Kyai Haji Ali As'sad selaku pengasuh pondok pesantren Nairul Ulla.

Suwukan merupakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu kala. Konon Nabi Muhammad pernah menyuwuk sahabatnya bernama Ibnu Abbas ketika masih kecil. Suwukan adalah doa khusus bagi anak anak agar kelak bisa menjadi generasi yang berbudi dan pekerti luhur dan berbakti kepada orang tua.

Suwukan ini diselenggarakan satu dan lain hal untuk turut memberikan solusi terhadap keprihatinan para orang tua dalam mewujudkan harapan terhadap anaknya kelak di kemudian hari. Serta untuk memberikan ketahanan iman agar anak anak tidak termakan terpengaruh negative yang saat ini semakin mengkhawatirkan semua pihak.

Sumber: Indosiar.com

Potlot Adventure Selanjutnya...

Anang's Blog

Anang's Blog


Hari Lahir

Posted: 03 Apr 2010 10:09 AM PDT


April.. Empat... Telah datang...

Kupandang lembut cahaya indah itu
Saat malam semakin larut..
Larut dalam momen bergantinya hari
Menunggu saat berkurangnya usia

Cahayanya memberikan terang
Menyinari sebaris goresan kata
Terpahat pada tart yang nikmat dan lezat
Happy Birthday ia terbaca..

Meleleh dalam hangat cahayanya..
Bentuknya yang semula indah perlahan terkoyak..
Namun, teduh cahaya itu seakan tak mau padam..
Ingin selalu ada demi sebuah pesta kehidupan..

Sayang begitu ia sampai di ujung masa
Fuuuh.... Padam seketika sorot cahaya lilin itu...
Terkulai lemah tanpa daya..
Hanya asap dan aroma yang terasa..

Mengurai selaksa makna..
Akankah menghamba pada nyawa yang bisa sirna...


Happy Birthday to me!

Anang's Blog Selanjutnya...

Saturday, April 3, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Sawo Kecik, Pohon Sarwo Becik Tapi Langka

Posted: 03 Apr 2010 04:42 AM PDT

Sawo Kecik (Manilkara kauki) sering disebut juga Sawo Jawa merupakan tanaman (pohon) penghasil buah dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang kini mulai langka dan jarang ditemukan di Indonesia. Sawo Kecik yang menurut filosofi jawa sering diidentikkan dengan 'sarwo becik' (serba baik). Di Yogyakarta kadang dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton. Tanaman penghasil [...]

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Thursday, April 1, 2010

Alamendah's Blog

Alamendah's Blog


Owa Jawa Kera Genit yang Nyaris Punah

Posted: 01 Apr 2010 10:02 AM PDT

Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan spesies kera kecil tanpa ekor dengan rambut berwarna abu-abu dan memiliki nyanyian yang indah. Bulu Owa Jawa, bodi tubuhnya yang kecil langsing dan paling seksi dibanding jenis kera lainnya serta gerakannya yang gesit membuat Owa Jawa terlihat genit. Sayangnya, Owa Jawa termasuk hewan yang mulai langka dan nyaris punah sehingga [...]

Alamendah's Blog Selanjutnya...

Potlot Adventure

Potlot Adventure


Panorama Elok Pasir Putih

Posted: 31 Mar 2010 07:51 PM PDT

Alam nan memikat didukung lokasi yang relatif mudah dijangkau, membuat pantai pasir putih menjadi obyek wisata andalan di Lampung.

Tak salah, jika menyematkan Lampung sebagai surga wisata pantai. Provinsi paling Selatan di Pulau Sumatera ini, memiliki banyak obyek wisata pantai berikut pesona alam yang menakjubkan dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai obyek wisata unggulan bertaraf internasional.

Provinsi berjuluk Sang Bumi Ruai Jurai ini, masih menyimpan pantai-pantai yang terjaga keasriannya. Pantai Pasir Putih, salah satunya. Hijau kebiruan air laut di pantai ini menyatu harmonis dengan halusnya pasir pantai, membentuk sebuah lukisan alam yang memikat.

Pantai Pasir Putih ini berlokasi di Desa Tarahan, Lampung Selatan. Hanya berjarak sekitar 22 kilometer dari Kota Bandar Lampung, atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit. Jalan beraspal yang halus akan menuntun Anda menuju lokasi pantai.

Pemandangan alam yang mempesona akan langsung menyambut ketika memasuki kawasan pantai ini. Pesona alam pantai yang memukau ini pula yang membuat Pasir Putih tak pernah sepi pengunjung.

Di akhir pekan atau pada hari-hari libur, tawa riang bocah-bocah yang bermain akan semakin terasa. Tak hanya dari Lampung, wisatawan yang datang banyak pula dari luar kota seperti Jakarta. bahkan beberapa wisatawan mancanegara pun sering terlihat di sini.

Dengan bentangan pantai yang begitu luas, membuat pengunjung bisa tetap nyaman menikmati suasana meski sedang ramai pengunjung. Selain landai dan dangkal, di pantai ini tak banyak terdapat karang, sehingga yang ingin berenang dan bermain air tak perlu khawatir menginjak karang tajam yang bisa melukai kaki. Kegitan lain yang dilakukan pengunjung adalah berseluncur dengan menyewa kano.

Saat air surut, garis pantai akan semakin luas menjorok ke laut, kondisi ini terjadi menjelang sore hari. Bagi para pencinta fotografi, Pasir Putih akan menjadi surga hunting foto yang luar biasa. Langkah tenang matahari pulang ke ufuk Barat menjadi saat yang sangat ditunggu untuk dinikmati dan diabadikan. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Aktivitas wisata yang juga tak kalah menarik dilakukan adalah berkeliling pantai dengan menyewa perahu. Selain itu, wisatawan pun bisa mengunjungi Pulau Condong dan Pulau Bule yang terletak tak jauh dari Pantai Pasir Putih. Kedua pulau ini memiliki pantai yang indah pula, berhias pasir putih dan halus. Pemandangan di sini masih sangat alami.

Jika ingin menikmati keindahan bawah laut, Pulau Bule adalah tempatnya. Beragam jenis terumbu karang dan ikan hias tersaji di sekitar pulau ini. Penumpang perahu biasanya menikmati keindahan terumbu karang dan ikan-ikan cantik dengan menggunakan sebuah kotak dari kaca, alat tradisional yang biasanya digunakan masyarakat sekitar untuk mencari lobster dan kepiting karang.

Setelah puas nenikmati semua yang tersaji di Pantai Pasir putih dan sekitarnya, tak lengkap rasanya kembali kerumah tanpa membawa buah tangan sebagai kenang-kenangan. Anda tak perlu bingung mencari toko cendremata di sekitar pantai ini, terdapat toko-toko yang menjual ragam suvenir dengan model yang unik.

Sebagai tempat tujuan wisata, Lampung telah memiliki sarana pendukung yang sangat baik. Berbagai, tempat penginapan mulai kelas melati hingga hotel berbintang sudah banyak berdiri. Dukungan akses jalan yang baik juga akan mempermudah wisatawan mencapai lokasi. Datang dan nikmati keindahan pantai berpasir putih nan halus ini.

Sumber: Majalah Travel Club

Goresan Indah Banda Neira

Posted: 31 Mar 2010 07:14 PM PDT

Air laut jernih, halus pasir pantai putih, dan keindahan taman bawah laut menjadikan Kepulauan Banda obyek wisata lengkap.

Salah satu daya tarik pariwisata Kepulauan Banda adalah keindahan taman lautnya, yang bertebaran jauh di kedalaman. Tak salah memang jika taman taut di Kepulauan Banda menjadi magnet kuat menjadi daya pikat wisatawan, khususnya penggemar olahraga menyelam. Terumbu karang yang tersebar di kepulauan ini adalah yang terkaya di dunia. Dari 700 jenis karang di dunia, sekitar 432 jenis karang (64 persen) terdapat di Kepulauan Banda. Sungguh potensi yang menakjubkan.

Banda secara administratif masuk dalam Kabupaten Maluku Tengah. Ada tiga pulau besar dari 11 pulau yang terdapat di sini. Ketiga pulau tersebut adalah Pulau Neira, Pulau Banda Besar, dan Pulau Gunung Api. Tujuh pulau sisanya merupakan pulau-pulau kecil, yang memiliki pantai indah dan berpasir halus.

Setidaknya terdapat sekitar 52 lokasi penyelaman di sini. Setiap titik penyelaman memiliki keindahan dan kekayaan biota laut yang tidak terdapat di tempat lain. Beberapa referensi menyarankan, jika ingin menyelam di kepulauan ini waktu yang tepat adalah pada Maret-April atau September-Oktober, saat ombak dan angin laut bersahabat.

Sonegat Arm, merupakan salah satu dive site terdekat dari Kota Banda Neira. Kawasan ini terletak antara Pulau Neira dan Pulau Gunung Api. Ikan-ikan penghuni lokasi ini antara lain emperor angelfish dan blue girdled. Selain itu Keraka Island, pulau ini pun memiliki pantai yang menakjubkan. Di lokasi ini terdapat large blue dan yellow tunicates yang menutupi sebuah mini-wall setinggi 18 meter.

Sementara jika menyelam di lokasi Batu Belanda, selain keindahan barrel, tube sponge, beragam jenis ikan dari kelompok large emperor, blue girdled angelfish, wrasses, large pinnate batfish, akan menjadi teman yang menyenangkan.

Lokasi lain yang juga kaya jenis ikan terdapat di Pulau Hatta. Ikan-ikan cantik seperti rainbow runners, unicornfish, fusiliersm jack fish, bisa dijumpai di sini. Terdapat juga dari jenis whitetip sharks, napoleon wrasse, dan hawksbill turtles.

Di pulau yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Pulau Banda-Neira ini terdapat skaru atoll. Masih banyak lagi lokasi penyelaman yang menawarkan permadani bawah air seperti di Pulau Sjahrir, Pulau Ay, Pulau Lontar, dan Pulau Gunung Api.

Bukan hanya taman bawah air yang di miliki Banda, kepulauan yang terletak di sebelah tenggara ibukota Maluku ini memiliki daratan yang subur. Bangsa-bangsa Eropa sudah mengetahui kekayaan alam kepulauan Banda sejak abad ke-15 silam.

Keberadaan rempah-rempah yang melimpah di sini, jadi salah satu alasan utama para pelaut dari belahan dunia lain rela menerjang badai dan ombak besar menuju Kepulauan Banda. Nama Banda pun kemudian kondang sebagai tempat penghasil rempah-rempah nomor wahid di dunia.

Di abad pertengahan, Banda menjadi pusat rempah-rempah, ini membuat bangsa- bangsa Eropa rela menjaganya mati-matian agar tak jatuh ke bangsa lain.

Orang-orang Portugis menjadi bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di sini. Mereka menjadi arsitek awal pembangun kawasan Banda. Kolonial Belanda kemudian melanjutkannya dengan konsep gaya Eropa.

Jejak-jejak peninggalan para pemburu rempah-rempah itu masih bisa disaksikan hingga saat ini. Kokohnya benteng-benteng pertahanan di kepulauan ini menjadi bukti, begitu pentingnya kawasan ini di mata bangsa Eropa kala itu, saat masa Gold-Glory-Gospel.

Beberapa peninggalan masa penjajahan yang masih bisa disaksikan antara lain Benteng Nassau. Awalnya, pondasi Benteng ini dibangun orang-orang Portugis pada 1609. Sebelum rampung membangun benteng, Portugis keburu diusir Belanda. Pembangunan benteng ini pun dilanjutkan Belanda pada 1617.

Satu lagi benteng yang masih terjaga baik, Benteng Belgica, namanya. Keindahan benteng yang dibangun Pieter Both ini banyak membuat wisatawan mancanegara kagum dengan bentuk arsitekturnya yang berbentuk segi lima. Selain kedua benteng itu, terdapat ada pula benteng Hollandia di Pulau Lontar dan Benteng Revenge yang berlokasi di Pulau Ay.

Bangunan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Istana Mini. Pada masa lalu, Bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal para petinggi VOC dan NHM. Didirikan pada 1622, Istana Mini berfungsi sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah.

Banda masih memiliki rumah-rumah bekas peninggalan zaman penjajahan. Salah satunya, bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai Kantor Polisi Sektor Pulau-Pulau Banda. Kondisi bangunan ini masih terawat baik. Terdapat pula sebuah gereja tua yang dibangun Mauritz Vantzius dan Johan Wilhelm Hoeke. Masa pembangunan gereja ini dimulai 20 April 1873 hingga 23 Mei 1875.

Pada awal 1900-an, Banda Naira (kadang disebut “Neira”) pun dijadikan sebagai tempat pengasingan pejuang kemerdekaan. Tokoh-tokoh bangsa yang pernah dibuang di sini adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dr Cipto Mangunkusumo (1928), Iwa Kusumasumantri (1930), serta beberapa anggota organisasi Sjarikat Islam (SI) pernah merasakan masa getir di tempat pembuangan ini.

Rumah pengasingan para pejuang bangsa itu menjadi saksi bisu sejarah Banda Neira dan negeri ini. Beragam cerita duka dan perjuangan tersimpan apik di rumah-rumah bekas tempat pengasingan tersebut. Kini, lokasi-lokasi tersebut menjadi obyek wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Aktivitas wisata alam lain yang tak kalah menarik untuk di coba adalah mendaki Gunung Api yang berada di Pulau Gunung Api. Meski hanya memiliki ketinggian kurang dari 1.000 meter, gunung ini tetap punya daya tarik dan cukup menantang untuk ditaklukkan. Anda tertantang mencumbui di alam indah kepulauan ini?

Sumber: Majalah Travel Club

Potlot Adventure Selanjutnya...